Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ekonom UGM: Danantara Bisa Cegah Moral Hazard, Pengawasan Lebih Transparan
Minggu, 23 Februari 2025 20:49 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin memiliki sejumlah pandangan positif, terkait Danantara yang akan diluncurkan Presiden Prabowo pada Senin (24/2/2025) besok.
Dia optimistis, Danantara dapat mengkonsolidasi pengelolaan aset negara dari perusahaan BUMN, sehingga lebih transparan dan terkoordinasi dengan baik.
Masing-masing perusahaan akan lebih terbuka dengan adanya holding company, yang menunjuk dan mengawasi dewan komisaris dan dewan direksi secara langsung.
Selama ini, menurut dia, pengawasan dari pemerintah dilakukan melalui penunjukan dewan komisaris dan dewan direksi oleh kementerian. Sehingga, sifatnya tidak terlalu binding.
"Dengan adanya Danantara, monitoring dari parent company akan lebih transparan dan efektif”, jelasnya dalam keterangan yang dilansir situs resmi UGM.
Baca juga : Jakarta Utara Siap Jadi Model Nasional Untuk Pengelolaan Sampah Kota
Dalam merealisasikan Danantara, Eddy memandang penting perlunya langkah lanjutan alias tidak berhenti sampai pembentukan holding company.
Eddy berpendapat, Danantara perlu merancang merger dan akuisisi berbagai perusahaan pemerintah. Agar semakin efektif dan efisien, manajemen tidak berlapis-lapis, dan lincah dalam berinovasi.
“Yang paling diharapkan, kemunculan badan pengelola investasi ini bisa mengantisipasi terjadinya moral hazard. Karena melalui bentuk holding company yang resmi, pengawasan menjadi lebih transparan,” bebernya.
Lalu, bagaimana dampak Danantara terhadap perekonomian nasional?
Eddy berpendapat, Danantara memiliki peran terhadap kestabilan keuangan negara di jangka panjang. Namun, perlu dilakukan kajian lebih lanjut terkait kepercayaan investor terhadap stabilitas dan keperluan investasi.
Baca juga : HNW Dorong Koordinasi Lintas Komisi Soal Aturan Pembatasan Internet pada Anak
“Mungkin, dampaknya di jangka pendek hanya berjalan seperti biasa. Tapi, dalam jangka panjang, kita tidak tahu keefektifannya. Karena persamaan ekonomi itu kan saling berkaitan dan cukup kompleks,” papar Eddy.
Presiden Prabowo pertama kali mengumumkan rencana peluncuran Danantara pada 24 Februari 2025, dalam acara World Governments Summit pada 14 Februari lalu. Dan kembali ditegaskan dalam keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta, pada 17 Februari 2025.
"Optimalisasi pengelolaan BUMN kita lakukan melalui konsolidasi ke dalam suatu Dana Investasi Nasional, yang akan kita launching tanggal 24 Februari yang akan datang, yaitu Danantara," kata Prabowo kala itu.
Danantara merupakan bentuk konsolidasi semua kekuatan ekonomi yang ada di pengelolaan BUMN.
"Itu nanti akan dikelola dan kita beri nama Danantara (Daya Anagata Nusantara). Daya artinya energi, kekuatan. Anagata (artinya) masa depan. Nusantara (artinya) tanah air kita. Jadi, artinya Danantara ini kekuatan ekonomi dana investasi yang merupakan energi, kekuatan masa depan Indonesia," terang Prabowo.
Baca juga : Ajinomoto Buka Pendaftaran Beasiswa Program Pascasarjana ke Jepang
"Kekayaan negara dikelola, dihemat untuk anak dan cucu kita," imbuhnya.
Pembentukan Danantara memiliki dasar hukum perubahan ketiga UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. Revisi UU tersebut disahkan dalam Rapat Paripurna DPR pada 4 Februari 2025.
Pemerintah menargetkan aset yang dikelola Danantara mencapai lebih dari 900 miliar dolar AS atau sekitar Rp 14,7 kuadriliun, dengan nilai investasi awal yang disiapkan mencapai 20 miliar dolar AS atau setara Rp 326,61 triliun.
Di tahap awal, ada tujuh BUMN yang telah tergabung dalam Danantara. Yakni Bank Mandiri, Bank BRI, PLN, Pertamina, Bank BNI, Telkom Indonesia, dan MIND ID.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya