Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kembangkan Industri Halal, RI Perlu Sinergi Dengan Negara OKI
Sabtu, 5 Oktober 2024 00:12 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Mantan anggota DPR dan Associate INDEF, Hakam Naja menyampaikan, pentingnya membangun ekosistem ekonomi keuangan syariah secara kolektif bersama negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Menurutnya, Indonesia tidak bisa berjalan sendiri dalam pengembangan industri keuangan syariah, melainkan harus bekerja sama dengan minimal 57 negara anggota OKI untuk menciptakan sinergi yang kuat.
“Ekosistem ekonomi keuangan syariah seharusnya dibangun secara kolektif. Saat ini, umat muslim di dunia, yang berjumlah 2 miliar, mengonsumsi sekitar 3 triliun dolar AS. Ini hampir tiga kali lipat dari PDB Indonesia, dan merupakan potensi besar yang perlu kita manfaatkan,” ujar Hakam pada diskusi “Penguatan Ekosistem Halal Untuk Masa Depan Ekonomi dan Keuangan Syariah,” di Jakarta, Jumat (4/10/2024).
Baca juga : Berdayakan Pemuda Indramayu, Pertamina Balongan Gelar Pelatihan Juru Las
Hakam juga menyoroti kurangnya kesadaran Indonesia dalam mengambil peran strategis di sektor ini, terutama dalam membangun sinergi dengan negara-negara tetangga seperti Brunei dan Malaysia. Sementara itu, negara-negara di luar OKI seperti Brazil, Australia, Amerika Serikat, China, dan Thailand telah menjadi produsen utama bagi kebutuhan konsumsi negara-negara OKI, terutama dalam industri makanan dan minuman.
“Ironisnya, meski Indonesia menjadi negara terbesar pengonsumsi industri makanan dan minuman di kalangan negara OKI, produsen utamanya justru berasal dari luar negara-negara muslim,” lanjutnya.
Dalam laporan Bank Dunia, Indonesia termasuk dalam 100 negara yang terjebak dalam middle-income trap dengan pendapatan per kapita hanya 5.200 dolar AS per tahun, jauh lebih rendah dibandingkan Brunei (35.000 dolar AS) atau Singapura yang memiliki pendapatan per kapita tertinggi di kawasan.
Baca juga : Ketika Indonesia Jadi Contoh Transformasi Pendidikan Dengan Teknologi
Untuk mengatasi kondisi ini, Hakam menekankan, Indonesia perlu bersinergi dalam membangun ekosistem industri keuangan halal serta berbagai sektor turunannya. Sinergi ini diharapkan dapat mencegah Indonesia dari jebakan negara berpendapatan menengah dan meningkatkan posisi di panggung global.
Bank Dunia juga merekomendasikan tiga langkah utama untuk keluar dari middle-income trap, yaitu investasi (baik domestik maupun asing), inklusi dana serta teknologi sebagai nilai tambah, dan inovasi. “Inovasi menjadi kunci penting dalam pengembangan sektor keuangan halal dan subproduk lainnya,” ujar Hakam.
Terkait pengembangan sektor halal, Hakam mengusulkan agar Indonesia fokus pada empat sektor utama: keuangan syariah, industri makanan dan minuman halal, pariwisata halal, dan fashion halal. Menurutnya, sektor fashion halal memiliki potensi besar untuk membangkitkan ekonomi Indonesia, terutama setelah banyak industri tekstil yang tutup dan menyebabkan PHK besar-besaran.
Baca juga : Ketua Umum Kadin Indonesia Harus Dapat Dukungan Pemerintah
“Halal fashion bisa menjadi pemicu kebangkitan dari keterpurukan. Bahan baku tekstil dan kreator mode Indonesia bisa berinovasi untuk pasar domestik maupun untuk memenuhi kebutuhan 2 miliar penduduk muslim di dunia,” jelasnya.
Hakam juga menekankan bahwa pengembangan sektor-sektor ini penting untuk mencegah terjadinya deindustrialisasi di Indonesia, yang kontribusi sektor industrinya terus menurun sejak 2004. Pada 2002, kontribusi sektor industri mencapai 32 persen, tapi sejak 2024 hanya tersisa 19 persen.
“Ini harus kita cegah dengan mengembangkan sektor-sektor strategis seperti keuangan syariah, makanan dan minuman, pariwisata, dan fashion halal,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya