Dark/Light Mode

Impor RI Dari Rusia Tak Besar

Pemerintah Bisa Cari Subtitusinya

Minggu, 27 Februari 2022 06:46 WIB
ilustrasi
ilustrasi

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani menilai, ketegangan Rusia dan Ukraina berpotensi ganggu kinerja perdagangan Indonesia.

Shinta menuturkan, selama ini kedua negara yang tengah bersitegang itu bisa dibilang sebagai rekan dagang dan investasi non tradisional Indonesia.

“Keduanya merupakan negara tujuan alternatif pelaku usaha Indonesia untuk memperluas pasar ekspor,” katanya, di Jakarta, Jumat (25/2).

Bos Sintesa Group ini mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mencoba untuk membuat sejumlah perjanjian dagang dengan Rusia sebagai bagian dari diversifikasi pasar walau upaya ini belum selesai.

Baca juga : Berpikir Positif Tapi Jadi Racun Hidup? Begini Cara Mengatasinya

Nilai kegiatan ekspor impor dan investasi yang melibatkan Rusia-Ukraina dengan Indonesia masih tergolong minim.

Malahan bisa dibilang tertinggal bila dibandingkan perdagangan Indonesia dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

“Jadi, dampak konflik ini secara langsung terhadap relasi perdagangan dan investasi di Indonesia sebenarnya tidak signfikan,” ujarnya.

Tidak signifikan, ditegaskan Shinta, bukan berarti nggak ada efeknya.

Baca juga : Ini 16 Daerah Yang Bakal Penuhi Kebutuhan Kedelai Nasional

Shinta mencontohkan, dari sisi perdagangan, Indonesia berpotensi mengalami gangguan suplai terutama untuk minyak dan gas (migas), karena adanya embargo global kepada Rusia yang bisa mempengaruhi stabilitas suplai dan harga minyak global.

Sejauh ini, Shinta mengungkapkan, perdagangan Indonesia dengan Rusia lebih banyak didominasi oleh produk migas, besi, baja, dan Alutsista. Nilai impor sharenya pun tak besar, hanya sekitar 1 persen.

Sebenarnya semua komoditas itu bisa disubtitusi negara lain. Sementara, dari sisi ekspor ke Rusia-Ukraina, produk yang cukup dominan diekspor oleh Indonesia adalah Crude Palm Oil (CPO).

Namun, jumlah CPO yang diekspor ke Rusia-Ukraina juga sedikit bila dibandingkan ekspor CPO ke negara-negara lain.

Baca juga : Persiapan MotoGP Mandalika, Pemerintah Genjot Vaksinasi

“Ini artinya, mudah bagi Indonesia untuk melakukan diversifikasi atau pengalihan ekspor CPO ke negara lain agar kinerja ekspornya tidak terganggu oleh konflik di Eropa Timur tersebut,” jelasnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.