Dark/Light Mode

Ngeri! 1,2 Juta Pekerja RI Terancam PHK Imbas Perang Dagang

Kamis, 17 April 2025 15:04 WIB
Diskusi Forwin. (Foto: Aditya Nugroho)
Diskusi Forwin. (Foto: Aditya Nugroho)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perang dagang yang semakin memanas memberikan tekanan serius terhadap perekonomian nasional, khususnya di sektor ketenagakerjaan.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengungkapkan, terdapat potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1,2 juta pekerja di Indonesia dalam satu tahun ke depan.

“1,2 juta itu total tenaga kerja yang terpotong akibat eskalasi perang tarif,” kata Huda pada acara diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Kamis (17/4/2025).

Baca juga : Jasa Marga Catat 1,1 Juta Kendaraan Kembali Ke Jakarta Via Tol

Angka tersebut merupakan proyeksi dari seluruh sektor industri, dengan dampak terbesar diperkirakan terjadi di subsektor tekstil dan produk tekstil (TPT). Huda memperkirakan sekitar 191 ribu pekerja di sektor TPT terancam kehilangan pekerjaan.

“Bisa dibilang penyerapan tenaga kerja di industri tekstil akan berkurang sekitar 191 ribu. Ini hitungan kasar kita,” ujarnya.

Menurut Huda, potensi PHK ini dihitung berdasarkan proyeksi dampak dari kebijakan tarif masuk yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS). Dalam perhitungannya, kenaikan tarif 1 persen dari AS dapat menyebabkan penurunan volume ekspor Indonesia sebesar 0,8 persen.

Baca juga : Ini Kata Pemimpin Dunia Soal Tarif Impor AS Yang Bisa Picu Perang Dagang Merusak

“Industri TPT sangat terdampak karena ekspor produk domestik ke AS tergolong tinggi. Sementara itu, di dalam negeri industri ini juga tertekan oleh banjir produk impor dari China yang lebih murah,” jelasnya.

Akibatnya, lanjut Huda, nilai tambah industri TPT nasional bisa terus menurun, memperburuk daya saing dan memperbesar risiko PHK massal.

Selain TPT, PHK juga diperkirakan akan menyasar semua sektor, termasuk sektor informal seperti petani yang menjadi pemasok industri makanan dan minuman, serta sektor kimia dasar. “Salah satu barang yang dibutuhkan oleh beberapa produk AS di sana, termasuk juga untuk minyak hewani dan minyak nabati, itu yang dari palm oil. Itu kita hitung ternyata untuk yang di sisi palm oil, CPO, itu akan kehilangan sekitar 28.000 tenaga kerja,” jelas Nailul.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.