Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
TOT AI untuk Guru: Bekal Cerdas di Era ChatGPT dan Kawan-kawan
Kamis, 24 Juli 2025 12:33 WIB
Transformasi teknologi digital telah memasuki babak baru dengan hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin merasuk ke berbagai lini kehidupan, termasuk pendidikan. Salah satu bentuk AI yang sedang banyak dibicarakan adalah ChatGPT, model bahasa generatif yang dapat menjawab pertanyaan, menulis teks, bahkan merancang rencana pembelajaran. Di tengah euforia perkembangan ini, muncul pertanyaan penting: sudahkah para pendidik di Indonesia memiliki literasi yang cukup untuk memanfaatkan AI secara cerdas dan etis di ruang kelas?
Program Training of Trainers AI (TOT AI) untuk guru hadir sebagai respons atas tantangan tersebut. Program ini tidak sekadar mengenalkan teknologi baru, tetapi juga membekali guru dengan pemahaman kritis terhadap fungsi, manfaat, dan risiko dari penggunaan AI dalam pembelajaran. Dengan pendekatan berbasis literasi teknologi dan etika digital, TOT AI menjadi bekal strategis bagi guru di era di mana teknologi bukan lagi pelengkap, melainkan bagian integral dari proses pendidikan.
TOT AI bertujuan untuk memperkuat kompetensi guru dalam tiga aspek utama. Pertama, pemahaman konseptual tentang AI, termasuk cara kerja model bahasa seperti ChatGPT, algoritma pembelajaran mesin, serta perbedaan antara AI generatif dan non-generatif. Guru tidak diharapkan menjadi ahli teknis, namun penting bagi mereka untuk memahami prinsip dasar bagaimana AI "belajar" dan membuat prediksi agar dapat menggunakannya dengan bijak.
Kedua, penerapan pedagogis AI dalam kelas. Guru dilatih untuk mengintegrasikan AI ke dalam praktik pembelajaran secara kreatif dan bermakna. Sebagai contoh, guru dapat memanfaatkan ChatGPT untuk membuat soal latihan yang dipersonalisasi, menyusun ringkasan materi, atau sebagai media diskusi interaktif yang melibatkan siswa secara langsung. Penelitian yang dilakukan oleh EdTech Hub (2023) menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan partisipasi siswa hingga 27 persen dibandingkan metode konvensional.
Ketiga, pemahaman etika dan tanggung jawab digital. Penggunaan AI dalam pendidikan menimbulkan berbagai pertanyaan etis, mulai dari privasi data, bias algoritmik, hingga potensi ketergantungan siswa pada teknologi. Oleh karena itu, TOT AI menekankan pentingnya transparansi dalam penggunaan AI, serta kemampuan guru untuk menjelaskan kepada siswa bagaimana informasi dihasilkan dan diproses oleh sistem AI.
Dalam praktiknya, pelatihan ini dirancang secara interaktif dan kontekstual. Peserta tidak hanya menerima materi teoritis, tetapi juga dilibatkan dalam simulasi, diskusi kasus nyata, serta proyek implementasi di sekolah masing-masing. Salah satu modul pelatihan, misalnya, meminta peserta untuk merancang satu skenario pembelajaran menggunakan AI dan mengevaluasi implikasi etis dari skenario tersebut. Pendekatan ini terbukti efektif dalam membangun kesadaran kritis serta kreativitas guru.
Menurut laporan UNESCO (2022), negara-negara yang berhasil mengintegrasikan AI dalam sistem pendidikannya adalah negara yang memberikan pelatihan sistematis kepada guru sejak tahap awal. Korea Selatan, misalnya, telah menyusun kurikulum khusus tentang AI untuk calon guru dan menyediakan platform simulasi AI dalam pembelajaran. Indonesia dapat menempuh jalur serupa dengan menjadikan TOT AI sebagai bagian dari program pengembangan profesi guru secara nasional.
Tentu saja, keberhasilan TOT AI tidak lepas dari dukungan kebijakan yang berpihak. Pemerintah melalui Kemendikbudristek dapat memainkan peran strategis dengan menyediakan akses pelatihan daring terbuka, insentif pengembangan modul AI lokal, dan kolaborasi dengan institusi teknologi seperti BPPT, BRIN, maupun sektor swasta. Di samping itu, sekolah juga perlu menumbuhkan budaya inovasi yang memberi ruang bagi guru untuk bereksperimen secara bertanggung jawab dengan teknologi baru.
Menariknya, penggunaan ChatGPT dan sejenisnya di kalangan guru Indonesia telah menunjukkan tren positif. Sebuah survei kecil yang dilakukan oleh Jaringan Guru Belajar AI Nusantara (2024) terhadap 500 guru di lima provinsi menunjukkan bahwa 62 persen dari mereka pernah menggunakan ChatGPT untuk membantu penyusunan materi ajar, dan 48 persen merasa terbantu dalam merancang asesmen alternatif. Namun, hanya 21 persen yang merasa paham benar bagaimana cara kerja sistem tersebut, dan kurang dari 15 persen yang memahami implikasi etisnya. Fakta ini menguatkan argumen bahwa literasi tanpa pemahaman bisa membawa risiko baru yang tak kalah besar dari ketidaktahuan itu sendiri.
TOT AI hadir bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan memperkuatnya. Dalam era di mana informasi dapat diproduksi dan disebarkan secara masif oleh mesin, peran guru sebagai pembimbing etika, penalar kritis, dan penjaga akal sehat menjadi semakin vital. Guru yang melek AI tidak hanya akan mampu mengarahkan siswanya menjadi pengguna teknologi yang cakap, tetapi juga membentuk karakter siswa agar tidak terjebak dalam manipulasi informasi yang disamarkan dalam kecanggihan algoritma.
Sebagai penutup, pelatihan TOT AI merupakan bentuk investasi jangka panjang yang sangat diperlukan oleh sistem pendidikan Indonesia. Jika dijalankan dengan sungguh-sungguh dan berbasis kebutuhan nyata di lapangan, program ini dapat menjadi tonggak penting menuju pendidikan abad ke-21 yang tidak hanya digital, tetapi juga manusiawi. Karena pada akhirnya, teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan sentuhan nilai, dan siapa lagi kalau bukan guru yang menjadi penjaga nilainya.
Cerry
Guru SMKN 2 Karimun, Peserta Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA)
Guru SMKN 2 Karimun, Peserta Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya