Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Indikator Ekonomi Global Masih Baik, Bos OJK Optimis Sektor Jasa Keuangan Stabil
Sabtu, 14 Desember 2024 17:26 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar menyatakan, stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia tetap terjaga, meskipun risiko geopolitik global terus meningkat.
“Di tengah perkembangan tersebut, kinerja perekonomian global secara umum masih lebih baik dari ekspektasi di mayoritas negara utama,” ungkap Mahendra seperti dikutip Sabtu (14/12/2024).
Menurut Mahendra, sejumlah faktor seperti kemenangan Presiden terpilih AS dari Partai Republik, Donald Trump, yang memicu tensi perang dagang, serta ketidakstabilan geopolitik di Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Ukraina, turut meningkatkan risiko global.
Namun, Mahendra mencatat, indikator ekonomi global menunjukkan beberapa perbaikan. Di AS, pasar tenaga kerja dan permintaan domestik kembali menguat, meski tekanan inflasi meningkat. Di China, sektor produksi mencatat perbaikan meskipun tekanan permintaan masih berlanjut. Di Eropa, indikator ekonomi juga menunjukkan tren membaik.
Baca juga : Chief Economist BNI Prediksi BI Pangkas Suku Bunga Jika Rupiah Stabil
Mahendra menegaskan, perekonomian domestik tetap stabil. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2024 mencapai 4,95 persen (year-on-year/yoy), dengan pertumbuhan kumulatif triwulan I-III sebesar 5,03 persen. “Kami optimis pertumbuhan sepanjang tahun 2024 dapat dipertahankan di atas 5 persen,” ujarnya.
Dari sisi Neraca Pembayaran Indonesia, surplus pada triwulan III menunjukkan ketahanan eksternal yang baik, sementara inflasi tetap terkendali, terutama berkat stabilnya harga pangan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae melaporkan, pertumbuhan kredit perbankan terus mencatatkan double-digit growth, yakni sebesar 10,92 persen yoy menjadi Rp7.656,90 triliun per Oktober 2024.
“Kredit investasi tumbuh tertinggi sebesar 13,63 persen, diikuti kredit konsumsi 11,01 persen, dan kredit modal kerja 9,25 persen,” ungkap Dian. Bank BUMN menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan kredit sebesar 12,64 persen.
Baca juga : Airlangga: Pemerintah Pantau Pilpres Amrik
Dari sisi kategori debitur, kredit korporasi mencatat pertumbuhan 16,08 persen, sementara kredit UMKM tumbuh 4,76 persen. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat 6,74 persen yoy menjadi Rp8.751,16 triliun, dengan pertumbuhan giro, tabungan, dan deposito masing-masing sebesar 6,72 persen, 7,43 persen, dan 6,18 persen.
Likuiditas perbankan tetap memadai dengan rasio AL/NCD sebesar 113,64 persen dan AL/DPK sebesar 25,58 persen, jauh di atas ambang batas masing-masing 50 persen dan 10 persen. Rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) masing-masing tercatat di level 222,70 persen dan 129,50 persen, mengindikasikan ketahanan likuiditas jangka pendek dan pendanaan jangka panjang yang solid.
Kualitas kredit perbankan tetap terkendali dengan rasio NPL (Non-Performing Loan) gross sebesar 2,20 persen dan NPL net sebesar 0,77 persen. Loan at Risk (LaR) menurun menjadi 9,94 persen, mendekati level sebelum pandemi pada Desember 2019 sebesar 9,93 persen.
Dari sisi profitabilitas, perbankan mencatatkan Return on Asset (ROA) sebesar 2,73 persen, yang mencerminkan kinerja sektor tetap stabil dan resilien. Sementara itu, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) mencapai 27,07 persen, memberikan bantalan mitigasi risiko yang kuat di tengah ketidakpastian global.
Baca juga : Bos OJK Pastikan Kinerja Sektor Keuangan Tetap Stabil Dan Terjaga
“Ketahanan sektor jasa keuangan Indonesia masih terjaga dengan baik, memberikan kepercayaan diri di tengah dinamika global yang penuh tantangan,” tutup Dian.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya