Dark/Light Mode

Perang Dagang AS-China Mereda, Airlangga Belum Plong

Jumat, 16 Mei 2025 08:05 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah) saat menjadi pembicara dalam acara Sarasehan Ekonom Islam Indonesia di Jakarta, Kamis (15/5/2025). (Foto: Instagram/airlanggahartarto_official)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah) saat menjadi pembicara dalam acara Sarasehan Ekonom Islam Indonesia di Jakarta, Kamis (15/5/2025). (Foto: Instagram/airlanggahartarto_official)

 Sebelumnya 
“Jadi kalau menurut saya, kita juga jangan terlalu tergantung dengan kesepakatan-kesepakatan yang belum jelas,” kata Shinta.

Untuk itu, menurut Shinta, Indonesia harus fokus menurunkan tarif resiprokal yang diterapkan AS atas barang asal Indonesia sebesar 32 persen. meskipun pemberlakuannya masih ditunda dalam 90 hari ke depan.

Shinta juga menyoroti kebijakan dan pengamanan pasar dalam negeri. Sebab, konsumsi rumah tangga yang paling berkontribusi terhadap ekonomi nasional saat ini, bukan ekspor.

Baca juga : Ekspor Beras Tunggu Persetujuan Presiden

Di tengah tantangan, Apindo melihat Indonesia masih memiliki peluang untuk merebut pangsa pasar ekspor di Amerika Serikat, terutama untuk produk pakaian dan alas kaki.

Sementara, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang memprediksi, kesepakatan damai AS dan China akan bertahan lama. “Feeling kita, dengan kesepakatan awal yang begitu ramah, ke depannya akan berlanjut. Bahkan mungkin akan semakin kondusif,” ulas Sarman kepada Rakyat Merdeka, Kamis (15/5/2025).

Menurut Sarman, Pemerintah perlu meniru teknik negosiasi yang dilakukan AS dan China. Win-win solution dikedepankan agar neraca perdagangan kedua negara saling menguntungkan. Karena pada dasarnya, masing-masing negara ingin neraca perdagangannya surplus, dan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi. Bukan justru merugikan salah satu pihak.

Baca juga : Golkar Gandeng KPK Bahas Format Pembiayaan Politik

“Harapan kami agar tim yang ditugaskan Presiden semakin intensif untuk melakukan kesepakatan yang lebih kondusif. Sehingga tarif impor ke Amerika bisa semakin turun. Kalau bisa kembali seperti awal,” pesan Sarman.

Sedangkan, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menyebut, perdamaian AS dengan China membuat pasar global merespons positif. “Tapi euforia pasar ini belum cukup alasan bagi Pemerintah untuk merasa lega. Dan saya sepakat dengan sikap waspada yang ditunjukkan Menko Perekonomian,” ulas Yusuf, Kamis (15/5/2025) tadi malam.

Menurutnya, masih ada kemungkinan kedua negara menaikkan tarif seperti semula. Sebab, ketegangan AS dengan China bersifat struktural. Mereka besaing di ranah teknologi, pengaruh geopolitik, dan dominasi ekonomi global. “Ini hanya gencatan senjata dagang, bukan perdamaian jangka panjang,” kata Yusuf.

Baca juga : Calon Independen Masih Kurang 2.688 Dukungan

Bagi Indonesia, kesepakatan ini memiliki dua sisi. Yakni, stabilitas jangka pendek pasar global bisa mendukung ekspor dan mendorong aliran modal asing masuk. Di sisi lain, jika kesepakatan ini gagal dan tarif kembali naik, tekanan terhadap rantai pasok global akan terjadi. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.