Dark/Light Mode

Ekspornya Capai Rp 135 T, Industri Pulp & Kertas Siap Dukung Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 13 Januari 2025 20:00 WIB
Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza (kiri) dan Ketua Umum APKI Liana Bratasida (kanan). (Foto: Ist)
Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza (kiri) dan Ketua Umum APKI Liana Bratasida (kanan). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri pulp dan kertas memiliki kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional dengan total ekspor mencapai 8,28 miliar dolar AS atau sekitar Rp 135 triliun pada 2023 dan menyumbang sekitar 4,03 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza saat menghadiri Rapat Kerja Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Tahun 2024 di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Senin (13/1/2025). Acara ini diawali dengan seminar bertema "Mendorong Kontribusi Industri Pulp dan Kertas terhadap Pertumbuhan Ekonomi melalui Strategi Kebijakan, Ekonomi Sirkular, dan Perluasan Akses Pasar Global”.

Seminar dan rapat kerja ini juga dihadiri Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika, Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian Lila Harsya Bachtiar, Dewan Penasihat APKI Saleh Husin, Ketua Umum APKI Liana Bratasida, Dewan Pengawas APKI, Wakil Ketua Umum APKI, para ketua asosiasi di bawah Forum Komunikasi Industri Kehutanan, perwakilan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), serta para pelaku industri pulp dan kertas.

Dalam sambutannya, Faisol menyampaikan apresiasi kepada APKI yang telah konsisten menjadi mitra pemerintah dalam mendukung pengembangan industri pulp dan kertas nasional. "Industri pulp dan kertas memiliki kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional dengan total ekspor mencapai 8,28 miliar dolar AS pada 2023 dan menyumbang sekitar 4,03 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas," kata Faisol.

Baca juga : Gelar Upacara Hari Amal Bhakti ke-79, Ini Upaya Kemenag Dukung Asta Cita

Ia juga menyoroti beberapa tantangan yang dihadapi industri pulp dan kertas, seperti ketersediaan bahan baku kertas daur ulang (KDU), kebijakan EU Waste Shipment Regulation (EUWSR), Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), dan EU Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM).

"Ketahanan industri menjadi perhatian penting pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, dan kami optimis melalui langkah strategis yang tepat, industri ini dapat terus berkembang dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional," tambahnya.

Dalam sambutannya, Ketua Umum APKI, Liana Bratasida menekankan, pentingnya acara ini sebagai langkah strategis untuk merumuskan kebijakan dalam meningkatkan daya saing Industri Pulp dan Kertas (IPK) di tengah ketidakpastian kondisi global. "Tantangan global dan domestik harus dipandang tidak hanya sebagai ancaman, tetapi juga sebagai peluang untuk merumuskan langkah-langkah strategis dan inovatif,” ujarnya.

Liana juga mengungkapkan, saat ini masih terdapat 54 industri kertas yang menggunakan bahan baku kertas daur ulang (KDU), yang sebagian besar kebutuhan masih perlu diimpor. Importasi KDU ini mencerminkan upaya implementasi ekonomi sirkular dalam industri pulp dan kertas Indonesia.

Baca juga : Tutup Tahun 2024, Ini Capaian BNI Perkuat Bisnis Konsumer dan Dukung Pertumbuhan Ekonomi

"Kami berharap kebijakan pemerintah dapat menjamin ketersediaan bahan baku KDU agar industri pulp dan kertas dapat menjaga daya saing dan berkelanjutan," tambahnya.

APKI optimis menghadapi tantangan dan meningkatkan daya saing industri pulp dan kertas melalui sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi. Dengan langkah-langkah strategis dan inovatif, APKI mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk meningkatkan daya saing industri pulp dan kertas sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi 8 persen dan mendukung asta cita Presiden Prabowo Subianto.

Direktur Fiber di Fastmarkets RISI, Hannah Zhao, yang juga menjadi pembicara kunci dalam seminar ini, memberikan wawasan mendalam tentang prospek global industri pulp dan kertas. Dalam paparannya, Hannah menyampaikan, Asia, terutama Asia Tenggara dan India, akan menjadi pendorong utama pertumbuhan permintaan pulp dan kertas global hingga 2026.

"Dengan populasi yang terus berkembang dan tingkat konsumsi per kapita yang relatif rendah, kawasan ini memiliki potensi besar untuk pertumbuhan. Namun, tantangan oversupply dan kualitas serat daur ulang tetap menjadi isu utama yang perlu dikelola," ungkap Hannah.

Baca juga : Hadapi Tantangan Berat, Industri Penerbangan Butuh Dukungan Pemerintah

Acara ini juga menghadirkan berbagai narasumber yang membahas topik-topik penting dalam diskusi panel. Mereka adalah Asisten Deputi Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, Elektronika, dan Aneka, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Atong Soekirman; Kepala Badan Kebijakan Perdagangan, Kementerian Perdagangan RI, Fajarini Puntodewi; Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edi Iswanto Wiloso, dan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.