Dark/Light Mode

Demi Jaga Pasokan Listrik

ESDM Lanjutkan Bangun Proyek PLTU Batubara

Selasa, 20 September 2022 06:30 WIB
Pembangkit Listrik Tenaga Uap. (Foto: Istimewa).
Pembangkit Listrik Tenaga Uap. (Foto: Istimewa).

 Sebelumnya 
“Ini bukan biaya kecil. Kami harus lihat kemampuan fiskal Indonesia, seberapa jauh me­nyerap ini. Siapa yang seharusnya mendanai ini. Apakah filantropi, multilateral, bi­lateral atau swasta tertarik masuk,” katanya.

Baca juga : Prabowo-Puan Sepakat Bangun Komunikasi Politik Terbuka

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengata­kan, mempercepat pensiun dini PLTU batubara akan menelan biaya lebih dari 32 miliar dolar AS hingga 2050.

Baca juga : Alumni Fakultas Pertanian Unikarta: IKN Bangkitkan Bisnis Pangan Lokal

Namun, kata Fabby, rencana tersebut mempunyai manfaat positif terhindarnya biaya sub­sidi listrik dari PLTU. Dan biaya kesehatan yang masing-masing berjumlah 34,8 miliar dolar AS dan 61,3 miliar dolar AS.

Baca juga : Hadirkan Layanan Listrik Prima, 3 Proyek PLN UIP Jawa Bagian Barat Resmi Bertegangan

Menurutnya, biaya sub­sidi listrik dan kesehatan itu 2 hingga 4 kali lebih besar dari biaya aset terbengka­lai, penghentian pembangkit (decommissioning), transisi pekerjaan dan kerugian peneri­maan negara dari penghentian batubara. [KPJ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.