Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), serta sekolah yang sederajat baru saja selesai dilaksanakan pada 3 hingga 9 November 2025. Untuk susulan TKA sendiri akan diadakan pada 17-23 November 2025.
Surat Edaran (SE) yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Penilaian Pendidikan (BSKAP) dengan nomor 3866/H.H4/SK.01.01/2025 mengenai Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik tahun 2025, akan mengumumkan hasil TKA SMA untuk tahun 2025 pada Januari 2026.
Di sisi lain, untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), pelaksanaan TKA direncanakan akan berlangsung pada Maret hingga April 2026.
Bila diamati, secara keseluruhan, pelaksanaan TKA dianggap berhasil jika diukur dari keikutsertaan siswa yang jumlahnya menembus angka 3,5 juta perserta.
Secara persentase, keterlibatan siswa kelas XII dalam TKA mencapai 84,02 persen dari seluruh peserta (4,19 juta siswa), dengan melibatkan 43.967 satuan pendidikan atau 82,54 persen dari 53.269 satuan pendidikan di tingkat SMA yang berpartisipasi.
Baca juga : Sesali Masih Ada Kasus Keracunan MBG, Kepala BGN Akan Sidak Diam-diam
Dalam kaitan itu, antusiasme siswa dalam mengikuti TKA dapat dikatakan luar biasa. Namun demikian, kita juga mesti ingat masih terdapat kesenjangan yang signifikan antara pendidikan formal dan nonformal dalam hal keikutsertaan siswa yang penting untuk diperhatikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Menurut data Litbang Kompas (14/11/2025), siswa SMA memang memiliki tingkat partisipasi yang tinggi, yaitu 91,31 persen, diikuti oleh madrasah aliyah (MA) sebesar 86,51 persen, dan sekolah kejuruan (SMK) sebesar 83,4 persen. Tetapi, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang sebagian besar diikuti oleh siswa pendidikan nonformal, tingkat partisipasinya sebesar 44,51 persen, sementara pesantren mencatat 50,73 persen, dan sekolah luar biasa bahkan jauh lebih kecil lagi, yaitu 20,67 persen.
Dalam tulisan singkat ini, saya ingin menggarisbawahi capaian dari TKA tersebut dan apa yang mesti dilakukan setelah hasil TKA keluar, serta bagaimana kesenjangan di dalam pendidikan formal dan nonformal itu bisa diatasi.
Antusiasme siswa dalam TKA bukan hanya tergambar dalam jumlah peserta (kuantitatif), tapi juga dapat dilihat dalam hal kelancaran, ketertiban, dan semangat juang siswa saat mengikuti TKA (kualitatif).
Pelaksanaan TKA di SMAN 2 Tanggul, misalnya, berlangsung dengan tertib dan lancar. Seluruh peserta tampak mengikuti kegiatan dengan penuh kesungguhan dan disiplin. Panitia bersama tim proktor dan teknisi sekolah memastikan setiap sesi berjalan sesuai jadwal tanpa kendala teknis yang berarti.
Baca juga : Tes Kemampuan Akademik (TKA) Di SLB Berjalan Lancar Di Berbagai Wilayah
Pun demikian di SMAN 1 Rengel, Tuban, Jawa Timur, telah melaksanakan kegiatan TKA dengan penuh semangat, jujur, dan gembira. Selama pelaksanaan, suasana ujian berjalan dengan tertib dan kondusif. Para peserta tampak antusias dan percaya diri dalam mengerjakan soal, sementara para pengawas dan panitia bekerja dengan profesional.
Kepala SMA Negeri 1 Rengel menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pihak yang terlibat atas pelaksanaan TKA yang berjalan lancar, jujur, dan penuh semangat kebersamaan.
Di Sulawesi Selatan, SMAN 14 Makassar, juga melaksanakan TKA dengan tertib dan lancar. Salah seorang guru SMAN 14 Syahrul menuturkan, pelaksanaan TKA di lingkup sekolahnya berlangsung dengan kondusif dan penuh integritas.
Murid secara tertib mengikuti aturan, seperti menyimpan telepon genggam dan masuk ke dalam ruangan 15 menit sebelum ujian dimulai. TKA, sambung Syahrul, dirancang untuk menumbuhkan nilai kejujuran juga tanggung jawab murid. Melalui TKA, murid diajarkan untuk berperilaku jujur dan percaya terhadap kemampuan diri sendiri.
Ia pun meyakini ujian ini turut berdampak terhadap kehidupan sehari-hari murid. Melalui TKA pula, diharapkan dapat mengukur kemampuan akademik murid secara objektif dan adil.
Baca juga : Siswa Antusias, Tes Kemampuan Akademik di Sulsel Berjalan Lancar
Salah satu peserta TKA dari Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) 1 Banyuputih, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Lisana Sidqin Aliya, juga mengaku senang sekaligus lega setelah menyelesaikan ujian. Ia menyebut pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga untuk mengukur kemampuan diri sendiri.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) juga menyampaikan peserta TKA dari gelombang khusus yang merupakan murid satuan pendidikan nonformal dan informal (SPNF) antusias mengikuti tes tersebut.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Dirjen Pendidikan Vokasi PKPLK) Kemendikdasmen Tatang Muttaqin menyampaikan apresiasi atas antusiasme para peserta dalam mengikuti TKA gelombang khusus ini.
Menurut Tatang, TKA tidak hanya memiliki manfaat signifikan bagi murid sekolah formal, tetapi juga bagi peserta didik dari satuan pendidikan nonformal dan informal, baik sanggar kegiatan belajar (SKB) maupun pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).
Secara keseluruhan pelaksanaan TKA untuk peserta didik formal, nonformal, dan informal dapat dikatakan berjalan lancar dan sesuai dengan prosedur. TKA telah mendapat sambutan yang positif dari berbagai kalangan. Ini disebabkan karena TKA dinilai telah berperan penting dalam membantu siswa mengasah kemampuannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya