Dark/Light Mode

IMF Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Jadi 4,7 Persen

Indonesia Kena Getah Perang Amerika-China

Kamis, 24 April 2025 08:15 WIB
Direktur Departemen Riset IMF Pierre-Olivier Gourinchas. (Foto: Dok. IMF)
Direktur Departemen Riset IMF Pierre-Olivier Gourinchas. (Foto: Dok. IMF)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China berdampak ke ekonomi Indonesia. International Monetary Fund (IMF) memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini jadi 4,7 persen dari sebelumnya 5,1 persen.

Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April 2025, IMF memperkirakan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 4,7 persen pada 2025. Pada 2026, IMF juga memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan stagnan di angka yang sama. Padahal, pada Januari 2025, IMF masih memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5,1 persen pada 2025 dan 2026.

Direktur Departemen Riset IMF Pierre-Olivier Gourinchas menjelaskan, perang dagang dan ketidakpastian kebijakan menjadi beban bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. “Kita tengah memasuki era baru. Di mana sistem ekonomi global yang telah berfungsi selama 80 tahun sedang di-reset,” kata Gourinchas.

Baca juga : Hakim Simpan Uang Rp 5,5 M Di Bawah Kasur

Menurutnya, proteksionis sejumlah negara akan berdampak pada perdagangan dunia, keputusan investasi, dan konsumsi di berbagai belahan dunia. Sehingga IMF memprediksi inflasi Indonesia akan turun dari 2,3 persen pada 2024 menjadi 1,7 persen tahun ini.

Menurut IMF, inflasi akan kembali naik ke level 2,5 persen pada 2026. Sementara itu, defisit transaksi berjalan diprediksi memburuk dari 0,6 persen pada 2024 menjadi 1,5 persen pada 2025 dan 1,6 persen pada 2026.

Tingkat pengangguran nasional juga diperkirakan IMF meningkat secara bertahap. Yakni dari 4,9 persen pada 2024 menjadi 5 persen tahun ini, dan tembus 5,1 persen pada 2026.

Baca juga : Prabowo: Kita Akan Jadi Lumbung Pangan Dunia

Lalu, apa kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo? Menurutnya, kebijakan tarif yang dikeluarkan Presiden AS Donald Trump memicu balasan dari China. Kondisi ini menekan ekonomi global dan penurunan kinerja perdagangan dunia. Alhasil, perekonomian dunia diprediksi turun dari 3,2 persen menjadi 2,9 persen.

“Perang tarif dan dampak negatifnya terhadap penurunan pertumbuhan AS, China, dan ekonomi dunia memicu peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global serta mendorong perilaku risk aversion pemilik modal,” kata Perry dalam konferensi pers, Rabu (23/4/2025).

Ketegangan ini juga berdampak pada pasar keuangan dunia. Yield US Treasury mengalami penurunan, sementara indeks dolar AS (DXY) melemah di tengah ekspektasi penurunan Fed Funds Rate (FFR).

Baca juga : Dukung Prabowo Di Pilpres 2029, PAN Bikin Gerindra Happy

Aliran modal pun bergeser, menjauhi pasar AS dan masuk ke aset-aset keuangan yang dianggap aman. Seperti di Eropa, Jepang, dan komoditas emas. Nahasnya, negara berkembang mengalami tekanan akibat terus berlanjutnya arus keluar modal, yang melemahkan nilai tukar mata uang.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.