Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Penjualan Kredit Karbon Pertamina NRE Meningkat
BUMN Tunjukkan Bukti Dukung Dekarbonisasi
Selasa, 13 Agustus 2024 07:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Perdagangan karbon di dalam negeri menunjukkan perkembangan positif. Untuk memastikan progres tersebut berjalan cepat, Pemerintah diharapkan menerbitkan regulasi untuk mendukung pembentukan ekosistem carbon trading.
Penjualan kredit karbon oleh PT Pertamina (Persero), melalui Pertamina New & Renewable Energy (NRE) meningkat. Hal ini menunjukkan besarnya potensi pedagangan karbon di Indonesia.
Pengamat Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi melihat, sejumlah perusahaan pelat merah, seperti PT Pertamina NRE, PT Perusahan Listrik Negara (Persero) atau PLN, Perum Perhutani terus menunjukkan dukungannya dalam menjalankan dekarbonisasi.
Hal ini terlihat dari adanya peningkatan penjualan kredit karbon milik Pertamina NRE di bursa karbon. Selain itu, model bisnis yang disiapkan Perhutani untuk jual beli karbon, baik untuk pasar di dalam maupun luar negeri. Serta kesiapan PLN dalam menerapkan Carbon Capture Storage (CCS) untuk mendorong dekarbonisasi di sektor kelistrikan.
“Sejumlah langkah nyata, setidaknya sudah mulai dijalankan oleh BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Dan seiring waktu bisa terus diperbaiki dan dikembangkan,” ujar Fahmy kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, Senin (12/8/2024).
Baca juga : Kilang Balikpapan Dongkrak Ketahanan Energi Nasional
Fahmy mengungkapkan, beberapa perusahaan lain telah turut aktif membeli karbon. Artinya, sudah terbentuk kesepakatan antara perusahaan yang menjual dan yang membeli karbon. Walaupun sekarang, volume yang di-trading-kan masih terbatas.
Dengan potensi pasar yang begitu besar, diharapkan Fahmy, para pemain global juga bisa berperan serta dalam carbon trading di Indonesia.
“Kita punya perkebunan untuk menangkap potensi karbon. PLN juga sudah mengembangkan energi baru terbarukan dan itu menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan dalam carbon trading,” ucapnya.
Menurut Fahmy, guna membentuk ekosistem carbon trading di Indonesia, diperlukan keseriusan dari Pemerintah. Khususnya dalam menerbitkan aturan yang bisa mengakomodasi hal tersebut.
“Pelaku industri masih wait and see. Karena aturannya belum ada. Ekosistemnya pun belum terbentuk,” katanya.
Baca juga : Rusun Bakal Dipermak Agar Nyaman Dan Aman
Terpisah, Chief Operations Officer (COO) Indonesian Business Council (IBC) William Sabandar mengaku, potensi pasar karbon di Indonesia sangat besar apabila ekosistemnya sudah terbangun dengan lebih mapan lagi.
Menurutnya, bursa perdagangan karbon memegang peranan penting untuk menginsentif peningkatan pertumbuhan ekonomi dalam negeri menuju 8 persen.
“Kalau (ekonomi) Indonesia mau tumbuh 8 persen, maka salah satu peluang yang bisa diberikan adalah lewat pasar karbon,” kata William dalam keterangan di Jakarta, Jumat (9/8/2024).
Saat berbicara dalam Sustainability Action for the Future Economy atau Katadata SAFE 2024, dia menuturkan, saat ini harga karbon di bursa karbon Eropa sudah pernah mencapai 100 Euro (setara Rp 1,7 juta) per ton CO2 (Karbondioksida).
Angka ini, kata dia, masih sangat jauh dibandingkan dengan harga karbon di bursa dalam negeri, yakni 2 dolar AS (Rp 31,909) per ton CO2.
Baca juga : Chelsea Dan Inter Sebut Musim Depan Berat
“Di Norwegia harganya sudah 50 dolar AS (Rp 797,737), kalau di Eropa secara umum sudah mencapai 100 Euro. Kita mulai di harga 2 dolar AS, jadi masih sangat jauh,” terangnya.
Dia mengatakan, ekosistem pasar karbon yang belum terbangun di Indonesia menjadi salah satu kendala. Namun, dia mengapresiasi diluncurkannya IDX Carbon oleh Bursa Efek Indonesia tahun lalu.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya