RM.id Rakyat Merdeka - Apa yang sebenarnya dimenangkan Korea Selatan saat mengalahkan Republik Ceko 2-1 di Piala Dunia 2026, Jumat (12/6/26) pagi kemarin?
Ini bukan soal tiga poin. Juga bukan sekadar mengalahkan tim Eropa. Yang dimenangkan Korea Selatan adalah “waktu”. Proses. Konsistensi. Dan, itulah hal yang paling mahal dalam sepak bola modern.
Salah satu simbolnya adalah Hwang Hee-chan. Saat Korea Selatan mengalahkan Ceko, dia masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-62.
Tiga belas tahun sebelumnya, Hwang merupakan bagian dari tim Korea Selatan U-19 yang kalah 2-3 dari Indonesia pada Kualifikasi Piala Asia U-19 2013. Saat itu, Evan Dimas menjadi pahlawan dengan hattrick yang memicu euforia besar. Kemenangan Evan Dimas cs melahirkan predikat “Generasi Emas Indonesia”.
Namun, sepak bola tidak hanya menghitung siapa yang menang dalam satu malam. Sepak bola menghitung siapa yang mampu menjaga kemenangan itu tetap hidup selama bertahun-tahun.
Baca juga : Garuda di Pintu Piala Dunia
Di sinilah perbedaannya. Korea Selatan tidak mengubah arah. Tidak membongkar sistem. Tidak mencari kambing hitam. Mereka tetap berjalan di jalur fundamental sepak bola yang sudah kuat.
Mereka percaya proses membutuhkan waktu. Sementara di banyak negara berkembang, fundamentalnya kurang kuat. Ekosistemnya rapuh. Menang hari ini terkadang dirayakan berlebihan. Kalah besok dianggap bencana. Generasi baru datang tanpa jembatan yang kuat menuju level berikutnya.
Akibatnya, kemenangan besar sering berhenti sebagai kenangan. Sekadar perayaan. Bukan menjadi fondasi.
Hwang Hee-chan adalah contoh bagaimana sebuah negara memperlakukan waktu sebagai investasi. Kekalahan pada usia 19 tahun tidak membuat kariernya berhenti. Dia kemudian berkarier di Bundesliga, Liga Inggris, dan akhirnya Piala Dunia.
Sebaliknya, kisah generasi emas Indonesia U-19 sering menjadi cerita tentang potensi yang tidak sepenuhnya tumbuh. Cenderung nostalgik.
Baca juga : Negeri yang Mudah Lupa
Karena itu, kemenangan Korea Selatan atas Ceko menjadi cermin besar bagi banyak negara. Terutama Asia.
Dan bagi Indonesia, pelajarannya mungkin terasa sedikit menyakitkan. Kemenangan atas Korea Selatan pada 2013 ternyata bukan bukti bahwa Indonesia lebih kuat. Kemenangan itu justru menunjukkan bahwa jarak bakat kedua negara sebenarnya tidak terlalu jauh.
Yang jauh adalah kemampuan mengelola waktu. Meyakini proses. Korea Selatan berhasil mengubah sepuluh tahun menjadi lompatan.
Karena itu, saat Hwang Hee-chan kembali tampil di Piala Dunia 2026, publik Indonesia seharusnya tidak hanya mengenang malam ketika Evan Dimas mengalahkannya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah ini: kenapa pemain yang pernah kalah dari Indonesia kini bermain di panggung tertinggi dunia, sementara kemenangan Indonesia malam itu lebih sering hidup sebagai nostalgia?
Baca juga : Tak Ada Lagi Yang Kebal?
Jawaban atas pertanyaan itu mungkin jauh lebih penting daripada hasil pertandingan mana pun. Dan, pertanyaan itu wajib kita jawab kalau sepak bola kita ingin melangkah lebih jauh.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 14 Juni 2026 dengan judul "Korsel Dan Cermin Senayan"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.