Dewan Pers

Dark/Light Mode

Mendekati Nataru

Harga Barang Semakin Naik, Pedagang Pusing

Minggu, 12 Desember 2021 06:40 WIB
Ilustrasi. Pedagang. (Foto: Istimewa).
Ilustrasi. Pedagang. (Foto: Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Mendekati Natal dan Tahun Baru (Nataru), harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Harga minyak goreng (migor) dan cabe yang melambung tinggi bikin pusing pedagang.

Peda­gang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri mengatakan, tren kenaikan sudah terjadi sejak akhir November lalu.

“Yang bikin kami pusing, harga sudah naik tinggi meski permintaan belum ada lonjakan. Nataru juga masih dua pekan lagi, artinya harga komoditas ini masih berpotensi naik terus,” kata Mansuri kepada Rakyat Merdeka.

Berita Terkait : Pemda Jakarta, Jabar dan Banten Bakal Jadi Role Model Pelayanan Publik Berbasis HAM

Selain cabe dan minyak gore­ng, kata Mansuri, harga daging juga berpotensi naik tinggi saat perayaan Nataru. Pasalnya, har­ga daging sapi segar berdasarkan data Informasi Pangan Jakarta, Jumat (10/12), sudah di angka Rp 128 ribu per kilogram (kg). Padahal, harga normal Rp 120 ribu per kg.

Untuk cabe merah keriting di harga Rp 49.900 per kg, naik tinggi dari harga normal di Rp 30 ribu per kg.

Sementara, harga cabe rawit merah sudah mencapai Rp 71 ribu per kg. Naik dari harga normal Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu per kg.

Berita Terkait : Harga Cabe Makin Pedes

Untuk minyak goreng, hargan­ya masih belum beranjak dari Rp 19.440 per kg. Jauh dari harga normal di Rp 14.500 per kg.

Menurut Mansuri, faktor kenai­kan harga pangan biasanya terjadi karena permintaan tinggi jelang Nataru. Tetapi, saat ini faktor domi­nannya karena cuaca yang buruk di banyak wilayah produksi.

Karena itu, kata Mansuri, pemetaan produksi menjadi hal yang sangat penting, agar kenaikan harga pangan tidak berlarut-larut di pasar.

Berita Terkait : Menhub: Kebijakan Di Libur Nataru Pengetatan, Bukan Penyekatan

“Kesiapan Pemerintah men­gawal produksi petani harus ditingkatkan. Misalnya cabe, selalu masuk ke fase tinggi. Har­usnya ada pemetaan yang jelas agar bisa mengatasi kekurangan pasokan saat permintaan tinggi,” tegas Mansuri.
 Selanjutnya