Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
AI Tak Membunuh Pendidikan Tinggi, Tetapi Membongkar Kepalsuannya
Selasa, 11 Agustus 2026 14:58 WIB
Kehadiran Artificial Intelligence (AI) di ruang-ruang kampus belakangan ini sering dipandang sebagai ancaman. Mahasiswa menggunakan ChatGPT untuk mencari ide, menyusun tulisan, merangkum buku, bahkan membantu mengerjakan tugas. Sebagian perguruan tinggi meresponsnya dengan larangan, pemeriksaan penggunaan AI, hingga kekhawatiran bahwa teknologi ini akan menghancurkan integritas akademik.
Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk diajukan: mengapa kehadiran AI begitu mudah mengguncang pendidikan tinggi? Jangan-jangan persoalannya bukan karena AI terlalu pintar, tetapi pendidikan tinggi selama ini terlalu bergantung pada sistem yang memang mudah digantikan oleh mesin.
AI mungkin bukan sedang membunuh pendidikan tinggi. AI justru sedang membongkar kepalsuan yang selama ini kita anggap sebagai pendidikan.
Gagasan ini sebenarnya tidak sepenuhnya baru. Lebih dari satu abad lalu, Filsuf Pendidikan Amerika, John Dewey, dalam My Pedagogic Creed (1897), menulis: "I believe that all education proceeds by the participation of the individual in the social consciousness of the race"
Bagi Dewey, pendidikan bukan sekadar proses memasukkan pengetahuan ke dalam kepala peserta didik. Pendidikan berkaitan dengan bagaimana seseorang berkembang melalui pengalaman, kehidupan sosial, pembentukan kebiasaan, gagasan, dan kemampuan untuk mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Pandangan tersebut menjadi semakin relevan ketika AI hadir di ruang pendidikan. Jika pendidikan hanya dipahami sebagai proses memperoleh informasi, maka AI jelas memiliki keunggulan. Mesin dapat memberikan informasi dengan cepat, menyusun ringkasan, membantu menganalisis data, bahkan menghasilkan tulisan dalam hitungan detik.
Tetapi pendidikan seharusnya lebih besar daripada sekadar memperoleh informasi. Di sinilah AI justru menjadi cermin bagi pendidikan tinggi. Ketika Tugas Disamakan dengan Belajar
Baca juga : Farmasi 4.0: Siapkah Generasi Apoteker Muda Berdampingan dengan AI?
Selama bertahun-tahun, keberhasilan mahasiswa sering kali diukur melalui tugas. Dosen memberikan makalah, rangkuman, presentasi, laporan, atau sejumlah pertanyaan untuk dijawab. Mahasiswa mengerjakannya, mengumpulkan, kemudian memperoleh nilai.
Siklus tersebut terlihat seperti proses pendidikan. Tetapi apakah mengerjakan tugas selalu berarti belajar?
Seorang mahasiswa dapat menghasilkan belasan halaman makalah tanpa benar-benar memahami apa yang ditulisnya. Ia dapat menghafal materi menjelang ujian dan melupakannya beberapa hari kemudian. Ia dapat memperoleh nilai tinggi tanpa memiliki kemampuan argumentasi yang kuat.
Kehadiran AI membuat persoalan tersebut semakin terlihat.
Jika sebuah tugas dapat diselesaikan AI dalam hitungan detik, mungkin masalahnya bukan semata-mata karena mahasiswa menggunakan AI. Bisa jadi desain tugas tersebut memang terlalu mudah untuk direduksi menjadi pekerjaan administratif.
AI tidak menciptakan budaya belajar yang dangkal. AI hanya membuat kedangkalan itu semakin mudah terlihat.
Ketika AI bisa menulis makalah, apa yang sebenarnya kita nilai? Persoalan berikutnya adalah integritas akademik.
Baca juga : AI di Dunia Farmasi: Membantu Tenaga Farmasi, Bukan Menggantikan Perannya
Kekhawatiran bahwa mahasiswa akan menggunakan AI untuk membuat makalah, artikel, atau tugas tentu beralasan. Pendidikan tidak akan bermakna jika mahasiswa menyerahkan sepenuhnya proses berpikir kepada mesin.
Tetapi melarang AI bukanlah jawaban untuk semua persoalan. Sebab, jika tugas mahasiswa hanya berupa “buatlah makalah tentang X”, maka pertanyaannya sederhana: apa yang sebenarnya sedang diuji? Kemampuan mencari informasi? Kemampuan menulis? Kemampuan menyusun kalimat? Atau kemampuan berpikir?
AI memaksa perguruan tinggi untuk mendesain ulang sistem evaluasinya. Tugas mahasiswa mungkin perlu bergeser dari sekadar menghasilkan tulisan menjadi mempertanggungjawabkan gagasan. Mahasiswa tidak cukup hanya mengumpulkan makalah, tetapi harus mampu menjelaskan mengapa memilih teori tertentu, bagaimana memperoleh data, mengapa mengambil kesimpulan tertentu, dan apa kelemahan dari argumentasinya.
Dengan demikian, AI bukan dihadapi dengan sekadar larangan, tetapi dengan pendidikan yang lebih sulit untuk dipalsukan.
AI dan Makna Pendidikan
Di titik ini, pemikiran Dewey kembali relevan. Jika pendidikan merupakan proses pembentukan manusia melalui pengalaman dan kehidupan sosial, maka pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan menghasilkan jawaban.
AI dapat menghasilkan jawaban. Tetapi siapa yang bertanggung jawab atas jawaban tersebut? AI dapat membantu mahasiswa menyusun argumen. Tetapi siapa yang harus mempertanggungjawabkan argumen tersebut?
Baca juga : Presiden China Tolak AI Didominasi Satu Negara
AI dapat membantu menyelesaikan persoalan. Tetapi siapa yang harus memahami konsekuensi dari solusi tersebut?
Jawabannya tetap manusia. Karena itu, tantangan terbesar pendidikan tinggi di era AI bukan bagaimana membuat mahasiswa tidak menggunakan AI, melainkan bagaimana memastikan bahwa penggunaan AI tidak menghilangkan proses manusia untuk mengalami, mempertanyakan, memahami, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan.
AI Bukan Musuh Pendidikan Tinggi
Pada akhirnya, mungkin kita terlalu sibuk bertanya apakah AI akan menggantikan mahasiswa, dosen, atau perguruan tinggi. Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah pendidikan tinggi masih mampu memberikan sesuatu yang tidak dapat diberikan mesin?
Jika jawabannya hanya berupa informasi, rangkuman, tulisan, dan jawaban atas pertanyaan, maka AI memang akan menjadi pesaing yang sangat kuat. Tetapi jika pendidikan tinggi mampu membangun manusia yang kritis, beretika, kreatif, mampu mengambil keputusan, mampu memahami realitas sosial, dan berani mempertanggungjawabkan pikirannya, maka AI justru dapat menjadi alat yang memperkuat pendidikan.
AI bukanlah pembunuh pendidikan tinggi. AI adalah cermin. Ia memperlihatkan kepada kita mana pendidikan yang benar-benar membentuk manusia dan mana yang selama ini hanya menghasilkan tugas, nilai, dan gelar.
Dan mungkin, yang paling perlu ditakuti bukanlah ketika AI menjadi semakin pintar. Yang seharusnya kita takutkan adalah ketika manusia semakin tidak mau berpikir.
Ahmad Syahyana
Dosen Prodi S1-Manajemen, Universitas Ubudiyah Indonesia
Dosen Prodi S1-Manajemen, Universitas Ubudiyah Indonesia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya