Dark/Light Mode

Bercermin Dari Bencana

Selasa, 9 Desember 2025 06:12 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Bencana di Sumatera bukan sekadar peristiwa alam. Bencana ini menjadi pelajaran dan cermin yang memantulkan aneka wajah bangsa ini.

Ada kepala daerah yang lebih memilih umroh ketimbang mengurus rakyat dan daerahnya yang tertimpa musibah. Ada pula yang sibuk pencitraan. Ada pejabat yang berjuang ekstra keras, bekerja, memikirkan rakyatnya. Ada juga rakyat yang bergotong royong memberikan bantuan dan donasi.

Kita juga melihat bagaimana kayu-kayu gelondongan yang diduga hasil illegal logging menumpuk seperti barisan yang berantakan. Bahkan ada truk bermuatan kayu berukuran besar melintas hanya beberapa hari setelah banjir melanda.

Bagaimana bangsa ini meresponsnya? Apakah sistem kita akan terus membiarkan mereka yang terlibat mengabaikan tanggung jawab demi keuntungan pribadi?

Baca juga : Hukum Di Atas Kawan

Sekarang, kita perlu memikirkan langkah cepat ke depan. Pemulihan infrastruktur seperti jalan raya, listrik dan air bersih, jangan dibiarkan berlarut- larut. Untuk itu, Indonesia butuh teknologi pasca bencana. Beberapa negara sudah memiliki teknologi tersebut. Ini investasi, bukan biaya.

Layanan publik seperti kesehatan, sekolah dan pusat kegiatan masyarakat perlu diupayakan untuk segera beroperasi. Untuk memberikan dukungan dan layanan penting bagi para korban.

Selain itu, bantuan dalam bentuk apa pun, harus dipastikan sampai ke tangan rakyat dengan cepat tanpa birokrasi yang berbelit. Jangan ada yang “memotong” di tengah jalan. Jangan ada yang bermain di atas penderitaan rakyat.

Banyak bantuan yang sudah dijanjikan. Kita tidak ingin mendengar ada pemotongan yang tidak jelas.

Baca juga : Ujian Terakhir Penjaga Gerbang

Untuk memastikan semuanya berjalan baik, tentu butuh koordinasi. Butuh organisasi yang diberi kewenangan khusus sehingga semua bisa terdelegasikan dengan ringkas dan cepat. Di masa tsunami misalnya, pernah ada lembaga semacam BRR Aceh-Nias. Kantornya bisa berada di masing-masing provinsi terdampak.

Bencana dan ujian ini tentu akan menjadi pelajaran berharga. Untuk anak-anak misalnya, perlu diajarkan sejak dini bagaimana mitigasi menghadapi bencana. Ini dilakukan supaya masyarakat memiliki habit kesiapsiagaan.

Untuk anak-anak, perlu diselipkan pelajaran tolong-menolong, budaya antri saat menerima bantuan, serta memprioritaskan yang rentan seperti lansia, dan sebagainya. Pelajaran disiplin dan moral seperti ini perlu diajarkan sejak dini.

Dari semua itu, kuncinya hanya satu: tindakan nyata. Kita misalnya ingin melihat bagaimana penegakan hukum dijalankan, bagaimana hutan dihijaukan kembali, bagaimana kesiapsiagaan penanganan pasca bencana, dan sebagainya.

Baca juga : Bertindak Atau Binasa

Hanya tindakan nyata yang bisa menghentikan semua ini. Jika tidak, alarm bahaya akan terus menerus berbunyi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.