Dewan Pers

Dark/Light Mode

Cetak Laba Terbaik Sepanjang Sejarah

Erick: BNI Makin Siap Lompat Lebih Tinggi

Senin, 1 Agustus 2022 07:30 WIB
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar (tengah) didampingi Wakil Direktur Utama BNI Adi Sulistyowati (kiri) dan Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini melakukan sesi foto disela pemaparan kinerja BNI Semester I 2022 di Jakarta, Jumat (29/7/2022). BNI membukukan tren kinerja dan ekspansi yang solid pada kuartal kedua tahun ini diiringi dengan upaya memperkuat green portfolio dan implementasi prinsip-prinsip keberlanjutan atau ESG di setiap aspek bisnis perusahaan. Laba bersih semester I tahun 2022 tercatat mencapai Rp8,8 triliun atau tumbuh 75,1 persen secara tahunan atau year-on-year. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc).
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar (tengah) didampingi Wakil Direktur Utama BNI Adi Sulistyowati (kiri) dan Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini melakukan sesi foto disela pemaparan kinerja BNI Semester I 2022 di Jakarta, Jumat (29/7/2022). BNI membukukan tren kinerja dan ekspansi yang solid pada kuartal kedua tahun ini diiringi dengan upaya memperkuat green portfolio dan implementasi prinsip-prinsip keberlanjutan atau ESG di setiap aspek bisnis perusahaan. Laba bersih semester I tahun 2022 tercatat mencapai Rp8,8 triliun atau tumbuh 75,1 persen secara tahunan atau year-on-year. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc).

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir puas dengan kinerja semester I-2022 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. Diharapkannya, bank pelat merah itu bisa melompat lebih tinggi lagi.

Pada semester I-2022, BNI berhasil mengantongi laba bersih Rp 8,8 triliun, atau tumbuh 75,1 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Erick mengapresiasi capaian kinerja BNI itu.

“Dengan mencetak laba terbaik sepanjang sejarah, bank berlogo 46 ini semakin siap untuk melompat lebih tinggi,” ujar Erick dalam keterangan resminya, kemarin.

Erick mengapresiasi seluruh jajaran manajemen dan Hi-Movers, khususnya jajaran komisaris.

“Komisaris BNI ini kan jelas, ada perwakilan kementerian lain. Ada perwakilan masyarakat, ada perwakilan profesi, dan perwakilan ahli,” ujar Erick.

Erick memuji dukungan Komisaris Utama BNI Agus Martowardojo. Menurutnya, Agus sebagai mantan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini mau menjadi Komisaris Utama BNI. Agus mendampingi manajemen BNI untuk bekerja lebih maksimal.

Erick juga memuji komposisi jajaran kepemimpinan di BNI yang sukses mewujudkan kesetaraan gender dan efisien. 

Berita Terkait : Cetak Laba Terbaik, Menteri Erick Apresiasi BNI

Sebelumnya, Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menjelaskan, kinerja BNI makin solid tak lepas dari dampak pemulihan ekonomi.

“Kami bersyukur dengan pencapaian kinerja sampai dengan pertengahan tahun ini. Kinerja fungsi intermediasi semakin kuat seiring tren pemulihan ekonomi,” kata Royke dalam Public Expose BNI Semester I-2022 secara virtual, Jumat (29/7).

Pertumbuhan kinerja organik berbasis layanan digital di BNI, sebut Royke, telah menghasilkan Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (PreProvisioning Operating Profit PPOP) yang kuat dan tertinggi dalam sejarah kinerja BNI.

 

Net Interest Margin (NIM) stabil di kisaran 4,7 persen. Dan ditopang oleh tingginya pencapaian non-interest income yang pada semester I-2022 ini mencapai Rp 7,6 triliun, atau naik 11,0 persen.

Laba bersih tumbuh karena fungsi intermediasi yang terus menguat. Kredit pada semester I-2022 tercatat Rp 620,42 triliun, atau tumbuh 8,9 persen.

Royke menyebut Program BNI Xpora sebagai salah satu pendorong realisasi kredit, terutama di segmen kecil dan menengah.

Selama semester I-2022, BNI Xpora berhasil menyalurkan kredit senilai Rp 7,2 triliun. Bahkan hingga Juni 2022, penyaluran kredit kepada debitur UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) yang berorientasi ekspor telah mencapai Rp 22,1 triliun, dengan jumlah debitur mencapai 39 ribu orang.

Berita Terkait : Lewat Restorasi Lahan, Sang Hyang Seri Siap Sejahterakan Petani

Kinerja penghimpunan dana masyarakat juga tetap kuat dengan nilai Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 691,84 triliun atau naik 7,0 persen. DPK tersebut didominasi oleh Current Account Saving Account (CASA) yang mencapai 69,2 persen dari total DPK yang terhimpun.

Penyumbang terbesar CASA adalah nasabah tabungan yang aktif bertransaksi melalui aplikasi BNI Mobile Banking dan giro, dari nasabah pengguna cash management services pada BNI Direct.

“Per Juni 2022, pengguna BNI Mobile Banking berkontribusi terhadap 59,2 persen tabungan. Sementara, 92 persen dana giro dikontribusikan oleh pengguna layanan cash management,” ungkap Royke.

Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini menambahkan, kredit di segmen korporasi masih menjadi motor akselerasi kredit BNI.

BNI menyalurkan pencairan kredit Rp 74,3 triliun, lebih tinggi dibandingkan kuartal II-2021 yang mencapai Rp 59,3 triliun. Pencairan kredit ini utamanya disalurkan kepada top tier debitur korporasi.

Akselerasi penyaluran kredit ini menjadikan pembiayaan ke segmen korporasi swasta tumbuh 14,7 persen menjadi Rp 205,3 triliun, segmen large commercial tumbuh 31,2 persen menjadi Rp 48,5 triliun. Segmen small juga tumbuh 10,2 persen dengan nilai kredit Rp 100,2 triliun.

Secara keseluruhan, kredit di sektor business banking ini tumbuh 7,7 persen menjadi Rp 512,3 triliun.

Berita Terkait : Mendag Zulhas Fokus Pada Perbaikan Harga Komoditas Di Tingkat Petani

Novita meyakini, ruang untuk ekspansi BNI masih sangat terbuka. Hal ini ditunjukkan dari Loan to Deposit ratio (LDR) yang berada pada posisi 90,1 persen. Di sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) berada pada posisi kuat 18,42 persen.

Peningkatan kinerja yang baik tersebut diiringi oleh penguatan kualitas aset perusahaan yang ditopang berbagai faktor, perbaikan Loan at Risk (LaR) ke posisi 19,6 persen (termasuk kredit restrukturisasi karena Covid-19), dan Non Performing Loan (NPL) yang menurun ke level 3,2 persen. Cost Of Fund (CoF) atau Biaya Dana semakin efisien di level 1,4 persen, serta NIM stabil di 4,7 persen.

Kredit restrukturisasi Covid-19 tercatat telah berada pada Rp 62,9 triliun. Atau turun dari posisi periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 81,8 triliun.

“Bahkan, 64 persen debitur BNI yang terdampak pandemi telah mulai melakukan pembayaran di atas base lending rate. Kami optimis tren perbaikan kualitas kredit akan terus berjalan di semua segmen,” pungkasnya. ■