Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Soal Pemerkosaan Di Kerusuhan Mei 1998, Pernyataan Fadli Zon Banjir Kritik
Lalu Hadrian: Meragukan Kebenaran Sama Saja Menghapus Sejarah
Rabu, 18 Juni 2025 07:50 WIB
Sebelumnya
Soal pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang mempertanyakan istilah perkosaan massal dalam tragedi Mei 1998. Apa tanggapan Anda?
Saya sangat khawatir pernyataan tersebut bisa melukai perasaan para korban dan merendahkan seluruh upaya pemulihan yang telah diperjuangkan selama lebih dari dua dekade. Sedikit keliru kalau dikatakan tidak ada perkosaan massal. Peristiwa itu terjadi. Jangan kita tutupi sejarah kelam bangsa ini.
Apa yang Anda maksud dengan menutupi sejarah?
Tragedi 1998 adalah peristiwa kemanusiaan yang nyata. Terutama bagi para perempuan korban kekerasan seksual, ini adalah luka yang sangat dalam. Jika kita menyangkal atau meragukan kebenarannya, itu sama saja dengan menghapus jejak kekerasan yang sudah nyata dan telah diakui, baik oleh masyarakat Indonesia maupun dunia internasional. Komnas Perempuan pun telah melaporkan hal itu secara resmi.
Baca juga : Fadli Zon: Sejarah Harus Berdiri Di Atas Fakta, Bukan Narasi
Jadi Anda merasa ada pengingkaran terhadap sejarah?
Tepat sekali. Ketika ada pernyataan yang meragukan kebenaran kekerasan seksual dalam tragedi 1998, itu bukan sekadar pengingkaran, tapi penghapusan jejak sejarah bangsa. Dan yang lebih menyakitkan, itu merendahkan martabat para korban. Proses pemulihan dan rekonsiliasi yang harusnya terus kita bangun jadi terhambat.
Bagaimana seharusnya sejarah ditulis menurut Anda?
Sejarah Indonesia tidak boleh direduksi menjadi narasi tunggal milik kekuasaan. Harus ditulis dengan jujur, inklusif, dan partisipatif. Tujuannya bukan untuk menyenangkan penguasa, tetapi untuk menjaga kejujuran kolektif bangsa. Kita harus bertanya: sejarah ini ditulis oleh siapa, untuk siapa, dan mengapa?
Baca juga : Aparat Penegak Hukum Diminta Mengusut Tuntas
Apa pesan Anda terhadap pihak-pihak yang kini menyusun ulang narasi sejarah?
Sejarah bukan hanya kumpulan kejadian masa lalu. Itu pondasi jati diri kita sebagai bangsa. Maka ketika ada upaya penulisan ulang sejarah, yang penting bukan hanya siapa penulisnya, tetapi apakah penulisan itu memihak kebenaran dan keadilan. Jangan sampai kita menulis ulang sejarah hanya untuk kepentingan segelintir orang dan mengabaikan suara mereka yang paling terdampak.
Apa langkah ke depan yang Anda harapkan?
Kita perlu membuka ruang dialog yang jujur, tidak menutup luka, dan tidak menyembunyikan kebenaran. Para korban dan penyintas kekerasan seksual dalam tragedi 1998 harus dihormati dengan cara mengakui penderitaan mereka secara utuh dalam narasi sejarah bangsa. Ini bukan hanya soal masa lalu, tapi juga soal tanggung jawab moral kita hari ini. ASI
Baca juga : Berantas Koruptor, Bintang Sembilan Optimis Pemerintah Tak Tebang Pilih
rtikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Rabu, 18 Juni 2025 dengan judul "Soal Pemerkosaan Di Kerusuhan Mei 1998, Pernyataan, Lalu Hadrian: Meragukan Kebenaran Sama Saja Menghapus Sejarah"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya