Dark/Light Mode

Janji Yang Berakar

Rabu, 26 November 2025 06:10 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Setiap musim politik, janji kembali bersemi. Dari podium hingga media sosial, dari ruang rapat hingga spanduk jalanan, kata “pembangunan” kembali menjadi mantra paling populer.Namun seperti musim yang berulang, janji-janji itu sering tumbuh tanpa akar — indah di ucapan, tapi layu di kenyataan. Politik kita menjadi taman retorika yang penuh bunga, tapi minim buah.

Dalam esainya yang legendaris The Power of the Powerless (1978), Václav Havel menulis bahwa kekuasaan sejati tidak terletak pada retorika atau simbol, melainkan pada kebenaran yang dijalani secara autentik. Ia mengingatkan bahwa masyarakat akan kehilangan arah bila hidup dalam “kebohongan yang dijustifikasi oleh slogan.” Kita, tampaknya, sedang hidup di zaman semacam itu: ketika janji politik menjadi upa cara, bukan komitmen moral.

Baca juga : Ada Apa Di Balik Kisruh?

Banyak pejabat hari ini berbicara tentang “visi besar,” namun lupa menanyakan apakah visi itu berpijak pada kenyataan rakyat. Jalan tol dibangun, tapi jalan hidup rakyat tetap berlubang. Indeks pembangunan naik, tapi daya beli stagnan. Di balik narasi kemajuan, banyak warga masih berjuang sekadar untuk bertahan. Di sinilah letak perbedaan antara visi yang berakar dan retorika yang melayang: yang pertama tumbuh dari empati, yang kedua dari ego.

Janji yang berakar lahir dari kejujuran politik — keberanian untuk tidak menjanjikan yang belum bisa ditepati, dan kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan. Havel menyebut ini se-bagai “politik hidup dalam kebenaran,” sebuah keberanian moral untuk tidak ikut dalam kebohongan kolektif. Sayangnya, politik kita lebih sering hidup dalam “kebenaran yang diatur,” dimana fakta disesuaikan dengan narasi, dan narasi dijaga demi kekuasaan.

Baca juga : "Taruhan" 6 Persen

Masyarakat sebenarnya tidak menuntut pemimpin yang sempurna, tapi yang tulus. Mereka tidak marah pada keterlambatan pembangunan, tapi pada kebohongan yang dibungkus manis. Setiap janji yang tidak ditepati bukan sekadar kegagalan teknis, melainkan pelanggaran etis — luka kecil yang menumpuk menjadi sinisme nasional.

Havel pernah berkata, “Kekuatan yang paling berbahaya adalah kekuatan tanpa moral.” Karena itu, setiap janji politik harus dipertanggungjawabkan bukan hanya di hadapan konstitusi, tapi juga di hadapan nurani. Politik yang berakar bukan yang paling indah diucapkan, tapi yang paling nyata dirasakan oleh rakyat di dapur, di sawah, di sekolah, di puskesmas.

Baca juga : Mobil Baru, Sopir Baru?

Sudah saatnya kita menagih janji bukan sebagai warga yang pasrah, tapi sebagai bangsa yang sadar. Karena janji politik bukan kontrak bisnis, melainkan ikrar kemanusiaan. Dan bangsa ini akan terus terombang­ambing selama para pemimpinnya lebih sibuk menanam kata daripada menumbuhkan makna.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.