Dark/Light Mode

Tak Ada Lagi Yang Kebal?

Minggu, 7 Juni 2026 08:43 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Banyak yang menarik dari kasus yang mengguncang Badan Gizi Nasional (BGN). Kita ambil dua saja. Tampaknya ini sangat substantif. 

Pertama, tidak ada lagi perlindungan politik otomatis untuk proyek prioritas. Kalimat itu mungkin menjadi salah satu pesan terpenting dari kasus yang kini mengguncang BGN serta MBG.

Selama ini ada keyakinan yang diam-diam dipercaya di sebagian birokrasi: semakin dekat sebuah program dengan pusat kekuasaan, semakin tebal lapisan perlindungannya. Semakin besar nilai politiknya, semakin kecil kemungkinan para pengelolanya tersentuh proses hukum.

Dari kasus ini, ternyata tidak. Tidak ada perlindungan. Tidak ada garansi. Lihat saja: pagi, Kepala BGN masih mendampingi Presiden Prabowo meninjau Dapur MBG di Palmerah, Jakarta. Malamnya dicopot. Dini hari dijemput di rumahnya oleh kejaksaan. Sorenya ditetapkan sebagai tersangka. Pakai rompi tahanan.

Baca juga : Bukan Sekadar Orang Hebat

Dalam politik, ini simbol. Juga pesan yang jelas. Tak ada lagi zona steril. Tak ada lagi wilayah yang dianggap terlalu strategis untuk disentuh.

Tak ada lagi anggapan bahwa dekat dengan kekuasaan menjadi garansi keamanan. Siapa pun bisa kena. 

Langkah menghilangkan “anti kebal” ini baik bagi kampanye anti korupsi. Juga baik bagi “pasar” yang ingin melihat ketegasan serta konsistensi dalam memberantas korupsi. 

Kita berharap, pesan ini bisa menyuburkan kepercayaan rakyat dan para investor asing sehingga menjadi “obat kuat” bagi Rupiah dan harga saham (IHSG) yang sedang loyo.

Baca juga : Juni, Bukan Sekadar Nostalgia

Itu pertama. Lalu yang kedua. Ini tak kalah pentingnya. Salah satu tersangka, Sony Sonjaya, dikabarkan akan mengajukan diri sebagai justice collaborator

Artinya, dia siap “bernyanyi”. Siap membuka informasi mengenai pihak-pihak lain yang diduga terlibat dalam perkara ini.

Jika Sony benar-benar bersuara jernih dan lantang, makna politisnya akan sangat besar dan strategis.

Publik akan menunggu: siapa yang mungkin akan disebut. Hiu, kakap, tuna sirip biru, kembung, mujair ataukah teri? Siapa yang menikmati keuntungan. Siapa yang mengatur, dan sebagainya.

Baca juga : Demokrasi Tanpa Sanksi

Di titik inilah pesan “tidak ada lagi kekebalan dan perlindungan bagi siapa pun” akan diuji. Ini ujian sesungguhnya. Karena, kualitas sebuah sistem hukum justru diuji ketika penyidikan mulai bergerak ke samping dan ke atas. Bukan ketika bergerak ke bawah.

Di sinilah makna strategis kasus ini. Ini bukan sekadar tentang BGN. Ini adalah ujian penting atau “ulangan umum” bagi negara. Ujian ini akan dinilai oleh rakyat dan investor. Nilainya 1-10. Hasilnya, naik kelas atau tidak

Kalau memang tidak ada lagi perlindungan politik otomatis untuk proyek prioritas, maka logikanya sederhana: tidak boleh ada perlindungan politik untuk siapa pun. Siapa pun. 

Karena itu, menarik ditunggu hasil ujiannya. Nilainya bagus atau tidak. Itulah kenapa ada tanda tanya di judul tulisan ini: Tak Ada Lagi yang Kebal? Menarik ditunggu.(*)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.