Dark/Light Mode

Tensi Perang Dagang Dunia Menurun

Sektor Jasa Keuangan RI Kecipratan Dampak Positif

Senin, 9 Juni 2025 07:00 WIB
Ketua Dewan Komisioner Oto­ritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar. (Foto: Dok. OJK)
Ketua Dewan Komisioner Oto­ritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar. (Foto: Dok. OJK)

 Sebelumnya 
“Yang memungkinkan potensi-potensi ekonomi Indo­nesia lebih dioptimalkan, untuk mendorong pertumbuhan eko­nomi nasional,” tegas Mahendra.

Senada, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai, OJK telah mengambil sejumlah langkah strategis di tengah dinamika ekonomi global.

“Hal tersebut terus berkem­bang menjadi ujian besar bagi efektivitas pengawasan OJK, khususnya dalam menjaga sta­bilitas sistem keuangan di tengah perubahan yang cepat,” kata Josua kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Josua menyebut adanya vola­tilitas pasar akibat ketidakpastian ekonomi global, risiko kredit yang tinggi akibat suku bunga yang ma­sih naik turun, dan tensi geopolitik.

Baca juga : Agar Ekonomi Kembali Kuat Perhatikan Kelas Menengah

“Salah satu isu penting yang harus dikelola dengan hati-hati, adalah menjaga keseimbangan antara regulasi yang ketat dan kebutuhan inovasi di sektor keuangan,” imbaunya.

Kredit Perbankan Tumbuh

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, kinerja intermediasi perbankan dinilai stabil, dengan profil risiko yang terjaga. Di mana kredit tumbuh 8,88 persen yoy pada bulan April 2025 menjadi Rp 7.960,94 triliun.

Dian lalu membeberkan, berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi tumbuh terting­gi sebesar 15,86 persen, diikuti Kredit Konsumsi 8,97 persen. Sedangkan Kredit Modal Kerja tumbuh 4,62 persen yoy.

Baca juga : Orangtua Tidak Sekolahkan Anak Kudu Diganjar Sanksi

Dian memastikan, meski laju pertumbuhan kredit dalam beberapa bulan terakhir terus melam­bat, namun OJK belum melaku­kan revisi target pada tahun ini.

Range-nya masih tetap di an­tara 9 hingga 11 persen pada 2025, dan pertumbuhan kredit sesuai dengan proyeksi OJK di awal ta­hun,” tegas mantan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) ini.

Dian mengatakan, perbankan memiliki kesempatan untuk merevisi target rencana bisnis pada akhir September 2025.

Salah satunya, dengan mem­pertimbangkan dinamika pereko­nomian dan industri perbankan.

Baca juga : Luna Maya, Jarang Serumah Dengan Maxime

“Khususnya, jika terdapat faktor-faktor yang mengakibat­kan perlunya dilakukan penye­suaian,” ujar Dian.

Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio Non Per­forming Loan (NPL) gross sebe­sar 2,24 persen dan NPL net 0,83 persen. Loan at Risk (LaR) juga relatif stabil, tercatat 9,92 persen.

Selanjutnya, ketahanan per­bankan juga tetap kuat tercermin dari permodalan (Capital Ade­quacy Ratio/CAR) yang berada di level tinggi sebesar 25,43 persen.

“Kondisi ini menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat, di tengah kondisi ketidakpastian global,” katanya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.