Dark/Light Mode

Menteri ESDM: Minyak Dan Gas Bumi Masih Berperan Penting Di Era Transisi Energi

Selasa, 25 Juli 2023 11:52 WIB
Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam Opening Ceremony Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition IPA Convex ke-47 di Serpong, Selasa (25/7). (Foto: tangkapan layar IG @ipaconvex_)
Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam Opening Ceremony Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition IPA Convex ke-47 di Serpong, Selasa (25/7). (Foto: tangkapan layar IG @ipaconvex_)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menegaskan, subsektor minyak dan gas bumi (migas) masih memegang peranan penting dalam era transisi energi. Terutama, dalam penyediaan kebutuhan energi global. Berkaca pada peningkatan produksi dan konsumsi migas global dalam 10 tahun terakhir.

Arifin menjelaskan, produksi minyak meningkat dari 88,6 juta barel per hari pada tahun 2012, menjadi 93,8 juta barel per hari pada tahun 2022.

Sedangkan konsumsi minyak meningkat dari 89,1 juta barel per hari pada tahun 2012, menjadi 97,3 juta barel per hari pada tahun 2022.

Produksi gas juga meningkat 20 persen dalam 10 tahun terakhir. Sementara pertumbuhan konsumsi  gas, melaju sebesar 1,7 persen per tahun.

"Hal ini menunjukkan, bahwa di era transisi energi saat ini, minyak dan gas bumi masih berperan penting dalam menyediakan kebutuhan energi global yang terjangkau. Diandalkan juga untuk sektor transportasi dan industri, seiring pertumbuhan ekonomi dan populasi yang meningkat. Terutama, di negara-negara berkembang," ujar Arifin dalam Opening Ceremony Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) ke-47 di Serpong, Selasa (25/7).

Baca juga : Kursi Menteri Tinggal 2, NasDem Masih Untung

Arifin menekankan, ketahanan energi membutuhkan energi yang lebih aman yang berkelanjutan, yang tidak terlalu terpengaruh oleh guncangan dan ketidakpastian, serta rendah emisi karbon. Tidak hanya tentang mengamankan pasokan energi, dengan harga yang terjangkau.

"Industri minyak dan gas tengah menghadapi tekanan yang tinggi, untuk mengklarifikasi implikasi transisi energi bagi operasi dan model bisnisnya. Serta menjelaskan kontribusi yang dapat diberikan, untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK)," papar Arifin.

Menurutnya, memenuhi permintaan energi yang meningkat sembari menurunkan emisi global, adalah tantangan yang cukup berat.

Untuk itu, perlu dilakukan upaya penurunan emisi global di sektor migas. 

Salah satunya, menurunkan emisi GRK pada tahap operasional melalui efisiensi energi, pengurangan suar, dan mengelola emisi metana. Serta menjalankan operasional menggunakan sumber energi terbarukan atau rendah karbon.

Baca juga : Teken Kerja Sama EBT, Pertamina NRE Perkuat Kolaborasi Transisi Energi

Selain itu, juga dapat dilakukan pengurangan emisi melalui peningkatan penggunaan gas bumi, peningkatan efisiensi sistem bahan bakar mesin, dan mengembangkan teknologi rendah karbon. Seperti kendaraan listrik, biofuel, gas alam cair, amonia, dan fuel-cell hidrogen.

"Dengan emisi yang lebih rendah daripada bahan bakar fosil lainnya dan sumber energi yang dapat dialihkan, gas alam akan menjadi elemen penting dalam transisi energi," ujar Arifin.

Diperlukan pula pengembangan hidrogen rendah karbon, yang dapat mendukung industri hard-to-abate, seperti industri dan transportasi berat.

Selain itu, juga perlu dilakukan implementasi Carbon Capture Storage (CCS) and Carbon Capture, Utilisation, and Storage (CCUS).

Terkait hal ini, pemerintah Indonesia telah menerbitkan regulasi terkait pelaksanaan CCS/CCUS pada Kegiatan Usaha Hulu Migas.

Baca juga : Mata Uang Garuda Masih Perkasa Pagi Ini

Peraturan tersebut mencerminkan pengakuan Pemerintah Indonesia terhadap teknologi CCS dan CCUS, sebagai cara yang menjanjikan untuk mengurangi emisi karbon. Demi mencapai target net zero emission pada tahun 2060, sekaligus meningkatkan produksi minyak dan gas Indonesia, menjadi 1 miliar barel minyak dan 12 miliar kaki kubik gas per hari pada tahun 2030.

Saat ini, telah terdapat 15 proyek CCS/CCUS dalam berbagai tahapan. Sebut saja Gundih CCUS/Enhanced Gas Recovery (EGR) di Jawa Tengah, dan Sukowati CCUS/Enhanced Oil Recovery (EOR) di Jawa Timur.

Proyek yang akan segera dilaksanakan adalah Tangguh CCUS/Enhanced Gas Recovery. Proyek ini akan mengurangi 25 juta ton CO2, dan meningkatkan produksi gas hingga 300 BSCF pada tahun 2035.

"Proyek ini ditargetkan on stream pada tahun 2026. Kolaborasi internasional yang lebih kuat dan kemitraan multi-stakeholder di lingkup global sangat penting untuk memastikan aksesibilitas, keterjangkauan, dan keamanan pengembangan CCS/CCUS," pungkas Arifin. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.