Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pengering Ikan Asin Portabel Berbasis IoT Bertenaga Surya untuk SDGs & Perikanan
Sabtu, 12 Juli 2025 20:58 WIB
Masalah Klasik di Pesisir
Indonesia, dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki kekayaan alam yang luar biasa, terutama di sektor laut (Potensi Laut Indonesia: Menuju Status Negara Maritim Besar, 2023). Ikan asin adalah salah satu olahan makanan laut yang populer. Namun, proses pengeringan ikan yang dilakukan nelayan masih secara tradisional dengan cara mengeringkan ikan menggunakan sinar matahari (Maria, 2013). Metode ini sangat bergantung pada cuaca dan kurang higienis karena produk terbuka terhadap debu, serangga, dan polusi.
Masalah ini semakin terasa saat musim hujan atau mendung berkepanjangan. Dalam wawancara yang dilakukan penulis dengan seorang pengrajin ikan asin di Desa Kronjo, Banten.
Gambar 1. Wawancara dengan Ibu SariIbu Sari mengungkapkan, “Kalau cuaca mendung dua hari saja, ikan bisa gagal semua. Sayang banget, kadang rugi sampai ratusan ribu. Kadang sudah capek-capek, malah enggak bisa kering”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengeringan tradisional sangat rentan terhadap cuaca, dan berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi bagi pengrajin lokal.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko pembusukan dan kontaminasi bakteri, yang tidak hanya mengurangi mutu produk, tetapi juga mengancam ketahanan pangan masyarakat lokal. Selain itu, keterbatasan listrik di wilayah pesisir menjadi tantangan tambahan dalam menciptakan solusi berbasis teknologi.
Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi teknologi tepat guna yang portabel, ramah lingkungan, dan efisien. Penggunaan Internet of Things (IoT) dalam proses pengeringan digunakan untuk mengontrol dan memantau dari jarak jauh, sedangkan panel surya memberikan daya yang sesuai untuk daerah minim infrastruktur. Artikel ini membahas pengembangan alat pengering ikan asin portabel berbasis IoT dan energi surya serta dampaknya terhadap aspek sosial dan lingkungan sesuai prinsip Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Solusi Cerdas dari Teknologi: Pengering Ikan Tenaga Surya dan IoT
Sebagai solusi, dikembangkan alat pengering ikan asin portabel berbasis Internet of Things (IoT) bertenaga surya untuk mendukung SDGs dan perikanan berkelanjutan. Alat ini bekerja secara otomatis dan sumber daya tanpa bantuan listrik PLN.
Rangka alat dibuat dari aluminium ringan berukuran sekitar 60x40x40 cm, dirancang agar mudah dipindahkan dan menjaga ikan tetap terlindungi dari debu maupun serangga. Di dalamnya, terdapat:
- Elemen pemanas listrik untuk meningkatkan suhu pengering.
- Kipas DC untuk menyebarkan panas secara merata.
- Sensor suhu dan kelembapan dikendalikan oleh mikrokontroler ESP32.
- Sistem IoT yang memantau suhu dan kelembapan via Telegram Bot.
- Lampu UV-C yang dapat membunuh bakteri dan mikroorganisme berbahaya.
- Energi utama dari panel surya 12V dan disimpan didalam aki.
Bagaimana Cara Kerja Alat Ini?
Baca juga : Update Perang Iran vs Israel, Evakuasi WNI Hingga Kabar Gencatan Senjata
Gambar 2. Flowchart Cara Kerja Alat
Proses dimulai setelah ikan asin dimasukkan ke dalam alat. Sensor suhu dan kelembapan aktif secara otomatis dan dibaca oleh mikrokontroler ESP32. Pengguna dapat memantau kondisi pengeringan secara real-time dengan ponsel mereka karena semua data langsung dikirim ke Telegram Bot. Untuk memastikan udara panas tersebar merata di seluruh area, elemen pemanas dan kipas dihidupkan secara bersamaan jika suhu masih terlalu rendah. Jika suhu cukup tinggi, pemanas akan mati untuk menghemat daya, tetapi kipas tetap menyala untuk menjaga sirkulasi. Setelah suhu dan kelembapan stabil, lampu UV-C dihidupkan untuk sterilisasi. Setelah ikan asin kering dan bersih, produk siap dikemas dan dijual.
Hasil Uji Coba: Efektifkah Alat Ini?
Pengujian alat ini diuji coba di Desa Kronjo, Banten dengan cara membandingkan metode tradisional dan metode inovasi. Tujuannya adalah membandingkan secara langsung efektivitas metode tradisional (penjemuran di bawah sinar matahari) dengan alat inovatif portabel berbasis IoT dan tenaga surya dalam proses pengeringan ikan asin. Berikut adalah hasil uji coba yang diperoleh:
Metode | Waktu (jam) | Suhu (°C) | Kelembapan (%) | Hasil |
Baca juga : PKB Bertekad Bisa Juarai Pemilu 2029 Tradisional | 12 Jam | 30-40°C | 50-70% | Kering Tidak Merata dan Kurang Higienis |
Inovasi | 8 Jam | 50-60°C | <40% | Baca juga : Geopolitik Berubah, RI Berpeluang Maju Kering Merata dan Higienis |
Berdasarkan hasil uji coba, alat pengering ikan asin portabel berbasis IoT dan tenaga surya terbukti mampu mempercepat waktu pengeringan hingga 33% dibandingkan metode tradisional. Hal ini dipengaruhi sistem pemanas dan sirkulasi udara yang lebih stabil dan efisien. Alat ini mampu menaikkan suhu secara serta mempertahankan kelembapan di bawah 40%, yang merupakan kondisi baik untuk proses pengeringan ikan. Hasil akhir menunjukkan bahwa produk ikan asin yang dihasilkan lebih higienis, dan kering merata. Inovasi ini tidak hanya menghemat waktu dan tenaga, tetapi juga meningkatkan kualitas dan nilai jual produk.
Manfaat Bagi Lingkungan dan Ekonomi Lokal
Teknologi ini mendukung pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), di antaranya:
- Poin 2 (Zero Hunger): Ketahanan pangan melalui peningkatan kualitas produk ikan asin.
- Poin 7 (Affordable and Clean Energy): Energi bersih dan terjangkau melalui penggunaan tenaga surya.
- Poin 14 (Life Below Water: Menjaga ekosistem laut dengan meminimalkan limbah hasil laut yang terbuang.
Tidak hanya ramah lingkungan, inovasi ini juga meningkatkan efisiensi serta menjaga kebersihan produk, mengurangi ketergantungan pada kondisi cuaca maupun listrik konvensional, meningkatkan nilai jual produk hasil laut, dan mendukung transisi energi bersih dan teknologi tepat guna.
Teknologi dari Desa, untuk Masa Depan
Kita tidak harus menunggu solusi dari kota besar. Justru, inovasi dari pesisir seperti alat pengering ikan asin portabel ini bisa membawa perubahan nyata. Teknologi ini bukan hanya soal alat, tapi soal harapan bagi keluarga nelayan untuk hidup lebih layak, mandiri, dan berdaya. Dengan alat ini, masyarakat pesisir bisa lebih siap menghadapi tantangan cuaca, sekaligus menjadi bagian dari masa depan yang berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Maria. (2013). Pengembangan Alat Pengering Ikan. MAJALAH BIAM Vol. 9 No. 1, 1-6.
Potensi Laut Indonesia: Menuju Status Negara Maritim Besar. (2023, Juli 7). Diperoleh dari IBEKA: Inisiatif Bisnis Ekonomi Kerakyatan: https://ibeka.or.id/potensi-laut-indonesia-menuju-status-negara-maritim-besar/
Cantika Tri Zahra
MAN 4 Tangerang
MAN 4 Tangerang
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya