Dewan Pers

Dark/Light Mode

Soal Kenaikan Upah

FSBI Ingatkan Buruh Jangan Mau Ditunggangi Kepentingan Partai

Jumat, 19 Nopember 2021 16:19 WIB
Aksi damai Forum Solidaritas Buruh Indonesia (FSBI) di Patung Kuda, Jumat (19/11). (Foto: Ist)
Aksi damai Forum Solidaritas Buruh Indonesia (FSBI) di Patung Kuda, Jumat (19/11). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rencana penetapan UMP oleh pemerintah direspon oleh banjir protes oleh kalangan buruh. Pasalnya, dari bocoran yang didapat buruh, kenaikan dinilai jauh dari tuntutan buruh sebesar 10 persen, sementara info yang beredar, kenaikan sekitar 1 persen.

Meski banyak yang tak puas, ada yang mengingatkan agar buruh tetap bersyukur karena masih bisa bekerja. Menyikapi protes buruh yang meminta kenaikan upah, Forum Solidaritas Buruh Indonesia (FSBI) meminta buruh bersyukur masih bisa bekerja dalam situasi pandemi ini.

Pasalnya, tidak sedikit perusahaan yang gulung tikar selama Pandemi Covid-19 dan akibatnya banyak buruh kehilangan pekerjaannya.

Berita Terkait : Satgas: Jangan Antipati Terhadap Kebijakan Pemerintah

"Dampak pandemi telah menghancurkan ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Banyak pabrik menghentikan produksi dan merumahkan buruhnya. Jadi buruh yang sekarang masih bisa bekerja, adalah buruh yang beruntung. Sudah sepatutnya buruh ini bersyukur masih bisa bekerja," ujar kordinator aksi FSBI Ahmad Nur dalam aksi damai di Patung Kuda, Jumat (19/11).

Dia mengakui, kenaikan upah masih belum sesuai harapan buruh. Hal itu karena situasi ekonomi yang masih terdampak oleh Pandemi. Meski sudah lebih baik dari tahun lalu, tapi belum pulih 100 persen.

"Kalau situasi normal, dan upah tidak naik, bolehlah buruh menuntut kenaikan upah. Tapi dalam kondisi seperti ini, buruh masih bekerja dan menerima upah itu sangat beruntung," tambahnya.

Berita Terkait : BRI dan BNI Tancap Gas Kembangin Bank Digital

Nur mengingatkan, jika buruh minta upah naik tinggi, konsekuensinya beban perusahaan berat dan akhirnya tutup. "Siapa yang rugi? Ya buruhnya sendiri," cetusnya.

Oleh karena itu, dia meminta buruh menyikapi kenaikan upah ini secara bijaksana. Lebih baik tetap bekerja dan terima upah daripada upah tinggi tapi kemudian menganggur karena pabrik tutup.

Dia juga menambahkan, momentum penetapan upah ini rawan ditunggangi kepentingan politik berkedok serikat buruh.

Berita Terkait : Hakim Ingatkan Jaksa Jangan Asal Terapkan Hukum

"Ada serikat buruh yang sudah menjelma menjadi partai. Kaum buruh berhati-hatilah, yang sepertinya memperjuangkan kepentingan buruh, sejatinya adalah pencitraan Partai Buruh. Di mana-mana partai itu sama, hanya seolah peduli ketika mereka butuh, tapi kemudian lupa kepada buruh," tutupnya. [FAQ]