Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tensi Perang Dagang Dunia Menurun
Sektor Jasa Keuangan RI Kecipratan Dampak Positif
Senin, 9 Juni 2025 07:00 WIB
Sebelumnya
“Yang memungkinkan potensi-potensi ekonomi Indonesia lebih dioptimalkan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” tegas Mahendra.
Senada, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai, OJK telah mengambil sejumlah langkah strategis di tengah dinamika ekonomi global.
“Hal tersebut terus berkembang menjadi ujian besar bagi efektivitas pengawasan OJK, khususnya dalam menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah perubahan yang cepat,” kata Josua kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Josua menyebut adanya volatilitas pasar akibat ketidakpastian ekonomi global, risiko kredit yang tinggi akibat suku bunga yang masih naik turun, dan tensi geopolitik.
Baca juga : Agar Ekonomi Kembali Kuat Perhatikan Kelas Menengah
“Salah satu isu penting yang harus dikelola dengan hati-hati, adalah menjaga keseimbangan antara regulasi yang ketat dan kebutuhan inovasi di sektor keuangan,” imbaunya.
Kredit Perbankan Tumbuh
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, kinerja intermediasi perbankan dinilai stabil, dengan profil risiko yang terjaga. Di mana kredit tumbuh 8,88 persen yoy pada bulan April 2025 menjadi Rp 7.960,94 triliun.
Dian lalu membeberkan, berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi tumbuh tertinggi sebesar 15,86 persen, diikuti Kredit Konsumsi 8,97 persen. Sedangkan Kredit Modal Kerja tumbuh 4,62 persen yoy.
Baca juga : Orangtua Tidak Sekolahkan Anak Kudu Diganjar Sanksi
Dian memastikan, meski laju pertumbuhan kredit dalam beberapa bulan terakhir terus melambat, namun OJK belum melakukan revisi target pada tahun ini.
“Range-nya masih tetap di antara 9 hingga 11 persen pada 2025, dan pertumbuhan kredit sesuai dengan proyeksi OJK di awal tahun,” tegas mantan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) ini.
Dian mengatakan, perbankan memiliki kesempatan untuk merevisi target rencana bisnis pada akhir September 2025.
Salah satunya, dengan mempertimbangkan dinamika perekonomian dan industri perbankan.
Baca juga : Luna Maya, Jarang Serumah Dengan Maxime
“Khususnya, jika terdapat faktor-faktor yang mengakibatkan perlunya dilakukan penyesuaian,” ujar Dian.
Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio Non Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,24 persen dan NPL net 0,83 persen. Loan at Risk (LaR) juga relatif stabil, tercatat 9,92 persen.
Selanjutnya, ketahanan perbankan juga tetap kuat tercermin dari permodalan (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang berada di level tinggi sebesar 25,43 persen.
“Kondisi ini menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat, di tengah kondisi ketidakpastian global,” katanya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya