Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Biomate: Menyalakan Harapan Baru dalam Menghadapi Krisis Iklim dengan Teknologi
Rabu, 17 April 2024 13:46 WIB
Masalah sampah adalah masalah yang kompleks dan tidak pernah ada habisnya di Indonesia. Di tingkat global, Indonesia sering kali disorot sebagai salah satu negara dengan penanganan sampah yang buruk. Data dari United Nations Environment Programme (UNEP) menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil sampah terbesar kedua di dunia setelah China. Berdasarkan data yang dihimpun oleh KLHK tahun 2022, jumlah timbulan sampah di Indonesia sebesar 68,7 juta ton/tahun dengan komposisi sampah didominasi oleh sampah organik, khususnya sampah sisa makanan yang mencapai 41,27%.
Problematika Sampah Organik di Indonesia
Sampah organik menjadi sorotan oleh banyak pihak karena dampak yang signifikan yang ditimbulkannya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Berdasarkan data dari Aliansi Zero Waste Indonesia, sepanjang Juni - Oktober 2023 terdapat 38 titik kebakaran TPA di Indonesia. Penyebab kebakaran TPA yang paling utama adalah saat sampah bercampur baik sampah organik maupun anorganik yang menjadi katalis dalam kebakaran. Bahan-bahan ini, ketika terkena panas atau api, dapat dengan mudah terbakar dan memicu kebakaran yang sulit dikendalikan.
Selain itu, sampah yang dibiarkan tanpa ada pengolahan akan melepaskan gas metana (CH4) yang dapat menyebabkan efek rumah kaca. Menurut WWF Indonesia, gas metana dapat merusak lapisan ozon bumi dan berpotensi menyebabkan perubahan iklim. Penelitian yang dilakukan oleh Bernt Johnke juga menunjukkan bahwa pembakaran sampah dapat menghasilkan berbagai gas rumah kaca, seperti CO2, N2O, NOx, NH3, dan karbon organik.
Kondisi ini menegaskan perlunya upaya konkret dalam pengelolaan sampah organik di Indonesia, terutama sudah banyak TPA yang saat ini tidak lagi menerima sampah organik. Salah satunya TPA Sarimukti yang dituangkan dalam Instruksi Gubernur (Ingub) nomor 02/PBLS.04/DLH yang menyatakan bahwa hanya menampung 50 persen residu dan tidak boleh terdapat sampah organik.
Peluang Bisnis dari Sampah Organik
Gas metana yang dihasilkan dari sampah organik bisa diubah menjadi sebuah peluang untuk mengurangi emisi karbon dan menciptakan energi terbarukan. Dengan teknologi yang tepat, gas metana ini dapat diubah menjadi bahan bakar yang bersih dan ramah lingkungan. Ini tidak hanya membantu dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong inovasi dalam teknologi pengelolaan sampah.
Penggunaan gas metana dari sampah organik sebagai sumber energi berkelanjutan dapat menjadi solusi yang efektif dalam mengatasi perubahan iklim dan meningkatkan kesejahteraan sosial. Seperti yang dilakukan oleh satu startup yang ada di Kota Bandung yaitu Biomate.
Biomate merupakan one stop solution pengelolaan sampah organik menjadi energi bersih yang berkelanjutan. Biomate berkomitmen dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon melalui sampah organik. Inisiatif ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan penggunaan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Kenal Lebih Dekat dengan Solusi dari Biomate
Biomate hadir dengan membawa tiga solusi utama dalam inovasi pengelolaan sampah organik. Pertama adalah G-Mate, sebuah perangkat pengubah sampah organik menjadi biogas, memberikan solusi ramah lingkungan untuk pengelolaan limbah sampah organik. Produk kedua adalah C-Mate yaitu suatu jasa audit dan konsultasi untuk menciptakan praktik ekonomi sirkuler yang berkelanjutan. Terakhir, L-Mate merupakan pupuk cair yang kaya akan bakteri pengurai.
G-Mate
G-Mate, sebuah perangkat pengubah sampah organik menjadi biogas, memberikan solusi ramah lingkungan untuk pengelolaan limbah sampah organik. G-Mate terdiri atas tiga bagian utama, yaitu tabung digester, penampung gas yang telah dihasilkan, dan kompor sebagai alat pemanfaatan biogasnya. Tabung digester terbuat dari bahan plastik keras dengan memiliki tiga lubang yaitu inlet, outlet, dan pembuangan air lindi. Bakteri metan sebagai bakteri pengurainya merupakan jenis bakteri anaerob. Oleh sebab itu tabung digester harus tertutup rapat. Sedangkan penampung biogas terbuat dari bahan plastik lunak untuk dapat mengembang saat biogas terproduksi dan mengempis saat gas telah digunakan. Terakhir kompor biogas khusus untuk gas bertekanan rendah. G-Mate terintegrasi dengan Internet of Things (IoT) untuk memonitoring produksi gas dan residu secara langsung. G-Mate memiliki kemampuan memonitor secara real-time dan memberikan visibilitas penuh pada proses pengelolaan sampah organik.

Detail G-mate
C-Mate
C-Mate adalah platform yang dirancang untuk membantu bisnis dalam melakukan audit dan konsultasi bisnis dengan tujuan menetapkan ekonomi sirkular dan praktik berkelanjutan melalui pengelolaan limbah organik. Platform ini memiliki tiga fitur utama. Pertama, 'Redefine', membantu bisnis untuk mendefinisikan ulang praktik dan pendekatan mereka saat ini terkait pengelolaan limbah organik. Kedua, 'Design', fokus pada penciptaan solusi yang disesuaikan yang menggabungkan prinsip-prinsip ekonomi sirkular, seperti mengurangi limbah, menggunakan kembali sumber daya, dan mendaur ulang material. Terakhir, 'Accelerate' bukan hanya menyediakan rekomendasi dan rencana tetapi juga mempercepat implementasi ekonomi sirkular dan praktik berkelanjutan dalam pengelolaan limbah organik.

Tampilan Dashboard C-mate
L-Mate
L-mate adalah pupuk cair yang diproduksi oleh Biomate, berasal dari residu pengolahan G-mate, yang merupakan produk berkelanjutan dari pengelolaan sampah organik. Pupuk ini diklaim sebagai solusi yang ramah lingkungan karena dibuat dari bahan-bahan alami. Salah satu kelebihannya adalah konsentrasi nutrisi yang tinggi, menjadikannya sangat efektif dalam memberikan nutrisi yang lengkap untuk meningkatkan kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman. Selain itu, L-mate mengandung mikroorganisme yang bermanfaat bagi proses dekomposisi tanah, sehingga memperkaya kualitas tanah dari waktu ke waktu. Penggunaan pupuk cair ini tidak hanya mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan tetapi juga merupakan alternatif yang lebih berkelanjutan dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia.

Tampilan L-mate
Kesimpulan
Solusi inovatif yang dikembangkan oleh Biomate memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan emisi karbon di Indonesia. Dengan memanfaatkan teknologi yang mampu mengkonversi sampah organik menjadi biogas, Biomate tidak hanya mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tetapi juga mengurangi emisi karbon hingga sekitar 10% dibandingkan dengan sistem pengelolaan sampah tradisional. Pengolahan sampah campuran yang dikirim ke TPA seringkali menghasilkan emisi metana, yang memiliki potensi pemanasan global yang lebih tinggi dibanding karbon dioksida. Biogas yang dihasilkan oleh Biomate merupakan campuran gas yang kaya akan metana, dan komponen ini khususnya berpotensi besar untuk dijadikan bahan bakar alternatif yang lebih bersih.
Penggunaan metana sebagai bahan bakar menggantikan energi fosil dapat memainkan peran kunci dalam strategi mitigasi perubahan iklim karena pembakaran energi fosil adalah kontributor utama emisi karbon global. Energi fosil seperti minyak bumi dan batu bara, saat dibakar, melepaskan jumlah karbon yang besar ke atmosfer, yang memperburuk efek rumah kaca dan perubahan iklim. Dengan memanfaatkan biogas sebagai sumber energi, Biomate tidak hanya memberikan alternatif yang lebih berkelanjutan tetapi juga membantu mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Mari wujudkan sustainability dan menuju Indonesia yang net zero emission dengan #BijakBersamaBiomate.
Annisa Wulandari
-
-
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya