Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Setiap Tantangan Buka Peluang Baru
Luhut Ibaratkan Situasi Pasca Pengumuman Tarif Trump Seperti Masa Covid-19
Selasa, 8 April 2025 20:11 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengibaratkan situasi dunia saat ini seperti laut yang tiba-tiba berubah gelombangnya. Ketegangan dagang akibat kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS) yang diumumkan pada 2 April 2025, membuka babak baru dalam dinamika perdagangan global.
Dalam kebijakan tarif tersebut, Indonesia dipatok di angka 32 persen, atau dua poin di bawah China yang ditetapkan dengan angka 34 persen.
Di antara 10 negara ASEAN, tarif Indonesia menempati peringkat keenam. Di bawah Kamboja (49 persen), Laos (48 persen), Vietnam (46 persen), Myanmar (44 persen), Thailand (36 persen). Di atas Malaysia (24 persen), Brunei Darussalam (24 persen), Filipina (17 persen), dan Singapura (10 persen).
"Kami membawa semangat kerja sama dan posisi yang tegas dalam dinamika global yang terus bergerak," kata Luhut via Instagram, Selasa (8/4/2025).
Baca juga : Senayan Kasih Catatan Kritis
Luhut menilai situasi sekarang ini tak ubahnya seperti masa Covid-19. Dia yakin, setiap tantangan akan membuka banyak peluang baru.
"Ketegangan dagang ini bisa menjadi momentum repositioning. Indonesia punya potensi menjadi tujuan investasi dan basis produksi baru. Apalagi, tarif kita relatif lebih rendah dibanding banyak negara ASEAN lainnya," papar Luhut.
"Deregulasi dan pemangkasan biaya ekonomi tinggi menjadi solusi nyata," imbuhnya.
Luhut menekankan, seluruh pihak harus kompak dan bergerak cepat, sesuai arahan Presiden Prabowo. Agar Indonesia dapat mengambil posisi terbaiknya: kuat, tangguh, dan siap menghadapi dunia yang terus berubah.
Baca juga : Jangan Asal Pilih Dan Olah Ikan Asin, Perhatikan Dampak Kesehatannya
Terkait hal tersebut, Dewan Ekonomi Nasional telah menyusun simulasi dan kajian mendalam untuk menjawab satu pertanyaan penting, tentang bagaimana Indonesia harus bersikap.
"Kami tidak hanya membaca angka, tapi juga menimbang dampaknya terhadap kesejahteraan rakyat dan pertumbuhan ekonomi," ujar Luhut.
Dari data yang diperoleh, Luhut menyebut beberapa sektor padat karya seperti perikanan, tekstil, elektronik, makanan olahan, hingga produk karet dan kayu berpotensi terdampak cukup besar oleh tarif resiprokal AS.
Menurut Luhut, hal tersebut bukan sekadar penurunan nilai ekspor, tetapi menyangkut keberlangsungan mata pencaharian jutaan pekerja.
Baca juga : Petrokimia Gresik Raih 2 Penghargaan RINTEK Dari Menperin
Dia memastikan, pemerintah akan hadir untuk memberikan dukungan di masa transisi, dan memastikan daya saing industri tetap terjaga.
"Kami juga mengantisipasi potensi membanjirnya barang impor murah ke pasar domestik dan menyiapkan langkah-langkah pengamanan," tutur Luhut.
Berbekal pengalaman pertemuan dengan Presiden Donald Trump beberapa tahun yang lalu, dalam waktu dekat, delegasi Indonesia yang terdiri dari lintas Kementerian/Lembaga terkait akan segera berangkat ke AS untuk menyampaikan proposal negosiasi tarif resiprokal.
"Proposal ini dirancang untuk menjawab kekhawatiran AS, namun tetap menjaga martabat dan kepentingan nasional Indonesia," pungkas Luhut.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya