Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih loyo, bahkan sempat mendekati level terendah sejak krisis 1998. Namun, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, fenomena seperti ini tak perlu ditakutkan, karena fluktuasi nilai tukar adalah hal biasa.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih turun naik. Pada penutupan perdagangan Selasa (25/3/2025), rupiah anjlok ke level Rp 16.640 per dolar AS. Kemudian, rupiah mengalami penguatan tipis sebesar 0,014 ke level Rp 16.587 per dolar AS, pada penutupan pasar Rabu (26/3/2025).
Meskipun menguat, nilai tukar rupiah terhadap dolar masih belum aman. Kondisinya berada tipis di atas krisis moneter 1998, ketika dolar mencapai Rp 16.800. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat dan investor, terutama karena banyak pihak membandingkan kondisi saat ini dengan krisis moneter 1998,
Di tengah pelemahan rupiah, Presiden Prabowo Subianto memanggil Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani ke Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (26/3/2025). Turut hadir Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono dan Anggito Abimanyu.
Airlangga dan Sri Mulyani tiba sekitar pukul 14.40 WIB. Sebelum menghadap Presiden, Airlangga menyempatkan diri memberikan tanggapan terkait anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kepada wartawan yang standby di Istana.
Baca juga : Kalahkan Bahrain, Garuda Terbang Menuju Piala Dunia
Ia menyebut, fluktuasi nilai tukar mata uang merupakan hal yang wajar dalam perdagangan. "Biasa saja kalau rupiah naik turun," ujarnya.
Saat ditanya mengenai penyebab penurunan tersebut, Airlangga menjelaskan, hal itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satunya oleh sentimen pasar asing terhadap perkembangan perekonomian Indonesia.
Airlangga melanjutkan, sebenarnya ada juga sentimen positif terhadap nilai tukar rupiah pasca Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). "Kemarin ekspektasi mengenai RUPS Mandiri dan RUPS BRI kan baik outcome-nya," kata dia.
Menurut Airlangga, kondisi perekonomian Indonesia secara keseluruhan tetap menunjukkan tren positif. Fundamental ekonomi dari berbagai sektor juga terus mengalami peningkatan.
Namun, memang tidak bisa dipungkiri ada juga sentimen negatif. "Kami sudah melihat masih adanya beberapa faktor sentimental dari luar," kata Airlangga.
Baca juga : Kasus Pagar Laut, Kejagung Minta Polri Usut Sisi Korupsinya
Meskipun demikian, Arilangga optimistis, perekonomian Tanah Air ke depan bakal berjalan baik karena fundamental ekonomi yang kuat dan pasar telah menunjukkan tanda-tanda rebound atau pemulihan.
Ia lalu menyinggung bahwa Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah ke depan demi stabilitas rupiah. "Ya nanti rebound lagi. Ya ini kan BI (cek) stabilitas rupiah," tandasnya.
Di tempat terpisah, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial (DKMP) Bank Indonesia Solikin M Juhro menyampaikan, meskipun rupiah mengalami penurunan, situasi kali ini sangat berbeda dengan krismon 1998. Ia menjelaskan, pada saat itu, rupiah terjun bebas dari Rp 2.800 per dolar AS menjadi Rp 16.000 per dolar AS dalam waktu singkat, yang berdampak besar pada perekonomian nasional.
"Setelah krisis Asia itu kita banyak belajar. Karena pada saat krisis itu jelas, pasti, kenapa impact-nya itu besar. Itu karena kita kurang mampu untuk mendeteksi kerentanan," kata Solikin, di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (26/3/2025).
Ia menambahkan, BI telah mengambil berbagai langkah untuk memperkuat perekonomian, seperti memperketat regulasi dan kebijakan ekonomi yang lebih konservatif. Selain itu, cadangan devisa Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan masa krisis 1998.
Baca juga : Investasi Temui Hambatan, Pengusaha Ngadu Ke Luhut
Cadangan devisa ini, lanjutnya, menjadi salah satu indikator positif. "Sehingga itulah kenapa kita menunjukkan resiliensi pada saat terjadi krisis global," jelasnya.
Meski demikian, BI tetap memonitor pergerakan nilai tukar rupiah untuk memastikan stabilitas sistem keuangan, serta menjaga agar perekonomian Indonesia tetap berada pada jalur yang sehat. "Yang jelas BI akan terus mengawal, terus menjaga istilahnya, memonitor," tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya