RM.id Rakyat Merdeka - Sebenarnya, ini bukan data dan “warning” baru. Namun, saat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan kenyataan ini, getarannya tetap sangat terasa.
Delapan puluh persen hutan di Jawa Barat, kata Dedi, sudah rusak. Artinya, hanya tinggal 20 persen yang masih bisa disebut hutan. Sudah sangat kritis.
Ini baru di Jawa Barat. Bayangkan, belum lagi daerah lainnya. Beberapa tahun lalu, organisasi lingkungan sudah mengeluarkan peringatan keras.
Antara 2017 hingga 2021, Indonesia kehilangan hutan begitu cepat. Setiap menitnya, hilang sebanyak enam kali lapangan sepak bola. Ya, setiap menit, bukan per hari atau per bulan. Setiap menit.
Baca juga : Berdamai Dengan Alam
Melihat ancaman yang kian nyata ini, bencana yang melanda Sumatera menjadi pengingat yang luar biasa. Peringat hebat dari Alam. Maka, tidak mengherankan kalau Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar mengajak rekan-rekannya di kabinet untuk melakukan tobat nasuha.
Tobat nasuha adalah tobat tertinggi dengan menyesali setiap kesalahan, bertekad untuk tidak mengulanginya, dan mengganti setiap kesalahan dengan langkah serta kebijakan yang lebih baik. Inilah panggilan zaman yang tidak bisa ditunda.
Untuk mewujudkan hal itu, Muhaimin mengirimkan surat kepada beberapa menteri untuk segera mengevaluasi total berbagai kebijakan lingkungan.
Ini menggambarkan sisi urgensinya. Bukan lagi masalah yang bisa ditunda. Harus segera. Jangan lagi merasa bahwa (sekarang) semuanya masih baik- baik saja. Jangan.
Baca juga : “Cuci Piring” Dan Legacy
Memang, siklus politik di pusat maupun daerah berlangsung pendek: hanya lima tahunan. Tapi, “sependek” itu, jangan juga hanya memikirkan kebijakan jangka pendek yang cuma “berdampak” dalam hitungan masa jabatan mereka.
Inilah saatnya bangsa ini melihat lebih jauh. Lebih serius. Misalnya, dengan memasukkan indikator lingkungan dan keberlanjutan sebagai bagian dari penilaian kinerja pejabat publik.
Karena, mereka tidak hanya bertanggung jawab atas pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan agenda politik jangka pendek, tetapi juga atas kualitas lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Jika para pemimpin benar-benar ingin menjawab panggilan zaman, tobat nasuha tak boleh berhenti pada kata- kata. Harus terwujud dalam keberanian politik yang nyata. Keberanian untuk memperbaiki tata kelola lingkungan, dari akar hingga pucuk.
Baca juga : Janji Yang Berakar
Selain itu, juga butuh keberanian untuk menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Dan yang tak kalah penting, menempatkan lingkungan hidup serta keberlanjutan sebagai fondasi utama setiap kebijakan.
Jika bangsa ini tidak bertindak sekarang, masa depan yang diwariskan bukan lagi harapan, tetapi kehancuran yang tak terhindarkan dan sangat menyedihkan.
Bahkan beberapa tokoh dan ilmuan, seperti Stephen Hawking atau Al Gore, memprediksi, kalau tidak ada tindakan serius, ada potensi peradaban manusia akan binasa atau punah. Seperti kepunahan Dinosaurus.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.