Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Setelah peringatan keras dari Presiden Prabowo, kita berharap tidak ada lagi pejabat yang datang ke lokasi bencana hanya untuk tujuan pencitraan.
Sebab, rakyat sudah terlalu lama melihat pola yang tidak efektif ini. Mereka sudah paham. Rakyat bisa merasakannya. Rakyat tahu kapan seorang pejabat benar-benar peduli dan kapan dia datang untuk sekadar berfoto.
“Saya mohon pejabat-pejabat, tokoh- tokoh datang ke daerah bencana, jangan hanya untuk foto-foto, dan itu dianggap hadir,” tegas Presiden dalam Sidang Paripurna Kabinet, kemarin.
Pernyataan itu bukan hanya sebuah teguran. Ini panggilan untuk introspeksi. Sebagai pengingat bahwa bencana bukanlah momen untuk menunjukkan “kehadiran” yang kosong. Bukan pula untuk memenuhi ruang medsos.Bencana adalah kenyataan pahit yang tidak boleh dibiarkan menjadi komoditas politik.
Baca juga : Berapa Harga Demokrasi?
“Mohon sebaiknya kita tidak mau ada budaya wisata bencana. Jangan,” Presiden menambahkan, dengan nada yang semakin jelas.
Kata-kata itu menggema, mengingatkan, bisa saja ada pejabat yang datang ke lokasi bencana bukan untuk memberi solusi, tetapi untuk memanfaatkan tragedi sebagai alat mendongkrak citra.
“Wisata bencana” yang dikritik Presiden bisa juga menjadi cermin. Cermin yang memantulkan tradisi yang telah lama menjadi kebiasan dan “budaya politik”. Tanpa ada yang menegur dan mengingatkan.
Warning dari Presiden mengharuskan: kehadiran para pejabat di lokasi bencana perlu disertai tindakan nyata. Ada kepedulian yang berkelanjutan. Mem- follow up secara serius kebutuhan para korban. Bukan sekadar mencatat.
Baca juga : Bercermin Dari Bencana
Di saat bencana inilah, para pejabat dihadapkan pada ujian sesungguhnya. Tidak ada pamrih. Tidak ada sambutan meriah. Yang ada hanya duka, lumpur, jembatan putus, jalan rusak, kediaman yang hilang entah kemana, makanan yang terbatas, sanitasi yang buruk serta aktivitas yang terhenti. Serba tidak enak.
Karena itu, bangsa ini jangan lagi membiarkan bencana menjadi ladang pencitraan. Tapi ladang kerja nyata berkelanjutan. Karena, bangsa ini tidak ingin terdegradasi menjadi bangsa “penikmat drama”.
Kehadiran seorang pejabat ke lokasi bencana mestinya seperti dokter yang datang ke rumah sakit darurat. Dia datang bukan untuk melihat-lihat, tetapi untuk mengatasi luka dan memberikan pertolongan. Tidak ada waktu untuk berbincang atau berpose di samping pasien.
Dia harus langsung bertindak, mencari masalah, dan memberi solusi. Eksekusi. Seperti dokter yang tahu tugasnya, dia tidak menunggu tepuk tangan atau sorot kamera. Yang terpenting adalah kesembuhan, bukan pujian.
Baca juga : Hukum Di Atas Kawan
Ketika para pejabat dan bangsa ini sudah sampai di titik serta maqom tersebut, bangsa ini sudah layak naik kelas. Itu harapan kita.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.