RM.id Rakyat Merdeka - Video itu beredar lagi. Momennya pas: Mei, bulan Reformasi. Video itu melintas di media sosial, kemarin. Itu video pernyataan Mahfud MD yang diunggah kembali oleh satu akun di medsos.
“Dulu saya orang yang secara politik sangat tidak suka Orde Baru sehingga saya ikut turun (aksi). Tetapi sesudah lama begini, alasan-alasan dulu menjatuhkan Pak Harto karena KKN, sekarang KKN (justru) lebih banyak dibanding zaman Pak Harto. Lebih banyak,” kata Mahfud dalam sebuah acara di salah satu stasiun TV. Saat itu Mahfud belum menjabat Menko Polhukam.
Bahkan sesudah menjadi Menko Polhukam, Mahfud masih menyuarakan aspirasi publik. September 2020 lalu dia menyatakan bahwa hukum di Indonesia sudah menjadi industri. Yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar. Pasal-pasal hukum bisa direkayasa. Industri.
Baca juga : KPK Lebih Dari Klub Bola
Pernyataan-pernyataan Mahfud bisa mewakili perasaan publik selama puluhan tahun reformasi, dalam beberapa era pemerintahan. Rakyat merasakan, yang dulu dihujat, sekarang justru dikerjakan. Ini tragedi.
Karenanya, arah Reformasi perlu diputar balik. Memang tidak mudah. Bahkan, Mahfud MD yang sangat bersemangat, dan sekarang sudah berada di pemerintahan pun, sepertinya menyiratkan “butuh perjuangan berat”.
Apalagi sekarang, pusat-pusat kekuasaannya sudah menyebar. Kalau dulu hanya Soeharto seorang, setelah reformasi, oligarki yang menguat. Sekelompok kecil elite bisa sangat menentukan.
Baca juga : Surat Itu Bikin Galau
Pilkada misalnya, dibutuhkan modal 30 sampai 40 miliar. Disitulah donatur, para cukong, masuk. Ikut menyumbang. Tanam saham. Setelah terpilih, kepala daerahnya “disandera”. Akibatnya, korupsi. Jual beli proyek. Jual beli jabatan.
Tak heran kalau sudah ratusan kepala daerah yang terjerat kasus korupsi. Itu sudah bukan rahasia lagi. Sudah umum. Mestinya, ada upaya untuk menghentikannya. Caranya, bukan dengan “melemahkan” KPK. Sekarang, KPK yang sangat diharapkan untuk menghilangkan salah satu “K” (korupsi), justru menjadi “rumah yang kacau”. Penghuninya sibuk berkelahi sendiri. Koruptor kegirangan.
23 tahun setelah reformasi mestinya sudah ada upaya-upaya luar biasa untuk mengembalikan marwah reformasi dan demokrasi. Menuntunnya kembali ke arah yang benar.
Baca juga : Antisipasi Arus Balik!
Ini penting, supaya negeri ini, sedikit mengutip Mahfud MD, tidak terjerumus dalam “industri demokrasi” yang kian jauh dan dalam.
Itu berbahaya. Sangat berisiko.(*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.