Sebelumnya
Untuk bisa menembus Senayan, perlu tokoh dan ketokohan. Di pusat maupun daerah. Kalau tidak punya, berat. Tokoh ini selain punya nama, jadi vote getter, juga punya dana. Selain visi dan misi, juga harus punya “gizi”. Uang.
Isu yang diangkat, karakter, serta “jenis kelaminnya” juga harus kuat. Paling tidak, bisa menjawab pertanyaan: kenapa harus memilih Gelora dan Partai Ummat bukan PKS, PAN atau partai lain?
Baca juga : Siapkan Payung Dan Plan ABCD
Kalau Partai Ummat, sepertinya akan menjadi oposisi ke pemerintahan sekarang. Walau belum jelas, oposisi seperti apa yang akan ditampilkan dua-tiga tahun ke depan. Wajah oposisi yang ditampilkan, juga sangat menentukan.
Gelora, masih abu-abu. Karakternya masih kalah dengan ingatan publik ke tokohnya, seperti Anies Matta atau Fahri Hamzah.
Baca juga : Pandemi Dan 2 Ganjalan
Kalau mereka menampilkan yang mainstream, wajah lama, berat. Sulit. Karena, parpol-parpol mapan pun, sekarang terus berbenah. Mereka tak mau “lapaknya” diambil orang.
Golkar misalnya, baru saja membentuk Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) DPP Partai Golkar periode 2019-2024. Ini akan menjadi corong buat Partai, juga bisa menjadi jubir ketum Airlangga Hartarto, yang sudah digadang-gadang akan maju di Pilpres 2024. Parpol lainnya, juga berbenah.
Baca juga : Nasib KPK, 2 Hari Lagi
Tugas berat bagi parpol baru, tapi bukan kemustahilan. Kita lihat hasilnya: apakah partai-partai ini bisa sama-sama mencuat, atau justru “saling mematikan” yang berakibat semakin menguatnya partai-partai lama yang sudah mapan. (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.