RM.id Rakyat Merdeka - Yang paling berbahaya dari korupsi bukan (saja) pencurian uang negara. Yang paling berbahaya adalah ketika para pelakunya memiliki keyakinan “semua bisa diatur”. Ada semacam rasa aman. Ada keyakinan “paling yang ditangkap orang-orang tertentu saja”.
Pada titik itu, korupsi bukan lagi sekadar pelanggaran hukum. Korupsi menjadi tanda bahwa ada kekuatan yang merasa lebih besar daripada hukum.
Ketika tidak ada lagi rasa takut, penyalahgunaan kekuasaan tumbuh subur. Ketika pengawasan lemah, godaan dan keberanian untuk korupsi, kian menyebar dan menguat.
Kita berulang kali menyaksikan kasus-kasus besar terungkap. Nama-nama disebut, bukti bermunculan, publik marah, medsos ramai, dan aparat bergerak. Namun yang sering tumbang hanyalah pelaksana atau lapisan tertentu. Banyak yang lolos dan tak tersentuh.
Baca juga : Korsel Dan Cermin Senayan
Dari situ lahir keyakinan yang berbahaya: hukum bisa diatur dan dinegosiasikan. Perlindungan lebih menentukan daripada kebenaran. Vonis bisa dibeli seperti membeli nasi bungkus.
Dari situ, muncullah apa yang sering disebut sebagai deep state. “Negara bayangan” ini mampu memengaruhi keputusan dan kebijakan. Struktur kekuasaan informal non-demokrasi ini, mampu bertahan melampaui pergantian pemerintahan.
Akibatnya, pejabat boleh berganti, tetapi pola permainan tetap bertahan. Karena itu, pemberantasan korupsi sering terasa seperti memangkas ranting tanpa menyentuh batang, apalagi mencabut akar.
Padahal sejarah menunjukkan perubahan bukan hal yang mustahil. Tentu saja butuh keseriusan, konsistensi, kesinambungan dan totalitas. Bahkan yang out of the box, sangat dibutuhkan.
Baca juga : Garuda di Pintu Piala Dunia
Georgia pasca Revolusi Mawar melakukan reformasi besar terhadap institusi yang korup. Singapura menegakkan hukum secara konsisten tanpa memandang kedudukan atau kedekatan politik.
Dari situ, pelajarannya sederhana: yang dibongkar bukan hanya semua pelakunya, tetapi juga sistem yang membuat mereka merasa aman dan nyaman. Sistem yang melahirkan “negara dalam negara”.
Negara harus membuktikan bahwa siapa pun bisa dimintai pertanggungjawaban. Tanpa kecuali. Sebab, ketika ada yang merasa “semua bisa diatur dan dibeli”, wabah kebal hukum akan menguat dan menjalar.
Pemerintah telah menyatakan tekad untuk mengejar dan membongkar praktik korupsi dan jaringan yang melindunginya. Siapa pun. Dimana pun. Rakyat pasti mendukung seratus persen.
Baca juga : Negeri yang Mudah Lupa
Namun, niat baik dan tekad akan lebih diapresiasi kalau disertai realisasi di lapangan. Rakyat menunggu bukti. Konkret.
Pembuktiannya jangan terlalu lama. Sebab, jika keseriusan itu terus dipertanyakan, keyakinan bahwa tikus sudah tidak lagi takut kucing, akan semakin menguat. Bahkan bisa sampai pada titik ketika tikus merasa tidak takut lagi kepada siapa pun.
Dan ketika itu terjadi, yang dipertaruhkan bukan lagi keberhasilan pemberantasan korupsi, melainkan wibawa negara itu sendiri. Ini sangat berisiko. Dampaknya dahsyat.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.