Dark/Light Mode

Diburu Masyarakat

BSI Optimistis Bisnis Emas Makin Berkilau

Kamis, 17 April 2025 07:05 WIB
Plt Direktur Utama PT BankSyariah Indonesia Tbk (BSI)Bob T Ananta (tengah)berbincang dengan DirekturSales & Distribution BSI AntonSukarna (kiri) dan SeniorExecutive Vice PresidentBranding & CommunicationBSI Kemas Erwan Husainysaat memperkenalkanlayanan emas BSI di GedungBSI Tower, Jakarta, Selasa(15/4/2025). BSI memilikilayanan investasi, BSI CicilEmas, BSI Gadai Emas danBSI Emas. Layanan itu dapatdiakses melalui aplikasiBYOND by BSI (Foto: AMA/Rakyat Merdeka/RMID
Plt Direktur Utama PT BankSyariah Indonesia Tbk (BSI)Bob T Ananta (tengah)berbincang dengan DirekturSales & Distribution BSI AntonSukarna (kiri) dan SeniorExecutive Vice PresidentBranding & CommunicationBSI Kemas Erwan Husainysaat memperkenalkanlayanan emas BSI di GedungBSI Tower, Jakarta, Selasa(15/4/2025). BSI memilikilayanan investasi, BSI CicilEmas, BSI Gadai Emas danBSI Emas. Layanan itu dapatdiakses melalui aplikasiBYOND by BSI (Foto: AMA/Rakyat Merdeka/RMID

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI optimistis bisnis emas ke depan makin berkilau seiring meningkatnya permintaan masyarakat. Bank pelat merah ini memproyeksi, bulan ini penjualan emas BSI naik 500 kilogram (kg).

Fenomena masyarakat berburu emas kian masif akhir-akhir ini. Beberapa toko emas bahkan diserbu pembeli yang mengular. Sebab, investasi emas menjadi pilihan favorit dan aman, di tengah gejolak ekonomi yang terjadi saat ini.

Per Rabu (16/4/2025), harga emas Antam tercatat sebesar Rp 1.916.000 per gram atau melesat Rp 20 ribu. Harga tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang masa dan mematahkan rekor sebelumnya di Rp 1.904.000 per gram yang tercatat pada Sabtu pekan lalu.

Tingginya permintaan mas­yarakat terhadap emas itu pun turut mendongkrak bisnis emas di PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI. 

Pasca menjadi Bank Emas atau Bullion Bank, BSI men­catat saldo emas secara year on year (yoy), atau tumbuh sebesar 118 persen (335,97 kilogram/kg). Dan secara year to date (ytd) tumbuh sebesar 40 persen (177,32 kg). 

Penjualan BSI emas secara yoy tumbuh sebesar 357 persen (174,84 kg). Tak hanya itu, kinerja produk Cicil Emas (Cilem) me­nembus Rp 7,37 triliun, melesat 168,64 persen secara tahunan. 

“Kinerja impresif produk Cilem BSI ini karena didorong oleh harga emas yang konsis­ten naik, dan respons positif mas­yarakat untuk berinvestasi melalui instrumen emas Logam Mulia (LM),” ucap Direktur Distribution & Sales BSI Anton Sukarna dalam acara halal bi halal di Jakarta, Selasa (15/4/2025).

Bahkan atas capaian positif tersebut, BSI optimistis, pertumbuhan bisnis emas kian berkilau ke depannya. 

Total emas kelolaan BSI Bank Emas per Februari 2025 secara ytd tumbuh sebesar dari 17,24 ton menjadi 17,66 ton (2,43 persen), atau sekitar Rp 14,7 tri­liun. Sementara secara yoy, penjualan emas BSI telah mencapai 621 kg per Maret 2025. 

Baca juga : Pariwisata Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Pada bulan ini, pihaknya memproyeksikan akan ada kenaikan sekitar 500 kilogram (Rp 900 miliar). Dari 621 kg pada Maret menjadi 1,1 ton per April ini. 

“Angka tersebut tergantung pada asumsi harga emas yang digunakan,” kata Anton.

Selanjutnya dari sisi pembia­yaan emas hingga Februari 2025 telah mencapai Rp 1,8 triliun. Angka ini dinilai masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total Dana Pihak Ketiga (DPK) dan pembiayaan BSI secara keseluruhan. 

Total pembiayaan yang disa­lurkan BSI saat ini berada di kisaran Rp 14,7 triliun. 

“Kalau dihitung-hitung, kontribusi pembiayaan emas masih berada di bawah 5 persen dari keseluruhan portofolio pembia­yaan bank,” jelasnya.

Sementara dari sisi harga, pihaknya tidak bisa memprediksi sampai dibatas mana harga emas akan melonjak. Namun yang pasti, imbuh Anton, potensi pertumbuhan bisnis emas masih cukup besar di masa depan. Mengingat trennya selalu naik, sehingga diharapkan menjadi salah satu value proposition bagi BSI.

Di kesempatan yang sama, Plt (Pelaksana Tugas) Direktur Utama BSI Bob T Ananta me­ngatakan, emas sebagai solusi instrumen investasi karena me­rupakan aset safe haven, terlebih di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi global.

Kondisi tersebut didukung pula proyeksi harga emas yang dalam jangka menengah maupun panjang masih meningkat. Terutama di tengah kondisi ekonomi global yang masih menantang. 

Dalam jangka menengah, harga emas diproyeksi naik hingga 3.200 dolar Amerika Serikat (AS) per troy ounce, bahkan bisa mencapai 4.500 dolar AS per troy ounce pada penghujung 2025 menurut Goldman Sachs.

Baca juga : Penataan Kabel Utilitas Berantakan Di DKI Lelet

Untuk itu pihaknya sangat optimistis dengan potensi bisnis emas ke depan bagi pertumbuh­an BSI dan tentu saja benefit untuk masyarakat. 

“Dan Insya Allah dengan inovasi layanan bisnis emas dari BSI, masyarakat tidak perlu mengantre saat bertransaksi,” ucap Bob.

Menurut Bob, pasca penetapan sebagai bank emas oleh Presiden Prabowo Subianto pada 26 Februari 2025 lalu, BSI terus memperkuat infrastruktur, serta mensosialiasikan layanan bisnis emas kepada masyarakat. 

Alhasil, dalam kurun satu bulan setelah diluncurkan, bisnis BSI Emas mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Ini terdorong oleh tren harga yang berkilau dan kesiapan produk.

“Sebagai instrumen investasi safe haven nasabah yang memiliki emas saat ini, telah mendapatkan benefit dari kenaikan harga emas,” ucap Bob.

Ia melanjutkan, cara paling ideal untuk masyarakat agar memiliki atau menambah emas adalah melalui produk Cilem BSI.

Karena melalui produk Cilem, nasabah melakukan akad pembiayaan pembelian emas dengan harga saat ini dan dicicil sesuai jangka waktu yang disepakati. 

Awal 2024 harga emas masih sekitar Rp 1 juta per gram, dan saat ini sempat menyentuh Rp 1,89 juta per gram. 

“Mereka yang membeli emas lewat cicilan, sudah bisa menikmati kenaikan harga emasnya. Ibaratnya dengan cicil emas nasabah membeli emas pada masa depan dengan harga sekarang,” sebutnya.

Baca juga : Pamer Foto Mesra Dengan Jefri Nichol

Menyoal ini, Ketua Komisi Komunikasi dan Edukasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Heru Sutadi mengimbau, agar masyarakat tidak melakukan panic buying. Lantaran, katanya, kenaikan harga emas yang terjadi saat ini juga rawan dimainkan oleh para spekulan. 

“Mereka bisa dengan sengaja memborong emas, kemudian menjual kembali dalam jumlah besar kepada masyarakat saat margin harganya naik,” war­ning Heru kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Spekulasi seperti itu, sambung Heru, bisa membuat harga emas terkoreksi atau kembali turun tajam. Sebab, pasokan atau supply di pasaran kembali naik.

Jika sudah demikian, maka konsumen yang paling dirugikan akibat ulah spekulan emas adalah mereka yang membeli dengan jumlah tidak besar, dan didorong oleh panic buying.

“Saat harga emas turun, mere­ka jual rugi. Sudah rugi karena harga turun, eh dikenakan juga potongan administrasi dari toko atau penjual emas, jadi doub­le ruginya,” ingat Heru.

Untuk itu, BPKN memastikan, pihaknya akan terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar tidak menjadi pihak yang dirugikan oleh aksi para spekulan. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.