Dark/Light Mode

Pasokan Menumpuk, APBI Tolak Pembangunan Pabrik Ban Baru

Selasa, 3 Juni 2025 22:27 WIB
Aziz Pane. (Foto: Rakyat Merdeka)
Aziz Pane. (Foto: Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Asosiasi Produsen Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane mengatakan, industri ban dalam negeri sudah over supply. Karena itu, APBI menolak masuknya investor ban baru dari China.

Menurut dia, saat ini industri ban nasional telah dipenuhi oleh pabrik-pabrik multinasional, termasuk tiga pabrik asal China yang tengah bersiap memproduksi ban untuk kendaraan pertambangan serta truk dan bus. Investasi dari tiga pabrik tersebut diperkirakan mencapai hampir 2 miliar dolar AS.

“Jika ditambah lagi, industri ban dalam negeri akan mengalami kelebihan pasokan yang signifikan. Kita tidak ingin industri ini bernasib sama dengan industri tekstil dan sepatu yang terdampak over kapasitas,” kata Aziz, Selasa (3/6/2025).

Baca juga : Kunker Ke Papua Barat Daya, DPR Dorong Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan

Ia menambahkan, Indonesia perlu belajar dari pengalaman Thailand yang kini memiliki lebih dari 46 pabrik ban asal China yang ditujukan untuk pasar ekspor, terutama Amerika Serikat. Namun, akibat pemberlakuan tarif impor tinggi oleh pemerintahan Presiden Donald Trump, pabrik-pabrik di Thailand dan Vietnam kini mengalami over kapasitas, yang pada akhirnya berdampak pada pasar domestik mereka.

Menanggapi hal tersebut, APBI menyatakan penolakan terhadap investasi baru di sektor produksi ban. Sebagai alternatif, dia menyarankan agar investasi dari China diarahkan ke sektor hilirisasi karet lainnya yang dinilai lebih prospektif, seperti industri ban vulkanisir untuk pesawat terbang, dock fender, atau industri aspal berbasis karet untuk keperluan infrastruktur.

“Industri hilir seperti itu akan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” ujarnya.

Baca juga : Harlah ke-1, APWNU Dorong Terobosan Ekosistem Pertambangan Nasional

Dia juga mencatat bahwa meskipun China merupakan mitra dagang penting, negara tersebut hanya menjadi pasar ketiga terbesar untuk ekspor karet alam Indonesia, setelah Amerika Serikat dan Jepang. 

Selain itu, secara geografis, Thailand dan Vietnam lebih dekat China, sehingga biaya logistik menjadi lebih rendah, menjadikan kedua negara tersebut sebagai pemasok utama karet alam bagi pasar Tiongkok.

“Impor karet alam China dari Indonesia hanya sekitar 200 ribu ton per tahun, jauh di bawah volume impor dari Jepang dan Amerika Serikat,” jelasnya.

Baca juga : Nasabah PNM Mekaar Sulap 10 Ton Pakaian Lama

Sebelumnya, Indonesian China Business Council (ICBC) menggelar seminar bertema “Potensi Investasi Industri Ban di Indonesia” yang berlangsung di Hotel Swisbell, Kemayoran, Jakarta, belum lama ini. Acara dihadiri sejumlah pengusaha besar dari China, perwakilan Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), Asosiasi Produsen Ban Indonesia (APBI), serta pelaku industri lokal.

Delegasi China yang hadir dalam seminar tersebut menyambut baik masukan dari APBI dan Gapkindo. Mereka menyatakan akan mempertimbangkan peluang investasi di sektor industri pendukung ban atau bahan baku lain yang dinilai lebih menarik dan berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.