RM.id Rakyat Merdeka - Sanksi ekonomi selama 11 tahun tak mempan. AS akhirnya mengambil jalan pintas: menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya. Tak perlu lama. Hanya butuh dua jam 20 menit. Sangat cepat. Minim biaya. Ringkas.
Aksi ini seperti hostile takeover, pengambilalihan paksa sebuah “perusahaan” bernama Venezuela yang dianggap sedang bermasalah.
Selama ini, Amerika Serikat terjebak dalam labirin nation-building. Di Afghanistan misalnya, AS berperang selama hampir 20 tahun. Habis triliunan Dolar untuk mengajari rakyatnya “berdemokrasi”.
Sekarang, Amerika Serikat, terutama Presiden Trump, tidak ingin lagi mengubah satu negara dari dalam. Biayanya mahal. Waktunya lama. Cukup dengan serangan kilat. Ambil pemimpinnya. Selesai.
Baca juga : Pasar Rakyat Atau Restoran?
Dari kasus Venezuela ini terlihat bahwa negara besar tidak lagi mengandalkan kekuatan fi sik untuk memaksakan agenda serta kepentingannya. Cukup dengan serangan mendadak, satu “perusahaan besar” (berbentuk negara) bisa diakuisisi. Aset-asetnya kemudian diamankan.
Logika yang dibangun, sederhana namun brutal. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di bumi, namun dikelola oleh manajemen yang dianggap buruk dan korup.
Trump, dengan latar belakang pengusaha, mungkin melihatnya sebagai peluang dan cuan: jika pipa minyak Venezuela mengalir lagi lebih deras, jika kilang-kilang yang berkarat dihidupkan kembali oleh AS, apakah rakyat Venezuela akan protes? Trump berharap rakyat akan menjawab “tidak”.
Asalkan dapur tetap ngebul, rakyat akan menerima.
Baca juga : 2026: Tenang Dan Melumat?
Pihak-pihak yang menyebut ini kolonialisme baru, arogansi serta pelanggaran kedaulatan negara, mungkin akan ditanggapi Trump dengan sikap dingin: “Bodo amat” atau “fake news”.
Disadari atau tidak, tampaknya konsep kedaulatan dan pola hubungan internasional sedang ditata ulang. Negara yang dianggap gagal mengelola kekayaannya tak lagi dihukum dengan sanksi. Sebaliknya, mereka bisa diambil alih saja. CEO atau pemimpinnya didepak. Diganti “orang kita”.
Setelah “mengakuisisi” Presiden Venezuela, Trump kian percaya diri. Dalam skala berbeda, Kolombia, Kuba, Meksiko bahkan Iran disebut-sebut menjadi target berikutnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, kalau pola ini diterima, negaranegara besar lainnya bisa saja berkata: “Kalau Amerika bisa, kami juga boleh.” Dan, ketika itu terjadi, geopolitik dunia akan berguncang hebat. Tatanan global bisa berubah dalam sekejap.
Baca juga : Kemenangan Kecil Di Februari
Selamat datang di era kebijakan luar negeri yang dimainkan seperti permainan catur di pos ronda. Tidak ada wasit, tidak ada aturan ketat.
Permainannya cepat dan liar. Lengah sedikit, raja bisa terjungkal. Yang penting menang. Beres.
Begitu permainan selesai, yang tersisa hanyalah asap rokok dan alarm yang semakin nyaring, terutama di negaranegara yang dianggap lemah dan tidak beres.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.