Dark/Light Mode

Jangan Menyiram Bunga Plastik

Kamis, 13 November 2025 06:25 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam sepekan, dua kepala daerah, gubernur dan bupati, terjaring OTT KPK. Penangkapan ini seolah menggambarkan bahwa menangkap koruptor di Indonesia, “relatif mudah”. Ibarat berburu di kebun binatang. Tinggal pilih.

Seperti yang juga pernah disampaikan seorang anggota DPR bahwa “sulit mencari uang halal di DPR”, semudah itu pulalah mengendud kasus korupsi di Indonesia.

Masalahnya, pemberantasan korupsi bukan hanya soal “melakukan” tapi juga “tidak melakukan”. Bukan hanya soal “mengungkap atau membongkar”, tapi juga “tidak mengungkap”, misalnya dengan dalih “rakyat akan lupa kalau ada isu lain yang menutupinya”.

Berapa banyak kasus yang sudah jelas-jelas dipaparkan ke publik, tapi kemudian buram di ujungnya. Di sini lah titik lemahnya. Ibarat sepuluh keberhasilan bisa saja ditutup oleh satu kegagalan atau pembiaran.

Baca juga : Pahlawan Di Setiap Sudut

Perspektif publik bisa seperti itu. Akibatnya, kepercayaan publik tak bisa benar-benar dipulihkan, walau banyak kasus korupsi yang diungkap.

Karena itu, bisa dipahami kalau pemberantasan korupsi di Indonesia bisa telihat sangat luar biasa. Tapi di sisi lain, juga ada sisi lemahnya. Ada sisi hening di lorong gelap yang sepi.

Ini bisa diibaratkan kita masuk ke sebuah restoran mewah yang dapurnya transparan. Kita melihat chefnya bekerja sangat gesit mengupas lobster. Dia memotong dan menyiapkannya dengan sangat baik. Dibumbui sangat enak.

Tapi, di sudut dapur, ada seekor tuna mahal yang sudah lama dibiarkan berenang di aquarium. Ketika ditanya, “kenapa tak dimasak, padahal banyak peminatnya”, chefnya menjawab sambil tersipu malu, “sedang dimarinasi. Butuh waktu lama supaya rasanya tambah enak”. Chefnya tahu, apa yang ada di benak penanya atas jawaban tersebut. Ya, tahu sama tahu.

Baca juga : Gembok Kecil Di Pintu Gudang

Di sinilah masalahnya. Terkadang, “politik” bisa membawahi atau bahkan menggantikan “aturan”. Dari sini terbentuklah “new normal” dalam penegakan hukum.Maka, tak heran, ketika ada seorang hakim yang sangat jujur, dia dianggap naif.

Kemudian, besok lusa, ketika ada lagi pejabat yang terjaring OTT, seperti biasa: heboh lagi. Ribut lagi. Setelah itu, biasa lagi. Sampai ada kabar baru lagi mengenai OTT.

Di sinilah pentingnya penegakan hukum yang tidak hanya menampilkan “aksi panggung”. Penegakan hukum butuh keberanian melakukan hal­hal yang sulit, dilematis dan sistematis.

Penegakan hukum bukan hanya mendobrak dan membongkar tapi perhatikan juga yang tidak didobrak. Sisi yang kedua ini bobotnya bisa lebih berat. Dampaknya besar terhadap kepercayaan publik.

Baca juga : Mamdani Dan Indonesia

Karena itu, bangsa ini jangan seperti orang yang rajin menyiram kembang plastik: terlihat sibuk, tapi tak pernah benar­-benar menumbuhkan perubahan dalam penegakan hukum dan pemberantasan korupsi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.