BREAKING NEWS
 

Berani Menutup “Luka” Lama

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Kamis, 15 Januari 2026 06:48 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Akhirnya tiang monorel itu roboh. Bukan karena rapuh. Tapi karena berani diputuskan. Tiang yang nyaris menjadi “monumen kegagalan” itu, mampu dieksekusi untuk dirobohkan setelah puluhan tahun berdiri.

Rabu, 14 Januari 2026, Pemprov DKI Jakarta mulai membongkar tiang-tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Tiang beton itu, dua puluh tahun berdiri. Tanpa kereta. Tanpa rel. Tanpa kejelasan. Seperti “hubungan tanpa status”. Tak ada kepastian.

Saat upacara perobohan kemarin, Gubernur Pramono Anung didampingi mantan gubernur Sutiyoso. Bang Yos. Orang yang dulu melahirkan ide monorel itu. Bang Yos mengaku lega. Sangat mungkin, selama puluhan tahun Bang Yos sangat terbebani.

Baca juga : Korupsi Dan Orang-orang Biasa

Ada pelajaran penting dari kehadiran gubernur dan mantan ini. Tidak ada nuansa “kambing hitam”. Tidak pula di bumbui drama. Ada sisi rekonsiliasi masa lalu dan masa depan. Pramono senang, Bang Yos lega.

Dalam politik kebijakan publik, kadang keputusan paling penting bukan melahirkan program atau membangun sesuatu, melainkan menuntaskan. Berani meluruskan atau bahkan mengakhiri yang salah.

Adsense

Monorel lahir di era ketika Jakarta ingin terlihat modern secepat mungkin. Di situ ada ambisi. Ada cita-­cita. Mungkin juga gengsi. Namun, ambisi, apalagi gengsi, perlu juga melihat isi dompet. Apakah cukup dan hitungannya masuk? Apakah benar-­benar sudah dikaji mendalam? Apakah proyeknya bisa berkesinambungan?

Baca juga : Siaga Di Simpang Jalan

Kalau tidak, dan gagal, rakyat dengan mudah akan mencap proyek itu sebagai “proyek mangkrak”. Proyek gagal. Ketika rakyat mulai menganggap kegagalan sebagai kelaziman dan dibiarkan, di situlah negara “kalah”.

Karena, kegagalan (kebijakan) tak bisa dinormalisasi. Tak boleh dibiarkan. Kalau salah, dikoreksi. Pejabat mana pun yang tidak berani mengakui kesalahan akan sulit dipercaya saat dia mengklaim keberhasilan.

Pembongkaran monorel menunjukkan negara menang. Kenapa? Karena ada yang berani berkata: Cukup. Hen- tikan. Kita tata ulang. Kita tutup bab ini. Kita selesaikan dalam tempo yang sesingkat­-singkatnya. Kita tuntaskan dan rapikan.

Baca juga : Bukan Sekadar Gadis Cantik

Akhirnya, Jakarta resmi move-on. Seratusan beton menjulang yang menyerupai tiang jemuran raksasa itu dibongkar. Tumbang. Tanpa drama. Statusnya sekarang jelas.Yang di Senayan misalnya, akan dibiarkan berdiri. Statusnya juga jelas: akan difungsikan untuk advertising. Iklan. Ada pemasukan buat Pemprov.

Jakarta hari ini memberi contoh sederhana tapi mahal nilainya: berani menutup cerita yang gagal. Karena, yang tak pernah dituntaskan akan selalu ditertawakan. Jadi bahan lelucon.

Selanjutnya, kita tunggu, apa langkah selanjutnya. Semoga keberanian ini tidak berhenti di tiang­tiang beton nan kokoh di Jalan Rasuna Said, Kuningan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense