Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
APBN Terkelola Baik, Keseimbangan Primer Surplus Rp 41 Triliun
Sabtu, 15 Maret 2025 08:00 WIB
Sebelumnya
Bank Dunia dan IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini stagnan atau bahkan sedikit turun, karena kebijakan Trump yang menentang arus, memicu perang tarif, dan persaingan tak sehat.
Ia menyoroti dampak dari kebijakan tarif AS yang menargetkan China, Kanada, Meksiko, dan Vietnam. Secara khusus, ia mengkhawatirkan kemungkinan besar barang-barang China yang tak lagi kompetitif di pasar AS akan membanjiri negara-negara lain, termasuk Indonesia.
"Saat ini saja, tanpa ada gelombang barang dari China, Sritex sudah bangkrut. Ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah," tegasnya.
Selain ancaman dari luar negeri, Ryan juga menyoroti pentingnya efisiensi dalam pengelolaan APBN. Menurutnya, belanja pemerintah harus benar-benar dikelola dengan efisien dan efektif. Bukan sekadar melakukan penghematan yang identik dengan pemotongan anggaran.
Baca juga : Penjara Koruptor Di Pulau Terpencil, Wacana Presiden Banyak Yang Dukung
"Efisiensi berarti pengelolaan anggaran yang menghasilkan output optimal, dengan prinsip akuntabilitas dan tata kelola yang baik," katanya.
Ia mencontohkan anggaran pendidikan yang mencapai lebih dari Rp 700 triliun per tahun. Selain digunakan untuk operasional sekolah, anggaran tersebut juga mencakup pembangunan dan revitalisasi gedung sekolah, yang berdampak langsung pada sektor riil dan membuka lapangan pekerjaan.
"Jika anggaran ini dikelola dengan efektif, akan banyak pekerja seperti insinyur, tukang bangunan, hingga pekerja konstruksi yang mendapatkan manfaat. Ujungnya, daya beli masyarakat meningkat dan ekonomi bergerak," jelasnya.
Ryan menegaskan, efektivitas anggaran adalah kunci untuk mengurangi inefisiensi dan kebocoran dalam belanja negara. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi nasional tetap bisa terjaga di tengah ketidakpastian global.
Baca juga : Lalu Hadrian Irfani: Harapannya Bisa Ciptakan Keselarasan
Sebelumnya, Sri Mulyani memaparkan laporan kinerja APBN Edisi Maret 2025. Hingga Februari 2025, pendapatan negara tercatat sebesar Rp 316,9 triliun, atau 10,5 persen dari target Rp 3.005,1 triliun. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp 348,1 triliun, atau 9,6 persen dari target Rp 3.621,31 triliun.
Penurunan pendapatan terutama disebabkan oleh penerimaan pajak yang lebih rendah. Hingga Februari 2025, penerimaan pajak hanya mencapai Rp 187,8 triliun (8,6 persen dari target), turun 30,19 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sri Mulyani meminta masyarakat untuk tidak terburu-buru dalam menilai defisit APBN 2025. Ia bahkan menggunakan istilah Jawa, "ojo kesusu," yang berarti "jangan tergesa-gesa" atau "jangan terburu-buru," untuk menekankan pentingnya kesabaran dalam memahami kondisi fiskal.
Sri Mulyani menjelaskan, defisit awal tahun masih sesuai target. APBN 2025 didesain sebesar 2,53 persen dari PDB atau Rp616,2 triliun. "Jadi defisit ini masih dalam target yang didesain. Itu masih menjadi pedoman pelaksanaan APBN kita. Dan semuanya akan kita kelola dengan baik," ujar Sri Mul.
Baca juga : Ledia Hanifah: Kalau Dulu Harus Satu, Tapi Sekarang Kan Tidak
Sri Mulyani juga menjelaskan alasan keterlambatan pengumuman APBN. Ia menyebut data awal tahun masih belum stabil, sementara pemerintah perlu mempertimbangkan dinamika belanja dan pendapatan negara, termasuk kebijakan efisiensi anggaran dalam Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2025.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mencoba mengajak refleksi ke tahun 2024. Sri Mulyani menceritakan, pada pertengahan 2024, Kementerian Keuangan sempat memprediksi defisit APBN akan membengkak dari 2,2 persen menjadi 2,7 persen dalam laporan semester (lapsem). Namun, pemerintah berhasil menjaga defisit tetap di level 2,2 persen terhadap PDB.
Berdasarkan capaian itu, Sri Mulyani meminta semua pihak bersabar. Ia memastikan Kemenkeu juga akan menyusun laporan semester 2025, yang nantinya akan disampaikan kepada Kabinet Merah Putih serta DPR. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya