Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
CPOPC Berganti Nahkoda, Dua Srikandi RI–Malaysia Pimpin Organisasi Sawit Dunia
Rabu, 28 Mei 2025 23:12 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dua perempuan tangguh dari Indonesia dan Malaysia kini memegang kendali organisasi sawit global, Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC). Untuk periode 2025–2028, CPOPC resmi menunjuk Mdm. Izzana Salleh dari Malaysia sebagai Sekretaris Jenderal dan Dr. Musdhalifah Machmud dari Indonesia sebagai Wakil Sekretaris Jenderal. Transisi ini sekaligus mengakhiri masa jabatan Dr. Rizal Affandi Lukman dan Datuk Nageeb Wahab, yang memimpin organisasi pada 2022–2025. Rizal menegaskan bahwa tongkat estafet kini diteruskan kepada sosok dengan rekam jejak kuat dan visi baru.
"Ini menjadi awal yang baru untuk CPOPC," ujar Rizal dalam keterangan pers di sekretariat CPOPC, di Jakarta, Rabu (28/5/2025).
Di bawah kepemimpinan Rizal, CPOPC telah mencetak sejumlah capaian penting, seperti memperoleh status pengamat di ECOSOC PBB, meluncurkan Sustainable Vegetable Oils Conference (SVOC), membentuk Gugus Tugas Gabungan bersama Uni Eropa, serta aktif berdiplomasi ke negara-negara konsumen seperti Inggris, China, India, dan Pakistan. CPOPC juga ikut dalam Aliansi Biofuel Global untuk memperkuat posisi sawit dalam transisi energi menuju net zero emission 2060.
“Kami tidak bisa dibiarkan bekerja sendiri. Masa depan komoditas ini ada pada kolaborasi lintas benua, harmonisasi standar, dan keberpihakan terhadap petani kecil,” kata Rizal.
Baca juga : Kemerdekaan Palestina Butuh Dukungan Indonesia Dan Organisasi Dunia
Dalam periode baru ini, CPOPC membawa tiga agenda besar: memperkuat kebijakan strategis, memperluas keanggotaan, dan meningkatkan peran di forum multilateral. Untuk kebijakan, fokus diarahkan pada lima pilar utama: promosi dan advokasi, keberlanjutan, riset dan pengembangan, petani kecil, serta konsultasi. Dari sisi anggota, kini CPOPC mencakup Indonesia, Malaysia, Honduras, Papua Nugini, dan Kongo, dengan Nigeria sebagai negara pengamat.
CPOPC juga menegaskan kembali posisi minyak sawit sebagai solusi global, bukan penyebab masalah. Dalam paparannya, Rizal menyebut bahwa minyak sawit hanya menggunakan 8,2 persen lahan tanaman minyak dunia, namun menghasilkan 41,8 persen dari total minyak nabati global. Selain itu, produktivitas kelapa sawit lima kali lipat lebih tinggi dibanding tanaman lain seperti kedelai dan bunga matahari. "Ini menjadikannya sumber yang paling efisien dan layak secara lingkungan,” ucap Rizal.
Dia menyebut, RI dan Malaysia makin aktif menjaga hutan alami di masing-masing negara. Kedua negara mengurangi laju kerusakan atau hilangnya hutan primer selama lima tahun berturut-turut.
RI dan Malaysia menjaga tanggung jawab terhadap lingkungan dalam industri sawit melalui kebijakan terkait. Dengan konsumsi di lebih dari 160 negara dan harga ekspor yang tetap kompetitif, minyak sawit dinilai sangat strategis dalam memenuhi kebutuhan pangan dan energi global.
Baca juga : WTO Minta Uni Eropa Sesuaikan Kebijakan Terkait Sawit
Produksi global pada 2023 tercatat lebih dari 81 juta ton, dengan Indonesia sebagai produsen dan konsumen terbesar.
Melalui kepemimpinan baru ini, CPOPC menegaskan diri sebagai jembatan antara produsen dan konsumen, dengan semangat baru. CPOPC bakal mendorong narasi global yang lebih adil, berbasis sains, dan berpihak pada kesejahteraan petani kecil.
Mdm. Izzana Salleh menegaskan, narasi global tentang sawit tidak boleh hanya dikendalikan oleh negara konsumen. "Suara negara penghasil harus lebih kuat dari sebelumnya," tuturnya.
Izzana dikenal sebagai figur lintas sektor yang aktif dalam kebijakan publik, korporasi, dan advokasi global. Ia merupakan anggota Dewan Pengawas Malaysian Palm Oil Council (MPOC), pendiri RISE Human Capital, dan inisiator gerakan mentorship global Girls for Girls (G4G). Lulusan Harvard Kennedy School itu juga menekankan pentingnya kepercayaan publik yang dibangun dari data dan transparansi.
Baca juga : JK Tegaskan PMI Yang Diakui Negara Cuma Satu, Minta Agung Bikin Organisasi Lain
“Kami akan bangun kepercayaan lewat tanggung jawab bersama,” katanya.
Sementara itu, Dr. Musdhalifah Machmud yang memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di sektor agribisnis dan ketahanan pangan, menekankan bahwa keberlanjutan harus memberi dampak nyata bagi petani kecil.
“Kami ingin sawit yang bertanggung jawab diakui sebagai solusi iklim dan pangan dunia," tegasnya. Musdhalifah juga pernah menjadi Ketua Bersama FACT Dialogue yang digagas COP26 dan Inggris, serta berperan dalam perumusan berbagai kebijakan nasional terkait pangan dan energi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya