Dark/Light Mode

Genjot Investasi Mobil Listrik

Luhut Menebar Rayuan

Sabtu, 30 November 2019 02:43 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam pertemuan dengan pimpinan perusahaan asal Jerman, BMW. ANTARA/HO/Kemenko Kemaritiman dan Investasi.
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam pertemuan dengan pimpinan perusahaan asal Jerman, BMW. ANTARA/HO/Kemenko Kemaritiman dan Investasi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Indonesia akan memberikan keringan pajak kepada pabrikan mobil BMW. Tujuannya, agar raksasa otomotif Jerman ini berinvestasi di Indonesia.

Seperti diketahui, saat ini penjualan mobil BMW di dalam negeri masih bersifat ekspor kendaraan secara utuh atau Completely Built Up (CBU). 

Saat berkunjung ke pusat pabrikan mobil BMW di Munchen, Jerman, kemarin waktu setempat, Menko Kemaritiman dan investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengundang BMW membuka fasilitas produksi mobil listrik dan teknologi ramah lingkungan di Indonesia. 

Baca juga : Menpora Apresiasi Kinerja Barisan Atlet Veteran

“Indonesia telah menetapkan target 50 persen kendaraan elektrik pada tahun 2030. Saat ini, semakin banyak orang beralih ke gaya hidup hijau, ramah lingkungan,” kata Luhut dalam keterangan resminya. 

“Kami sadar, semakin banyak orang mengeluhkan tingginya polusi udara. Salah satu upaya kami adalah mengadakan transportasi ramah lingkungan yang efisien dan hemat biaya,” imbuh Luhut. 

Untuk mendukung target tersebut, Luhut berpromosi bahwa pemerintah Indonesia telah menyiapkan beberapa insentif untuk pabrikan-pabrikan mobil listrik yang akan berinvestasi di Indonesia. Salah satunya keringanan pajak. 

Baca juga : Luhut Jemput Bola Sampai Ke Jerman

“Karenanya kami berharap, Anda bersedia mempertimbangkan untuk membuka fasilitas pembuatan mobil listrik di Indonesia. Kami juga menginginkan adanya keragaman produsen, sehingga tidak ada monopoli satu merek saja,” katanya. 

Luhut juga meyakinkan BMW bahwa ongkos produksi di Indonesia semakin murah. Sebab, saat ini ada pembangkit hidro yang harganya kompetitif. Sehingga mereka bisa menghemat biaya jika membuka pabriknya di Indonesia. 

“Mobil-mobil produksi BMW memakai CATL baterai dari China dan Samsung dari Korea Selatan. Jika mereka pindah ke Indonesia, mereka bisa langsung berhubungan dengan produsennya,” katanya. 

Baca juga : Kembangin Mobil Listrik, RI Diminta Contoh Thailand

Vice President Market Development BMW Jochen Scharrer mengatakan, BMW telah memproduksi mobil elektrik sejak tahun 2014 dan pada tahun 2020-2025 diharapkan jumlah produksi mobil listrik dan mobil hybrid-nya akan berimbang. 

“Kami berencana meluncurkan 12 mobil listrik baru hingga tahun 2025. Masalah kami, baik di Indonesia atau negara-negara lain dalam mengajak konsumen membeli mobil listrik adalah kurangnya tempat pengisian daya. Pengguna mobil ini lebih suka mengisi daya di rumah atau mungkin di kantor,” kata Scharrer. [NOV]
 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.