Dark/Light Mode

Ramadan sebagai Momentum Penyucian dan Pemulihan Hati

Senin, 16 Maret 2026 18:21 WIB
Ilustrasi momentum penyucian dan pemulihan hati (Gambar dibuat dengan AI)
Ilustrasi momentum penyucian dan pemulihan hati (Gambar dibuat dengan AI)

Hati merupakan pusat penggerak seluruh fungsi tubuh dan sekaligius sebagai pengarah perilaku manusia. Hati juga pusat akal, pikiran, ilmu pengetahuan, kelembutan, keberanian, kemuliaan, kesabaran, ketabahan, cinta, keinginan, kerelaan, kemarahan, dan seluruh sifat-sifat kesempurnaan (Al Jauziyyah, 2024).  

Menurut Abu Hurairah, hati merupakan raja seluruh organ tubuh manusia, sementara organ tubuh merupakan bala tentaranya, sehingga seluruh perilaku manusia bersumber dan digerakkan oleh hati.

Rosulullah SAW bersabda “ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, maka baik seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging itu buruk, maka seluruh tubuhnya juga akan buruk (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa segumpal daging yang menentukan perilaku manusia adalah hati, jika hati dipenuhi dengan keikhlasan, kesabaran, kerendahan hati, dan ketakwaaan, maka hati akan mendorong seluruh perilaku manusia dengan penuh kebaikan. Sebaliknya jika hati dipenuhi kebencian, kemarahan, iri, dengki, sombong dan penyakit hati lainnya, maka hati akan mendorong seluruh perilaku manusia dipenuhi perilaku yang buruk dalam kehidupannya.

Tiga Kondisi Hati Manusia

Seorang ulama besar, Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah mengategorikan hati menurut kondisi atau keadaannya dalam tiga klasifikasi. Pertama, hati yang sehat (qalbun salim), merupakan hati yang dipenuhi kepatuhan dan ketakwaaan kepada Allah SWT. Hati sehat terhindar dari berbagai penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, riya, dan kecintaan pada dunia yang berlebihan.

Baca juga : Kemenhub Terus Optimalkan Upaya Penguraian Kepadatan Di Pelabuhan Gilimanuk

Hati yang sehat selalu dalam kondisi ketundukan dan kepatuhan kepada sang pencipta. Ia mudah menerima kebenaran, nasehat dan tenang dalam menjalankan perintah dan larangan Allah SWT. Senang hati dalam menjalankan seluruh perintah Allah, tidak ada rasa beban sama sekali, dan selalu menjauhi seluruh apa yang dilarang-Nya. 

Kedua, hati yang sakit (qalbun marid). Hati yang sakit sesungguhnya masih memiliki keyakinan dan kerelaan dalam menjalankan perintah Allah SWT, akan tetapi dalam hatinya masih ada ragam penyakit seperti iri, dengki, riya, dan sombong. Orang yang mempunyai hati yang sakit kerapkali dihinggapi konflik batin, terdapat tarik-menarik antara kebaikan dan keburuhan. Jika magnet kebaikannya lebih dominan, maka dia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik, dan sebaliknya jika keburukan lebih dominan, maka ia memiliki kecenderungan untuk mengikuti yang buruk.

Bagi mereka yang memiliki hati yang sakit, kerapkali tidak mengetahui bahwa dirinya sedang sakit. Ia mengira sehat dari segala penyakit hati, padahal ragam penyakit hati hinggap tanpa dia menyadarinya karena menutup diri dan kesombongan dirinya.

Oleh karena itu, orang yang memiliki hati yang sakit membutuhkan obat untuk keluar dari penyakitnya. Penyakit ini susah disembuhkan melalui pengetahuan saja, tetapi perlu latihan spiritual melalui berdzikir, puasa, membaca Qur’an sampai menghayati maknanya, dan melakukan muhasabah atau audit diri dari perilaku yang selama ini dikerjakannya.

KetigaHati yang mati (qalbun mayyit). Yakni hati tidak mengenal tuhannya, tidak menyembah sesuai perintahNya dan Tuhan pun tidak mencintai dan meridhainya. Bahkan ia tetap berperilaku sesuai dengan kesenangan dan hawa nafsunya, meskipun dimurkai dan dibenci Allah SWT. Ia tidak peduli apakah Tuhannya ridha atau murka, ia tetap menjalankan syahwat dan kesenangannya (Al jauziyyah, 2024).

Baca juga : Pertagas Pastikan Keandalan Penyaluran Energi Jelang Idul Fitri 1447 H

Hati yang mati juga tidak sensitif terhadap ayat-ayat kebenaran. Ayat-ayat Allah tidak lagi menyentuh hatinya seakan hatinya sudah terkunci rapat. Di zaman Rasulullah SAW, terdapat tokoh yang menjadi contoh manusia dengan hati yang mati, tertutup kebenaran, meskipun Rasulullah sendiri yang menyampaikan dan mengajak ke jalan kebenaran sejati. Mereka adalah Abu Jahal dan Abu Lahab, keduanya masih ada kekerabatan dengan Rasulullah, tetapi orang yang paling lantang menolak kebenaran dan memusuhi Rasullullah, bahkan sampai menuduh nabi orang gila dan tukang sihir. Hal itu terjadi karena hatinya sudah mati, karena iri, dengki, kesombongan, kemunafikan sehingga menolak seluruh kebenaran Islam.

Ramadan dan Momentum Pemulihan Hati

Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh dengan pengampunan, bulan penuh berkah, dan bulan penyucian diri dari beragam kesalahan. Momentum ini tentu relevan dengan obat penyembuhan hati bagi mereka yang memiliki penyakit hati sebagaimanana dijelaskan sebelumnya. 

Karena Ramadan merupakan bulan yang harus dioptimalkan sebagai transformasi batin. Ia mengajarkan manusia untuk menahan diri, tidak mudah marah, merasakan penderitaan orang lain, dan tunduk dan patuh terhadap segala perintah dan larangan Allah SWT. 

Namun demikian, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi yang lebih esensial adalah menyucikan hati agar kembali memiliki qalbun salim, hati yang bersih, suci dan selamat dunia hingga akhirat kelak.

Mementum bulan Ramadan ini bisa digunakan secara optimal untuk sarana penyembuhan hati, paling tidak ada 5 amalan penyembuhan hati yang perlu dilakukan agar hati yang sakit atau bahkan hati yang mati kembali menjadi sehat.

Baca juga : Ramadan, Momentum Ibu Menata Strategi Keuangan Keluarga

Pertama, membaca dan mentadabburi Al-Qur'an. Ramadan dikenal sebagai bulan turunnya Al Quran, sehingga membaca dan mentadabburi bisa menjadi penyembuh hati. Barangsiapa yang membacanya maka akan memperoleh ketenangan, kedamaian jiwa dan dijauhkan dari berbagai penyakit hati, seperti iri, dengki, dan kesombongan diri.

Kedua, Memperbanyak Dzikir kepada Allah SWT. Ketika manusia selalu mengingat Allah dengan menyebut nama-namanya, maka Allah akan memberikan ketenangan jiwa, kedamaian hati dan dikuatkan spiritualnya. Dengan selalu mengingat Allah, hati akan menjadi lembut dan dijauhkan dari hawa nafsu dan emosi negatif.

Ketiga, memperbanyak istighfar dan taubat nasuha. Ramadan merupakan bulan pengampunan, sehingga umat islam dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan mobon ampun kepada Allah SWT. Rasulullah SAW juga mengajarkan kepada umatnya melalui doa paling utama di bulan Ramadan adalah doa memohon ampun dari segala dosa-dosa dan bertaubat kepada-Nya. Dengan memperbanyak istighfar dan memohon ampun, maka akan menghilangkan dosa-dosa dan membersihkan berbagai penyakit hati, sehingga kembali menjadi bersih dan suci.

Keempat, memperbanyak sedekah dan amal sosial. Sedekah mampu melembutkan hati dan empati kepada mereka yang tidak memiliki sesuatu. Dengan berbagi kepada orang lain, kita bisa mengurangi kesedihan dan berbagi kebahagiaan di bulan Ramadan, dan juga mengurangi kecintaan terhadap dunia yang berlebihan dan mendekatkan diri kepada sang Pencipta. 

Kelima, melaksanakan ibadah malam (Qiyamul lalil). Menjalankan salat malam seperti Tarawih dan Tahajud akan memberikan ketenangan batin, kedamaian hati dan dijauhkan dari berbagai penyakit hati, sehingga menjadi sarana efektif untuk menyembuhkan segala penyakit hati di tubuh manusia.

Dengan demikian, selagi manusia masih hidup baik yang hatinya sakit dan mati masih memiliki potensi untuk sembuh. Apalagi dalam momentum Ramadan, pintu-pintu langit terbuka untuk diketuk oleh hambanya yang bertaubat dari segala dosa-dosanya. Semoga kita semua dipanjangkan umurnya dan diketemukan pada bulan Ramadan tahun depan.

MUHAMAD ROSIT
MUHAMAD ROSIT
Dosen Fikom Univerasitas Pancasila

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.