Dark/Light Mode

Advocacy Group Round Table AZEC, Kongkretkan Proposal Wujudkan Nol Emisi Karbon

Sabtu, 31 Agustus 2024 11:45 WIB
Advocacy Group Round Table AZEC di St Regis, Jakarta, Selasa (20/8/2024). Foto: Istimewa
Advocacy Group Round Table AZEC di St Regis, Jakarta, Selasa (20/8/2024). Foto: Istimewa

 Sebelumnya 
Dr Han Phoumin, Ekonom Energi Senior, mengungkapkan bahwa saat ini bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam masih mendominasi bauran energi primer di ASEAN dan kawasan KTT Asia Timur (EAS) hingga mencapai delapan puluh persen (80 persen). "Peningkatan permintaan energi ini mengancam keamanan energi dan lingkungan kawasan," jelasnya.

Dia menegaskan bahwa investasi dalam infrastruktur energi berkelanjutan, teknologi bersih, efisiensi energi, serta penggunaan energi terbarukan yang bersih adalah kunci untuk membawa pembangunan berkelanjutan ke kawasan tersebut, sekaligus mencapai dekarbonisasi.

Dr Phoumin menambahkan bahwa pada tahun 2050 bahan bakar fosil diperkirakan masih akan mendukung sekitar 60 persen dari permintaan energi. Dan 20 persen dari penggunaan bahan bakar fosil ini akan didekarbonisasi menggunakan tekonologi Carbon Capture and Storage (CCS).

Baca juga : Terima Dukungan Santri Muda, TKN Pastikan Prabowo-Gibran Wujudkan Dana Abadi Pesantren

Sektor industri dan transportasi akan tetap menjadi pengguna utama bahan bakar fosil yang menekankan pentingnya dekarbonisasi di sektor-sektor yang sulit dikurangi. Namun, bila ketergantungan terhadap energi fosil ini tidak berkurang, hal ini akan bertentangan dengan perjanjian Paris dan Pakta Iklim Glasgow.

Dalam upaya mencapai netralitas karbon, diharapkan output dari sumber daya terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan biomassa akan memberikan kontribusi yang signifikan pada tahun 2050, serta energi bersih lainnya seperti tenaga air, panas bumi, dan nuklir.

Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) dan The Institute of Energy Economics, Japan (IEEJ) telah melakukan simulasi penerapan teknologi energi yang optimal dari segi biaya untuk mencapai netralitas karbon pada 2060 di kawasan ASEAN. ERIA bekerja sama dengan negara-negara ASEAN yang berminat, termasuk Indonesia, Thailand, dan Vietnam, untuk mengembangkan skenario masing-masing.

Baca juga : Pertamina Komitmen Untuk Wujudkan Target Nol Emisi Tahun 2060

Ini mencangkup pemanfaatan tenaga surya fotovoltaik, tenaga angin lepas pantai dan darat, tenaga air, tenaga panas bumi, biomassa, nuklir, CCUS, hidrogen, amonia, DACCS, dan BECCS yang digabungkan berdasarkan berbagai asumsi.

"Dalam jangka pendek hingga menengah, pembangkit listrik berbahan bakar gas yang efisien akan menekan emisi CO2 dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Sekitar 300 Mt-CO2 dapat dikurangi pada tahun 2050 melalui peralihan bahan bakar batu bara ke gas di ASEAN. Dalam jangka panjang, teknologi CCUS, pembakaran bersama dengan amonia atau hydrogen, serta penggunaan 100 persen amonia dan hidrogen akan memainkan peran penting,” ujar Dr Phoumin.

Mengingat bahan bakar fosil akan terus memainkan peran besar dalam bauran energi ASEAN, negara-negara ASEAN menurut Dr Phoumin memerlukan teknologi untuk dekarbonisasi awal, parsial, dan mendalam dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil secara bertahap.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.