Dewan Pers

Dark/Light Mode

Waswas Tarif Cukai Naik, Ini Harapan Pekerja SKT

Kamis, 2 Desember 2021 19:19 WIB
Petani tembakau. (Foto: Ist)
Petani tembakau. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Para pekerja pelinting dari industri Sigaret Kretek tangan (SKT) memohon kepada pemerintah agar melindungi segmen padat karya yang menjadi sumber mata pencaharian mereka. Hal ini berkaitan dengan kekhawatiran pekerja SKT kehilangan pekerjaan jika cukai rokok linting jadi naik pada 2022.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP RTMM-SPSI) Sudarto mengatakan, puluhan ribu pekerja SKT sudah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) selama 10 tahun terakhir. Di luar serikat pekerja, dia memprediksi masih banyak lagi jumlah pekerja yang terdampak.

Berita Terkait : Catet Nih, Pejabat Negara Dilarang Pergi-pergi Ke Luar Negeri

"Sekarang ini, jumlah anggota RTMM-SPSI adalah sekitar 243 ribu orang. Lebih dari 153 ribu orang bekerja di industri rokok, yang 60 persen adalah pekerja di SKT," ungkapnya, di Jakarta, Kamis (2/12).

Dirinya berharap pemerintah dapat berbelas kasihan terhadap para pekerja SKT ini. "Mohon bantu agar pekerja di sektor padat karya tetap bisa bekerja di masa pandemi, dengan cara tidak menaikkan cukai SKT pada 2022," pintanya.

Berita Terkait : Kasus Positif Naik 404, Kematian Harian Bertambah 11

Kenaikan cukai SKT, kata Sudarto, merupakan salah satu pemicu PHK di industri SKT. Apalagi,pekerja SKT kebanyakan adalah perempuan dengan pendidikan yang terbatas.

Sementara Pengamat Ketenagakerjaan Payaman Simanjuntak mengatakan, keputusan kebijakan kenaikan cukai tembakau jangan sampai membuat sektor padat karya terkena dampak yang bertubi-tubi setelah terpuruk dari dampak pandemi Covid-19.

Berita Terkait : Waspadai Mafia Tanah, Ini Saran Wamen ATR Surya

"Jangan sampai ada dampak yang terlalu besar, yakni PHK akibat kebijakan tersebut. Pemerintah sebaiknya mempertimbangkan itu," saran dia. 
 Selanjutnya