Dark/Light Mode

“Cuci Piring” Dan Legacy

Kamis, 27 November 2025 06:42 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Kasus korupsi terus dibongkar. Angka-angkanya besar. Nyaris ribuan triliun. Tumpukan uangnya dipamerkan. Itu baik. Positif.

Namun, pengungkapan yang masif itu perlu diimbangi perbaikan sistem yang sama besar dan masifnya. Jika tidak, kita hanya menangkap ikan pemangsa, sementara kolamnya terus bocor. Ikan- ikan itu tetap berkembang biak dengan nyaman. Regenerasinya jalan terus.

Dikhawatirkan, lama-lama, yang meriah hanya atraksi menangkap ikan. Sedangkan kolamnya tetap bocor dan rapuh oleh akar yang semakin keras dan menancap.

Jalan keluarnya? Itu tadi: perbaiki sistem secara menyeluruh. Total. Itu kuncinya. Tanpa sistem yang berjalan otomatis, apa pun yang kita ungkap tidak akan optimal. Kolam akan bocor lagi dan lagi. Dan kalau ada pergantian pemain pun, polanya tetap sama.

Baca juga : Janji Yang Berakar

Saat ini misalnya, penertiban di sektor pertambangan, perizinan, pertanahan, impor–ekspor, memang masif. Sepertinya, ini yang paling aktif. Layak diapresiasi.

Namun, “cuci piring” besar-besaran ini bisa saja mengundang kekhawatiran para koruptor, tapi tidak cukup untuk membuat mereka jera. Apalagi jika masih ada beberapa piring kotor yang tertinggal di pojokan. Koruptor bisa berkata “ternyata masih bisa. Masih ada celah”.

Setelah bongkar-bongkaran kasus korupsi yang masif ini, saatnya perbaiki sumber masalahnya. Potong akarnya. Perbaiki kolamnya. Jangan biarkan ada celah lagi. Dan yang paling penting, buat sistem yang berkelanjutan.

Kalau semua upaya ini berjalan seiring, hasilnya akan optimal. Pola “perang total” terhadap korupsi ini bisa menjadi legacy tak ternilai. Legacy  yang bertahan lebih lama dari masa jabatan seorang presiden.

Baca juga : Ada Apa Di Balik Kisruh?

Legacy ini akan menjadi acuan, yang tak akan berubah meski pemimpin berganti. Sistem itu akan tetap ada. Bekerja seperti jam yang tak pernah berhenti.

Salah satu yang perlu diperhatikan adalah penguatan kelembagaan. Ini bukan hanya menambah kewenangan atau mengganti orang.

Lembaga-lembaga itu harus independen, transparan, dan bisa diawasi publik. Tak boleh tergantung pada kehendak siapa pun. Tak bisa dihentikan hanya karena ada pergantian rezim.

Jika kita terus menangkap ikan tapi tak memperbaiki kolamnya, kita hanya akan berputar dalam lingkaran yang tak berujung.

Baca juga : "Taruhan" 6 Persen

Jangan biarkan kita terjebak dalam pertunjukan yang tidak pernah menyelesaikan masalah. Sistem yang baik adalah yang bekerja tanpa harus dilihat setiap saat. Yang tak tergantung pada siapa yang memimpin. Yang berlanjut meski presiden datang dan pergi.

Itulah legacy yang sesungguhnya. Jadi, bukan sekadar prestasi. Tapi legacy. Itulah yang akan bertahan lama. Legacy sistem yang bisa menjadi game changer. Menjadi titik balik yang akan terus dikenang, semacam deklarasi kemerdekaan dari belenggu korupsi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.