RM.id Rakyat Merdeka - Alam tak lagi diam. Dia “berbicara” melalui banjir, lumpur dan longsor.
Tragedi Sumatera, November 2025, bukanlah amukan alam mendadak. Ini adalah akibat.
Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai spons raksasa penyerap air, menjadi lereng luncur yang licin, gundul dan mematikan.
Baca juga : “Cuci Piring” Dan Legacy
Pelakunya mungkin tidak tinggal di daerah yang terkena bencana. Bisa jadi, dia berada jauh. Entah di mana. Mungkin sedang liburan. Atau berada di luar negeri. Tapi, yang menanggung penderitaan adalah warga yang tidak bersalah. Sampai ke kota dan desa-desa yang tidak terlibat langsung dalam penggundulan hutan.
Sampai kemarin, sebanyak 174 orang tewas. Banyak yang hilang. Ribuan mengungsi. Ini bukan sekadar data. Ini tragedi. Ini cermin yang memantulkan bukti kegagalan menjaga kawasan.
Dalam jangka pendek dan sangat mendesak: selamatkan rakyat. Kerahkan semua sumber daya. Kita juga ingin melihat keterlibatan partai-partai politik.
Baca juga : Janji Yang Berakar
Setelah itu, aksi nyata. Bukan lagi sekadar wacana. Segera hentikan pemberian izin konsesi yang merusak hutan. Lakukan moratorium total terhadap penebangan di kawasan resapan air.
Reboisasi harus dilakukan secara masif, dengan pohon-pohon asli yang dapat menyerap air. Tidak ada waktu lagi untuk menunda. Bangun kembali fungsi ekologis hutan yang telah hilang.
Beberapa video yang beredar menunjukkan, banjir bandang tersebut membawa kayu-kayu besar. Ini adalah bukti bahwa penegakan hukum terhadap illegal logging masih lemah.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.