Dewan Pers

Dark/Light Mode

79 Persen Sampah Plastik Masuk Sungai Dan Laut

Minggu, 5 Desember 2021 21:51 WIB
Audit merek penghasilan sampah plastik yang dilakukan Nexus3 (Foto: Istimewa)
Audit merek penghasilan sampah plastik yang dilakukan Nexus3 (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Yayasan Bali Fokus atau Nexus3 melakukan brand audit sampah plastik terhadap 3 sekolah di Bali. Hasilnya, ada tiga merek yang paling banyak menyumbang sampah plastik dari sisa kemasannya. Ketiga merk itu adalah My, O, dan I.

Penasihat Senior Nexus3 Yuyun Ismawati mengatakan, hasil temuan lembaganya, My dalam beberapa tahun terakhir selalu masuk dalam daftar perusahaan penghasil sampah plastik tertinggi di Indonesia. “My merupakan salah satu yang menghasilkan limbah kemasan plastik dari produk-produknya yang sulit terurai di lingkungan dan bernilai rendah untuk didaur ulang,” kata Yuyun, dalam keterangannya, Minggu (5/12).

Dia mengatakan, brand audit dilakukan di 3 Kabupaten Bali, yaitu SD Negeri 4 Yangapi Kabupaten Bangli, SMP Negeri 3 Kuta Utara Kabupaten Badung, dan SD Hainan School Kota Denpasar. Yuyun melanjutkan, My, O, dan I sebetulnya memiliki kemampuan untuk melakukan inovasi pengembangan kemasan isi ulang. “Tetapi selama ini, solusi yang ditawarkan oleh perusahaan hanya berfokuskan pada sistem daur ulang,” tambahnya.

Berita Terkait : Gunung Semeru Erupsi, Pertamina Pastikan Stok BBM Dan LPG Aman

Padahal, data menunjukkan tingkat daur ulang hanya 9 persen pada tingkat global. Sedangkan 12 persen sampah dibakar dan 79 persen sampah dikirim ke tempat pembuangan terlepas, seperti ke sungai atau laut.

Seharusnya, kata Yuyun, perusahaan-perusahaan ini juga memiliki tanggung jawab terhadap sampah pasca konsumsi dari produk mereka. Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah Pasal 15, produsen wajib mengelola kemasan dan atau barang yang diproduksinya yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam.

Penanggung Jawab Hainan School Denpasar Elvi Mariati Pintubatu menyadari, sampah menjadi masalah global di seluruh belahan dunia. Karena itu, anak didik harus diajarkan untuk meminimalisir sampah, reuse, replace dan tindakan lainnya.

Berita Terkait : Jokowi Ketar-ketir

"Ini bisa menjadi salah satu solusi terhadap masalah yang ada. Tetapi, apakah tindakan ini akan mengakhiri masalah global yang sedang kita hadapi? Ternyata sama sekali tidak,” ujar Evi.

Menurut dia, produsen atau pencipta produk yang dikonsumsi publik sebaiknya mengevaluasi desain kemasannya. “Jika anak-anak kita ajarkan tentang tanggung jawab dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan, maka orang dewasa tentunya harus menjadi teladan dalam hal itu,” lanjutnya.

Selain audit merek, Nexus3 juga mengidentifikasi jenis-jenis sampah plastik sekali pakai terbanyak yang dihasilkan ketiga sekolah tersebut. Di antaranya adalah botol minum plastik, kemasan sachet, dan kemasan air minum dalam kemasan (AMDK). Plastik sekali pakai yang ditemukan ini adalah jenis plastik yang sulit untuk didaur ulang, sehingga berpotensi mencemari dan membahayakan lingkungan karena dapat terpecah dan melepaskan mikroplastik ke lingkungan.

Berita Terkait : Tahun Baru, Beban Baru

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Bangli Ida Ayu Yudi Sutha menjelaskan, polusi plastik di sekolah tidak bisa ditangani hanya oleh Pemerintah dan pihak sekolah. Plastik adalah masalah global dan memerlukan peranan semua pihak untuk mengatasinya. “Kegiatan brand audit adalah salah satu cara untuk meminta pihak produsen supaya lebih bertanggung jawab terhadap produknya,” ujarnya. [SAR]