Dark/Light Mode

Hadapi Tantangan Global, Bos OJK Sebut Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga

Selasa, 4 Maret 2025 17:12 WIB
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar saat Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Februari 2025 secara virtual, Selasa (4/3/2025). (Foto: Dok. OJK)
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar saat Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Februari 2025 secara virtual, Selasa (4/3/2025). (Foto: Dok. OJK)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar meyakini, stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga, meskipun menghadapi tantangan dari dinamika ekonomi global maupun domestik. 

“Dalam rapat mencapai suatu kesimpulan yang menilai stabilitas sektor jasa keuangan memang tetap, dapat terjaga sekalipun tantangan perekonomian global dan juga perkembangan domestik terjadi dinamika yang penting," ucap Mahendra dalam hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Februari 2025 secara virtual, Selasa (4/3/2025).

Mahendra melanjutkan, meskipun volatilitas pasar masih tinggi akibat ketidakpastian kebijakan ekonomi dan geopolitik, kinerja eksternal Indonesia tetap solid, tercermin dari surplus neraca perdagangan yang terus berlanjut. 

Pada Januari 2025, surplus perdagangan RI mencapai 3,45 miliar dolar AS (Amerika Serikat), atau tumbuh 71 persen secara tahunan. 

Baca juga : Waspada Tekanan Global, BTN Perkuat CKPN Hingga 27,56 Persen Per Januari 2025

Namun, OJK mewaspadai pertumbuhan ekonomi global yang stagnan, dengan inflasi yang mulai menunjukkan tren penurunan. 

“Volatilitas pasar tetap tinggi seiring ketidakpastian kebijakan ekonomi dan geopolitik yang terus berkembang,” ucapnya. 

Mahendra juga memperkirakan, pertumbuhan ekonomi global relatif stagnan seiring dengan penurunan laju inflasi di beberapa negara maju, serta ketidakpastian ekonomi dan perkembangan geopolitik. 

Di AS, perekonomian ekonomi tetap solid didukung oleh aktivitas ekonomi dan konsumsi domestik. Inflasi berada di kisaran 3 persen pada Januari 2025 dan IHK (CPI) meningkat naik 3,3 persen.

Baca juga : Daftar 13 Pantangan Imlek, Termasuk Jangan Menagih Utang Dan Jangan Keramas

Hal ini menunjukkan, tekanan harga di luar energi dan pangan masih cukup tinggi. Pasar tenaga kerja AS cukup kuat dan kebijakan moneter cenderung netral. 

“Indikator tersebut yang membuat The Fed diperkirakan hanya akan pangkas 1 hingga maksimal 2 kali tahun 2025 ini," ungkapnya. 

Dari sisi geopolitik, upaya penyelesaian konflik Ukraina belum menemukan titik terang sekalipun telah dilakukan berbagai pertemuan tingkat internasional. Di pertemuan terakhir antara Presiden AS dan Presiden Ukraina terlihat jelas tidak mencapai kesepakatan. 

Selain itu, rencana penerapan tarif baru AS terhadap mitra dagang utamanya semakin pasti akan diterapkan dan hal itu tentu akan meningkatkan ketidakpastian di perekonomian, utamanya perdagangan global.

Baca juga : Kemenkop Serahkan Daftar Koperasi Yang Jalankan Sektor Jasa Keuangan Pada OJK

Di perekonomian China, cenderung stagnan dengan tingkat inflasi rendah di level 0,5 persen dan indeks harga produsen mengalami kontraksi. 

Sementara itu, PMI Manufaktur masih berada di zona ekspansi, meski turun ke level 50,1 pada Januari 2025. 

“Bank sentral China mempertahankan suku bunga acuan menunjukkan pendekatan hati-hati dalam pelonggaran kebijakan moneter China, yang memperketat regulasi ekspor yang dapat berdampak pada perkembangan industri global," ujar Mahendra.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.