Dark/Light Mode

Quick Count by Litbang Kompas
Anies & Muhaimin
25.23%
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58.47%
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16.30%
Ganjar & Mahfud
Waktu Update 20/02/2024, 00:17 WIB | Data Masuk 100%

Sampai Oktober, Negara Kantongi Pendapatan 2.240 T

Sabtu, 25 November 2023 13:34 WIB
Menteri Keuangan, Sri Mulyani. (Foto: Ist)
Menteri Keuangan, Sri Mulyani. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Realisasi pendapatan negara mencapai Rp 2.240,1 triliun hingga Oktober 2023. Jumlah tersebut tumbuh 2 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

“Jumlah tersebut 90,9 persen dari Target APBN 2023,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani seperti ditulis Sabtu (25/11/2023).

Pendapatan negara dari Pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tumbuh positif, sementara Pendapatan Kepabeanan dan Cukai menurun. Penerimaan Pajak telah mencapai Rp 1.523,7 triliun atau 88,69 persen dari target atau tumbuh 5,3 persen (yoy).

“Jumlah tersebut melambat dari bulan sebelumnya 5,9 persen (yoy),” ujarnya.

Baca juga : Bayar Pajak Terbesar, Pertamina Hulu Rokan Raih Penghargaan Tax Award 2023

Kinerja penerimaan pajak masih tumbuh positif didukung kinerja kegiatan ekonomi yang baik, namun mulai melambat dipengaruhi oleh penurunan signifikan harga komoditas, penurunan nilai impor, dan tidak berulangnya kebijakan Program Pengungkapan Sukarela (PPS). Pertumbuhan neto kumulatif mayoritas jenis pajak dominan positif, PPN pada bulan Oktober mencatatkan kinerja yang baik apabila tidak memperhitungkan kompensasi BBM. 

“Secara sektoral, mayoritas sektor tumbuh positif meskipun sektor pertambangan dan perdagangan terkontraksi semakin dalam karena restitusi dan tidak berulangnya pembayaran kompensasi BBM,” katanya.

Sementara, penerimaan Kepabeanan dan Cukai mencapai Rp 220,8 triliun atau 72,8 persen dari target. “Turun 13,6 persen (yoy) dipengaruhi penurunan Bea Keluar dan Cukai,” katanya.

Penerimaan Bea Masuk tumbuh 1,8 persen (yoy) meskipun kinerja impor terkontraksi 7,8 persen (yoy), didorong oleh kenaikan tarif efektif dan menguatnya kurs USD, sementara Bea Keluar turun 74,4 persen (yoy) akibat penurunan harga Crude Palm Oil (CPO) meskipun volume ekspor tumbuh, turunnya volume ekspor tembaga, dan berhentinya ekspor bauksit sejak Maret. 

Baca juga : Gempa M6,9 Goyang Kepulauan Sangihe, Kedalaman 44 Km

“Semantara itu, penurunan penerimaan Cukai disebabkan oleh penerimaan Cukai Hasil Tembakau yang turun 4,3 persen (yoy) karena penurunan produksi,” ujarnya.

Realisasi PNBP terjaga tetap positif, bahkan telah melebihi target di tengah fluktuasi harga komoditas, yaitu sebesar Rp 494,2 triliun atau 112,0 persen dari target

“Tumbuh 3,7 persen (yoy), terutama didorong oleh peningkatan pendapatan SDA non-Migas, Kekayaan Negara Dipisahkan (KND), dan BLU,” ujarnya. 

Sedangkan Pendapatan SDA non-migas mencapai Rp 116,8 triliun atau 180,3 persen dari target, meningkat akibat penyesuaian tarif iuran produksi/royalti batubara. Pendapatan KND mencapai Rp 74,1 triliun atau 150,9 persen dari target disumbang setoran dividen BUMN perbankan dan non-perbankan. 

Baca juga : Kuartal III, Adira Finance Kantongi Pembiayaan Baru Rp 30,4 T

“Pendapatan BLU atau 86,7 persen dari target, naik utamanya disebabkan peningkatan Pendapatan BLU non kelapa sawit,” bebernya

Sementara itu, pendapatan SDA Migas 74,6 persen dari target melambat disebabkan oleh menurunnya Indonesian Crude Price (ICP) dan lifting minyak bumi. PNBP lainnya 117,8 persen dari targer atau menurun disebabkan oleh penurunan pendapatan Penjualan Hasil Tambang (PHT) dan pendapatan minyak mentah (DMO).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.