Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Indonesia adalah negara besar dan sangat luas dan yang menjadi ciri khasnya adalah sebagai negara kepulauan (archipelago). Merujuk ke berbagai sumber, Indonesia memiliki 17,499 pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000 kilometer. Sementara berdasarkan seumber dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, sekitar 62% luas wilayah Indonesia merupakan laut dan perairan. Luasnya lautan Indonesia dengan karakteristik negara kepulauan tentu bisa menjadi anugerah namun di sisi lain menjadi tantangan tersendiri ketika berbicara pemerataan antar daerah tertentu dengan daerah lainnya.
Daerah yang ada di Pulau Jawa relatif lebih berkembang dan mapan dengan daerah-daerah yang ada di luar Pulau Jawa, baik itu menyangkut ekonomi, fasilitas kesehatan dan pendidikan karena dekat dengan pusat pemerintahan. Sedangkan daerah yanga ada di luar pulau Jawa, terutama daerah yang masuk dalam wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar), kondisi ekonomi, fasilitas kesehatan dan akses pendidikan masih terbatas, bahkan di daerah-daerah tertentu sangat mengkhawatirkan.
Menurut Chyntia (dalam Pamungkas 2023), permasalahan yang ada di daerah 3T adalah pendidikan. Pendidikan di daerah 3T belum sepenuhnya menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan, wilayah terpencil yang secara geografis sulit dijangkau. Kondisi tersebut mengakibatkan ketidaksetaraan penerima layanan pendidikan pada usia sekolah nasional. Dikarenakan aksesibilitas yang buruk dan kesulitan pemenuhan kebutuhan fundamental masyarakat daerah 3T muncul akar dari rasa sungkan masyarakat pada daerah 3T untuk memanfaatkan fasilitas edukasi yang tersedia.
Baca juga : Gibran Disaranin Pilih Beringin
Ada beberapa contoh permasalahan penyelenggaraan pendidikan di daerah 3T. Pertama, permasalahan pendidik, seperti kekurangan jumlah, distribusi tidak seimbang, kualifikasi di bawah standar, kurang kompeten, serta ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang diampu. Kedua, rendahnya mutu pendidikan di daerah 3T seperti angka putus sekolah juga masih relatif tinggi, sementara angka partisipasi sekolah masih rendah. Oleh karena itu perlu adanya terobosan agar pendidikan di daerah 3T dapat meningkat dan tidak terjadi disparitas yang sangat dalam dengan kualitas pendidikan yang ada di Pulau Jawa.
Hadirnya Platform Merdeka Mengajar (PMM)
Pada masa pandemi Covid-19 beberapa tahun yang lalu, kita mengalami krisis pembelajaran yang ada menjadikan pendidikan semakin tertinggal dengan hilangnya pembelajaran (learning loss) dan meningkatnya kesenjangan pembelajaran antarwilayah dan antarkelompok sosial-ekonomi. Untuk memulihkan pembelajaran pascapandemi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) meluncurkan Merdeka Belajar Episode Kelima belas yaitu Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar.
Baca juga : Nadiem Minta Programnya Dilanjut
Jika kita maknai lebih dalam, sejatinya peluncuran Kurikulum Merdeka dibarengi dengan Platform Merdeka Mengajar (PMM) tidak hanya berlaku dalam menghadapi Covid-19, namun menurut penulis dengan pemanfaatan layanan internet di era digital saat ini Platform Merdeka Mengajar (PMM) dapat mengurangi disparitas pendidikan Indonesia yang terpisah oleh jarak dan karakteristik kepulauan tadi.
Sebagai contoh, untuk membantu guru, Kemendikbudristek meluncurkan Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang menyediakan berbagai perangkat ajar, mencakup buku teks, buku bacaan, contoh kurikulum sekolah, contoh modul, dan instrumen asesmen kelas yang terus diperbarui secara berkala. PMM juga mendukung sekolah membentuk komunitas belajar secara luring maupun daring, menghubungkan sekolah dengan narasumber praktik baik dari sekolah lain.
Platform Merdeka Mengajar juga memberikan kesempatan yang setara bagi guru untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensinya kapan pun dan di mana pun. Dalam hal ini, guru dapat memperoleh materi pelatihan berkualitas dengan mengaksesnya secara mandiri. Melalui video inspirasi, guru bisa mendapatkan beragam video inspiratif untuk mengembangkan diri dengan akses tidak terbatas.
Baca juga : Dana Otsus Papua Difokuskan Bangun SDM Dan Pendidikan
Selain itu, Platform Merdeka Mengajar juga mendorong guru untuk terus berkarya dan menyediakan wadah berbagi praktik baik. Oleh karena itu, guru dapat membangun portofolio hasil karyanya agar dapat saling berbagi inspirasi dan berkolaborasi melalui Bukti Karya Saya.
Di sisi lain, dalam menciptakan ekosistem kolaboratif dan meningkatkan efektivitas pembelajaran, Platform Merdeka Mengajar menggunakan Content Crowdsourcing, dengan pengembangan konten berbasis kontribusi dapat dilakukan oleh semua pihak. Guru juga dapat saling belajar dan berbagi melalui Komunitas Belajar Daring yang terdapat di dalam Platform Merdeka Mengajar.
Dengan adanya konten-konten kreatif dan inovatif yang ada dalam Platform Merdeka Mengajar semoga dapat menjadi salah satu solusi disparitas pendidikan di Indonesia, karena ia dapat menjangkau seluruh pelosok negeri, tanpa dibatasi oleh jarak dan luasnya lautan yang kita miliki. Maka hadirnya Platform Merdeka Belajar dapat dioptimalkan agar pendidikan Indonesia tidak hanya unggul dan maju di wilayah tertentu, tapi juga merata dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.
Fahmi Syahirul Alim
Peneliti ICIP
Peneliti ICIP
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya