Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Indonesia Perluas Kerja Internasional
BRICS Jadi Jalan Baru Transformasi Ekonomi
Kamis, 22 Mei 2025 07:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Masuknya Indonesia ke dalam kelompok ekonomi negara berkembang BRICS (Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan) pada Januari 2025, menjadi babak baru yang menjanjikan bagi arah pembangunan nasional.
Bukan sekadar pencapaian diplomatik, langkah ini membuka peluang strategis bagi percepatan transformasi hingga kemandirian ekonomi berbasis teknologi dan inovasi.
Indonesia kini berdiri sejajar dengan Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan. Ditambah lima anggota baru, yakni Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab.
Kelompok ini mewakili lebih dari 40 persen populasi dunia dan seperempat Produk Domestik Bruto (PDB) global.
“Keanggotaan Indonesia di dalam BRICS merupakan langkah strategis memperluas kerja sama internasional. Terutama dalam pengembangan industri, investasi teknologi dan penguatan rantai pasok global,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, Rabu (21/5/2025).
Baca juga : Sikat Premanisme Sampai Tuntas Dan Berkelanjutan
Menurut Agus, posisi Indonesia dalam BRICS sangat relevan dengan target besar Pemerintah dalam mentransformasi industri manufaktur menuju era Industri 4.0.
Melalui platform ini, Indonesia berkesempatan mengakses pendanaan dari New Development Bank (NDB), memperluas diversifikasi mitra dagang dan memperkuat peran dalam reformasi sistem ekonomi global.
“Digitalisasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI) bukan hanya milik industri besar. Industri Kecil dan Menengah (IKM) kita juga harus bisa mengakses teknologi ini agar tidak tertinggal,” tegasnya.
BRICS menjadi katalis dalam menjembatani kesenjangan teknologi melalui kolaborasi yang lebih terbuka dan inklusif.
Peluang terbuka lebar di sektor bioindustri. Indonesia memiliki potensi besar menjadi lumbung bioindustri dunia.
Baca juga : Patung Untuk De Bruyne
BRICS juga dinilai mampu mempercepat transfer teknologi dalam pengembangan industri ramah lingkungan dan ekonomi sirkular.
Capaian Indonesia dalam sektor manufaktur juga sudah cukup membanggakan.
Data World Bank mencatat, nilai tambah industri manufaktur (Manufacturing Value Added/MVA) Indonesia mencapai 255,96 miliar dolar AS pada 2023. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai peringkat keempat dalam kelompok BRICS setelah China, India dan Brazil.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan, langkah Indonesia bergabung dengan BRICS tidak menghilangkan prinsip politik luar negeri bebas aktif.
“Ini menandai hubungan kita dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China, sambil menjaga kemerdekaan kita sendiri,” ujarnya.
Baca juga : PBSI Panggil 10 Atlet Baru Masuk Pelatnas
Menurut Prabowo, pendekatan non-blok ini memandu partisipasi Indonesia dalam banyak organisasi, mengadvokasi dialog yang setara ketimbang permusuhan.
Meski demikian, Ketua Umum Partai Gerindra ini menekankan pentingnya membangun fondasi domestik yang kuat.
“Kita ingin membangun negara modern dan maju yang didukung oleh aset terbesar kita, masyarakat dan sumber daya alam yang melimpah,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya